Lima Program CSR DSLNG Sukses Renggut Kemiskinan

oleh
FOTO : Humas DSLNG

Kala itu, Iswanto mengaku sedikit galau dengan nasibnya. Predikat S1 Jurusan Pertanian yang diraihnya di Universitas Tompotika Luwuk, sepertinya belum bisa memberikan arti apa-apa untuk mengembangkan hasil pertanian di tanah kelahirannya, Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai.

Ia sudah berupaya semampunya untuk menerapkan ilmu-ilmu yang didapatkan semasa kuliah, namun tak jua berbuah hasil, apalagi bisa menjadi petani sukses.

Beberapa kali dirinya mengalami kesulitan dalam pemasaran, kerugian tak jarang terjadi karena mainan tengkulak, ditambah lagi serangan hama dan modal pembibitan juga sangat sulit.

Semua itu dilakoninya atas kesadaran sebagai pemuda yang lahir dan besar dari lingkungan pertanian. Ia melihat, ahir-akhir ini profesi pertanian sudah mulai ditinggalkan oleh generasi muda.

Cabai jenis Gorontalo yang hampir dinikmati, justru terancam gagal panen, bukan karena pengelolaan atau perawatan yang kurang, tapi karena pengaruh cuaca yang sudah hampir sebulan tidak bersahabat dengan selera tanaman cabainya.

Sebelum akhirnya ia mengenal DSLNG, sebuah perusahaan migas yang beraktivitas tak jauh dari tanah kelahirannya.

Berangkat dari “perkenalan” itu, maka pada tanggal 4 Agustus 2017, dirinya bersama anak muda lain membentuk satu kelompok tani. Dari situ mereka mendapat intervensi dari PT. DSLNG berupa pelatihan sakau dan holtikultura  yang dilaksanakan sebanyak 10 kali pertemuan.

Sejak terbentuk 4 Agustus itu, kelompoknya hanya memiliki anggota 20 orang yang seluruhnya merupakan anak-anak muda. Namun hingga saat ini hanya 15 yang aktif.

Dari sejumlah kelompok tani yang ada, Kelompok Tani Binautan yang diketuainya, kini telah dinobatkan sebagai percontohan oleh PT. DSLNG, karena prestasinya.

Ketua kelompok tani Binautan Binaan Program CSR Donggi Senoro LNG, Iswanto (FOTO : MAL/YAMIN)

Iswanto yang ditemui di kebun cabainya, belum lama ini, bercerita banyak tentang suka dan duka menjadi petani serta peran serta PT. DSLNG dalam memajukan perekonomian petani di daerah mereka.

“Kami anggota kelompok dilatih oleh DSLNG terkait bidang pertanian, termasuk juga cara pembuatan pupuk organik cair,” akunya.

Sejak itu, hasil pertanian mereka terus melonjak, tidak tanggung-tanggung dalam tiga bulan bisa menghasilkan 30 sampai 40 Kilogram, dari 700 pohon cabai yang mengisi lahan seluas 1 hektare.

Merekapun tidak kesulitan lagi memasarkan, karena PT. DSLNG melalui program Corporate Sosial Responbility (CSR) sudah menyiapkan stocking point di Desa Kalolos, Kecamatan Kintom.

Stocking point merupakan lembaga kooperasi pertanian yang khusus membeli produksi petani binaan  atau mitra CSR PT. DSLNG.

“Bertani sangat menjanjikan secara ekonomi, asal serius menjalaninya,” katanya

Program CSR secara tidak langsung dinilai dapat membantu bahkan memperkuat program-program pemerintah yang memiliki keterbatasan. Ada potensi besar untuk anggaran CSR dari perusahaan swasta dan negara yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan dan pembangunan sosial.

CSR adalah tanggungjawab sosial perusahaan adalah konsep yang mengatur dan membantu perusahaan dalam tanggunjawab secara sosial kepada pemangku kepentingan publik.

Selama ini program CSR telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi pembangunan sosial di Indonesia. Sejumlah indtri telah menyalurkan danb CSR untuk pembangunan infrastruktur, pembangunan sosial dan pengembangan masyarakat di pedesaan.

