Kota Palu Siaga Difteri

oleh
Aksi peduli kesehatan dan pencegahan Difteri di Anjungan Nusantara Pantai Talise, pekan lalu. (FOTO: MAL/HAMID)

PALU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu mengajak warga untuk berperilaku hidup sehat dalam rangka mencegah penyakit Difteri yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh.

Difteri sendiri merupakan infeksi menular yang disebabkan bakteri Corynebacterium Diptheriae. Gejalanya berupa sakit tenggorokan, demam, dan terbentuknya lapisan di amandel dan tenggorokan. Dalam kasus yang parah, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf.

Oleh Menteri Kesehatan, penyebaran penyakit ini telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena sudah mewabah di 20 daerah yang ada di Indonesia.

“Meskipun Kota Palu tidak termasuk dalam 20 daerah ini, namun kita perlu mewaspadainya. Semua masyarakat harus tahu apa itu penyakit Difteri dan mengapa 1 kasus saja sudah dianggap luar biasa karena jenis penyakit ini menular,” kata Kepala Dinkes Kota Palu,  Royke Abraham, saat menggelar aksi peduli kesehatan dan pencegahan Difteri di Anjungan Nusantara Pantai Talise, pekan lalu.

Aksi itu melibatkan ratusan orang yang berasal dari sejumlah organisasi, seperti dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) serta sejumlah Ormas lainnya, dengan membagi 1000 brosur pencegahan Difteri dan penyuluhan.

“Penyakit ini bisa menyebabkan kematian karena ada racun yang sangat berbahaya bisa menyebabkan gangguan pernafasan. Penyakit ini biasa menyerang pada balita dan anak dibawah 19 tahun. Jarang, tapi bisa juga menyerang orang dewasa,” katanya.

Royke menyarankan kepada para ibu yang memiliki anak agar rajin membawa anaknya ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi.

Kata dia, pihaknya juga akan melakukan imunisasi di SD untuk memberikan kekebalan tubuh kepada anak.

Data Kemenkes menunjukkan, sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten/kota di 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia.

Pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. (HAMID)