Legislator Poso Minta TNI Ambil Alih Perburuan MIT

oleh
Foto; BenarNews

POSO – Operasi pengejaran sisa kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) jaringan Santoso alias Abu Wardah di Kabupaten Poso, tak kunjung usai. Pengejaran oleh aparat kepolisian terhadap 10 Daftar Pencarian Orang (DPO) yang saat ini di bawah pimpinan Ali Kalora, dianggap berlarut.

Menyikapi hal tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Poso, Muhaimin Yunus Hadi, mendesak pihak TNI agar segera mengambil alih operasi pengejaran Ali Kalora Cs.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) yang ditemui di ruang kerjanya, Selasa (08/01), mengatakan, desakan itu merupakan suara warga Poso.

Dia menilai, kendali operasi penuntasan kelompok teroris di Poso yang selama ini dikendalikan unsur Polri melalui Operasi Aman Tinombala belum maksimal, sehingga hasilnya bukannya mengurangi jumlah DPO, tetapi malah bertambah dari tujuh menjadi 10 orang.

“Dalam kondisi seperti ini, TNI harus ambil alih operasi. Ini merupakan suara dari warga Poso. Karena saya wakil rakyat, maka saya harus menyuarakan, dengan harapan Poso secepatnya terbebas dari kelompok teroris,” tegasnya.

Muhaimin menjelaskan, suara warga Poso bukan tanpa alasan, sebab berlarut-larutnya penyelesaian kelompok teroris itu, secara langsung berdampak pada meningkatnya angka pengangguran di Poso.

Menurutnya, sejak pelaksanaan operasi perburuan teroris, mulai dari operasi Camar Maleo, Operasi Tinombala, hingga Operasi Aman Tinombala 2018, ribuan warga, khususnya petani yang bermukim di area operasi, seperti Kecamatan Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara dan Lore Bersaudara, dilarang beraktifitas di kebun dengan alasan keamanan.

“Kalau operasi tidak selesai, kapan Poso bisa maju. Ekonomi akan terus terpuruk, bahkan kemiskinan akan meningkat akibat aktivitas sebagian warga yang dibatasi aparat,” tambah legislator yang duduk di Bidang Ekonomi dan Pembangunan itu.

Sebelumnya, pihak Polres Poso membenarkan bahwa jumlah DPO telah bertambah menjadi 10 orang. Lokasi persembunyian dipastikan masih beradai di wilayah pegunungan, antara Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.

Ke-10 DPO itu, yakni Ali Kalora, Kholid, Basir alias Romsi, Abu Alim, Nae alias Galuh, Qatar alias Farel, Muhammad Faizal alias Nunung dan tiga DPO baru Rajif Gandi alias Rajes, Aditya alias Idad serta Alhaji Kaliki. (MANSUR)

loading...