Lembaga Pendidikan, Solusi Mewariskan Nilai-nilai Kebangsaan

oleh
Ketua FKUB Sulteng, Prof. Zainal Abidin saat menjadi narasumber, Foto : Ist

PALU – Sekat-sekat  antar Negara, menggiring masyarakat dunia pada tatanan nilai-nilai global,  yang pada gilirannya mengikis nilai-nilai budaya bangsa.

” Untuk itu solusi terbaik dalam memelihara dan mewariskan nilai-nilai kebangsaan pada generasi muda adalah melalui lembaga pendidikan, ” papar Ketua Forum Kerukunan Umat Baragama (FKUB), Prof. Zainal Abidin, saat menjadi narasumber “Orientasi wawasan kebangsaan bagi guru agama Hindu, di Swiss Bell Hotel Palu, Rabu (4/9)..

Ia mengatakan, proses internalisasi nilai-nilai kebangsaan dalam pendidikan hendaknya diubah dari model sosialisasi dan pembelajaran yang terpusat pada guru, menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.

“Melalui pembelajaran partisipatoris dan dialogis yang memberi ruang kebebasan bagi peserta didik untuk berpikir dan bersikap kritis, kreatif dan solutif pada akhirnya akan berdampak pada kualitas demokrasi dan wawasan kebangsaan peserta didik, ” jelasnya.

Dia menambahkan, lembaga pendidikan harus berperan sebagai laboratorium bagi penyegaran nilai-nilai kebangsaan dan penyemaian demokrasi yang berkeadaban dan bermartabat untuk Indonesia yang mandiri secara politik, ekonomi serta berkepribadian kuat.

Menurutnya, semangat kebangsaan  menjadi modal sosio-kultural warga Nusantara dalam membebaskan diri dari belenggu penjajahan, hingga merdeka.

“Nilai kebangsaan memiliki peranan sangat penting dalam membentuk Nasionalisme dan Patriotisme,”  kata Ustad Zainal Abidin.

 

Intisari dari nilai kebangsaan diterjemahkan dalam lima sila, sekaligus sebagai idealogi dan dasar Negara meliputi, nilai religiulitas, kekeluargaan dan humanisme, keselarasan dan  persatuan, kerakyatan (demokrasi) dan nilai keadilan.

Ia mengatakan, sejumlah kalangan menilai bahwa nasionalisme pemuda mulai luntur dan pudar. Ini merupakan indikator melemahnya nilai-nilai kebangsaan  di kalangan Pemuda.

Ironisnya lagi, kata dia, saat ini tingkat  Perhatian para pemuda pada bangsa sangatlah rendah. Mereka sangat opportunis, terhadap persoalan yang menyangkut bangsa Indonesia, dengan lebih mementingkan suku ras maupun kelompok tertentu. (Ikram)