Untuk PT Donggi Senoro Liquid Naturan Gas (DSLNG) memiliki lima program untuk mengsejahterakan warga lingkar perusahaan. Program tersebut sebagai bentuk tanggungjawab sosial perusahaan dalam memperkuat desa.

“Menjadikan desa di sekitar kilang Donggi Senoro LNG sebagai desa percontohan pembangunan desa mandiri yang tangguh secara ekonomi, terpeliharanya perdamaian dan tangguh bencana,” ujar CSR Manager PT DSLNG, Pandit Pranggana, baru-baru ini di Banggai.

Jurus yang dimaksud yakni, program pemberdayaan ekonomi,   pendidikan,  kesehatan,  lingkungan dan infrastruktur publik. Kegiatan tersebut dijalankan dalam program Corporate Sosial Responbility (CSR).

Untuk Program Pemberdayaan Ekonomi, DSLNG bergerak meningkatkan penghidupan dan kemajuan ekonomi masyarakat setempat menuju kemandirian lokal. Yang mana, hal tersebut dilakukan bersama dengan masyarakat mengimplementasikan program pengembangan ekonomi lokal berdasarkan mata pencaharian setempat. Dan juga program penghidupan berkelanjutan dan pengembangan ekonomi sektor pertanian, nelayan dan keuangan mikro.

Tiga koperasi saat ini tumbuh subur adalah, koperasi simpan pinjam Posaanguan Boune Banggai, dengan 180 anggota koperasi. Koperasi Pertanian Mompasaangu Tanga Nulipu dengan 44 anggota koperasi. Koperasi Perikanan Mitra Bahari Bakinbo dengan 32 anggota koperasi.

“Koperasi perikanan Mitra Bahari Bakindo merupakan salah satu koperasi di Kabupaten Banggai yang mendapatkan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bantuan dijadwalkan akan didistribusikan tahun ini,” katanya.

Berdasarkan fakta yang ada, hingga saat ini, lebih banyak perempuan dan anak-anak yang terlibat dalam program menabung dan pembiayaan keluarga mikro. Selain itu, lebih banyak kelompok pemuda yang berpartisipasi dan mendapatkan manfaat dari kegiatan pertanian termasuk pelatihan, budidaya, dan pengelolaan tanaman.

“Di sektor pertanian, masyarakat di Desa Honbola, Kecamatan Batui, dan Desa Dimpalon, Kecamatan Kintom, didorong untuk memanfaatkan lahan non produktif untuk tanaman sayur mayur. Usaha budidaya air tawar juga diperkenalkan kepada masyarakat di Kecamatan Batui dan Kintom,” terangnya.

Kemudian, Asosiasi Pelaku Usaha Mikro (ASPUM) dengan 33 anggota, untuk pemasaran produk memanfaatkan anggota. ASPUM juga telah menjalin kerjasama dengan salah satu swalayan ternama di Kota Luwuk dan saat ini sedang dalam proses untuk membuka Outlet ASPUM di Bandara Syukuran Amminuddin Amir.

Sementara komoditas fokus pertanian adalah cabai, hingga Juli penjualan cabai mencapai 19 ton dengan nilai IDR 500M, masih ada beberapa lagi seperti program penguatan desa mandiri.

Untuk Program pendidikan, Donggi Senoro LNG membantu akses dan kualitas pendidikan dasar masyarakat setempat dengan memperluas akses anak-anak usia sekolah melalui perpustakaan di pusat komunitas (CSR Center). Untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dibuka kelas ekskul bahasa inggris untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris khususnya di SMU 1 Batui.

Selain itu, DSLNG juga bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (ITB) untuk memberikan beasiswa bagi pelajar setempat.

“Sejauh ini ada lima siswa terbaik dari kecamatan yang saat ini menjalani pendidikan tinggi. Mereka diharapkan menjadi pemimpin masa depan yang akan membangun Kabupaten Banggai sesuai kemampuannya,” katanya.

Selain itu, di sektor pendidikan non formal DSLNG juga menjalin kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banggai dan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) untuk melaksanakan program pelatihan kejuruan.

Kemitraan itu dilakukan sejak April 2014, yang bekerja sama dengan Loka Latihan Kerja Usaha Kecil Menengah (LLK UKM) Luwuk dan Balai Latihan Kerja (BLK) Palu. Sasarannya adalah kelompok muda potensial di desa-desa dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan warga sebagai pekerja atau wirausaha.

