KLS Tambah Pojok Baca di Desa Walatana Sigi

oleh
Pengurus Kampung Literasi Sigi bersama anak-anak binaan di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Ahad (6/1)(FOTO: dok KLS)

PALU – Pengurus Kampung Literasi Sigi (KLS) membentuk tiga pojok baca mandiri di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Ahad (06/01). Bulan Oktober lalu, telah ada satu pojok baca di desa tersebut dan telah dimanfaatkan anak-anak korban bencana alam.
Pojok baca pertama berada di Dusun 1 dengan nama As-Syifa. Pojok ini dibina oleh sepuluh pendamping program yang terdiri dari pelajar SMP dan SMA. Jumlah anak-anak yang dibina sebanyak 75 orang usia TK dan SD.
Pembina Kampung Literasi Sigi, Mahadin, Senin (07/01), menyampaikan, nama pojok ini memberi harapan agar seluruh masyarakat, khususnya anak-anak yang rajin membaca agar bisa mendapatkan kesembuhan dari ketidaktahuan. Pojok baca As-Syifa dikoordinir oleh Widad dengan program harian belajar sambil bermain, mengaji, membaca dan klinik PR.
Mantan Ketua HMI Cabang Palu itu menambahkan, pojok baca kedua dibentuk di dusun 2 dengan nama pojok baca Mutiara. Pojok baca kedua itu memiliki delapan pendamping program dan membina 20 anak yang beraktivitas di sekitar pojok baca tersebut.
“Dengan adanya pojok baca ini, anak-anak ke depan bisa menjadi mutiara yang berkilau karena memiliki wawasan pengetahuan yang luas,” harapnya.
Lanjut dia, pojok baca ketiga dibentuk di dusun 4 dengan nama Sidio Indah
“Selama ini kami sudah membina sekitar 25 anak yang belajar mengaji setiap hari. Insya Allah dengan adanya bantuan buku Majalah Anak Muslim ini bisa menambah kegiatan kami dengan membaca buku,” tambahnya.
Dia mengucapkan terima kasih kepada pengurus Kampung Literasi Sigi yang telah memberikan buku-buku untuk pembinaan minat baca anak-anak.
Di kesempatan yang sama, Pengurus Kampung Literasi Sigi, Lisnawati, menjelaskan, pembentukan pojok baca itu adalah program literasi untuk mendekatkan anak-anak dengan buku. Jika fasilitas seperti buku-buku sudah tersedia banyak, maka secara otomatis motivasi anak-anak untuk membaca itu semakin meningkat. Sebaliknya, tanpa buku, minat baca anak-anak tidak akan bisa diukur.
“Oleh karena itu, kami berharap kedepan kami bisa bermitra dengan lembaga manapun atau siapa saja untuk bantuan fasilitas pojok baca, termasuk rak dan buku- bukunya,” tandas mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Palu itu. (YAMIN)

loading...