“Kami telah melakukan pelatihan kejuruan simultan untuk pengelasan, otomotif, menjahit, dan teknik elektro. Pelatihan ini sukses dan membawa perspetktif baru bekerja untuk peserta,” tambahnya.

DSLNG juga berkomitmen mendukung Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). Salah satu buktinya telah mengirimkan pengajar muda untuk mendidik di lokasi-lokasi terpencil, termasuk di beberapa desa di Kabupaten Banggai.

Tidak hanya terfokus di Kecamatan Batui, DSLNG juga melaksanakan program CSR untuk pendidikan itu di Kecamatan Kintom dan Nambo, dengan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Banggai, memberikan beasiswa bagi siswa-siswi berprestasi dan kurang mampu, mulai dari tingkat dasar, menengah hingga atas. Dari tiga daerah itu masing-masing 50 di tingkat dasar, 50 tingkat menengah dan 50 tingkat atas. Pemantauan beasiswa yang dimulai sejak tahun 2018 tersebut dilakukan setiap enam bulan.

Pandit menjelaskan, untuk program kesehatan, pihak membantu akses masyarakat terhadap pelayanan dasar kesehatan. Salah satu aktivitas dalam program kesehatan masyarakat adalah kampanye pemberantasan Malaria, di Kabupaten Banggai termasuk wilayah endemik Malaria. Program itu sejalan dengan tujuan pembangunan milenium yaitu pemberantasan penyakit menular.

Khusus, aktivitas yang terkait dengan program kesehatan ibu dan anak, antara lain peningkatan gizi dan kesehatan ibu hamil dan posyandu.

“Program Intervensi Gizi Spesifik, capaian penerima manfaatnya 2018-2019 13 Balita kurang gizi dan 9 Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) melalui pendampingan rutin, pemberian makanan tambahan melalui kader kesehatan. Untuk Program pelatihan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, ditahun yang sama 20 tenaga kesehatan Puskesmas Kintom dan 20 Tenaga Kesehatan Puskesmas Batui,” katanya.

Pada Program Lingkungan, DSLNG mendukung Perlindungan Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan yang Lestari serta Konservasi Berbasis Masyarakat. salah satunya adalah membangun fasilitas ex situ untuk konservasi Maleo yang dibangun di dekat lokasi proyek, diresmikan pada 5 Juni 2013, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup.

“Sejak tahun 2018 hingga 2019 sudah tiga pelepasliaran anakan maleo dengan total 52 Anakan. Sehingga total Jumlah Anakan yang dilepasliarkan dari Tahun 2013 hingga saat ini adalah 100 Anakan. Total jumlah Pengunjung Maleo center dari tahun 2013 hingga April 2019 sebesar 593 orang,” rincinya.

“Melalui konservasi ex situ ini diharapkan populasi burung khas Sulawesi yang terancam punah ini bisa ditingkatkan. Aktivitas rehabilitasi terumbu karang diarahkan untuk membantu pemulihan kondisi ekosistem terumbu karang yang rusak akibat penggunaan bom ikan,” tambahnya.

Jurus terakhir adalah Program Infrastruktur Publik, yang dilaksanakan untuk meningkatnya pengunaan dan akses fasilitas umum yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Hal yang dimaksud adalah perbaikan jalan di ruas Luwuk-Toili yang dilakukan sejak Desember 2013 untuk memperlancar aktivitas masyarakat. Perbaikan jalan sepanjang 30.77 kilometer tersebut sesuai kesepakatan yang ditandatangani dengan Pemerintah Provinsi Sulteng pada Maret 2013 lalu.

“DSLNG melaksanakan perbaikan jalan di tiga segmen, yaitu ruas Tangkian-Tolitan, ruas Uso-Noge, dan ruas Unit II-Uwemea. Perbaikan ketiga segmen dengan total 30.77 kilometer ini dilaksanakan secara bertahap, dan hingga saat ini telah dinikmati oleh masyarakat. Selain itu juga dibangun Kios UKM di Ruang terbuka hijau di Teluk Lalong Luwuk 15 Kios UKM,” tandasnya. (YAMIN)