Kisah Hawa Nafsu yang Membangkang

oleh
Ilustrasi Hawa Nafsu

Saat menciptakan hawa nafsu, terjadi dialog antara Sang Pencipta dengan makhluk ciptaannya itu. Kala itu, hawa nafsu ditanya oleh Allah “Siapakah engkau, dan siapakah Aku? tanya Allah.

Dengan enteng hawa nafsu menjawab, “Saya adalah saya, kamu adalah kamu,”.

Mendengar jawaban bernada sombong tersebut, Allah SWT memerintahkan malaikat menghukum hawa nafsu dalam hawa yang sangat panas selama seribu tahun. Setelah masa hukuman selesai, hawa nafsu ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama, jawabannya juga tetap sama. Hawa nafsu kembali digiring dalam hawa yang sangat dingin selama seribu tahun.

Usai menjalani masa hukuman, hawa nafsu ditanyai lagi, dan jawabannya masih tetap sama, akhirnya Allah menghukum dengan rasa lapar dan haus selama seribu tahun. Barulah kemudian hawa nafsu menyerah dan mengakui bahwa dirinya hanyalah hamba.

“Anta Rabbi wa ana abdi (Engkau Tuhanku dan saya hamba),” jawabnya.

Kisah ini disampaikan Ustadz Husen Salim Bachmid saat menjadi penceramah Shalat Tarawih di Masjid Raya Baiturrahim Lolu, Kota Palu, Rabu malam.

Makanya, kata dia, haus dan laparlah satu-satunya cara untuk menaklukan hawa nafsu, dan ibadah  puasa yang diperintahkan Allah SWT merupakan sarana yang diberikan Allah kepada ummat Nabi Muhammad SAW untuk menaklukan hawa nafsu.

Rasulullah usai perang Badar menyebutkan “Kita baru saja selesai melakukan perang kecil dan kita akan bersiap perang yang lebih besar lagi yakni  perang melawan hawa nafsu”.

Ustadz Husen juga mengutip hadits yang menyebutkan, “Sesungguhnya Allah SWT membuka tujuh petala langit sehingga tidak ada hijab antara ummat Muhammad dengan Rabb-nya dan doa-doa ummat Muhammad yang sedang berpuasa langsung diterima oleh Allah SWT.

“Doanya orang yang berpuasa tidak akan ditolak oleh Allah SWT,” katanya.

Ustadz juga menyampaikan keistimewaan lain bulan Ramadhan, dimana Allah SWT memerintahkan malaikat pencatat kebaikan untuk menulis dan melipatgandakan pahala ummat Muhammad meski itu baru sebatas niat. Sebaliknya, malaikat pencatat keburukan diminta tidak mencatat keburukan ummat Muhammad sampai dia bertaubat.

“Dan kalau tetap tidak bertaubat barulah dicatat satu keburukan padanya,” jelasnya.

Maka, kata dia, amat merugilah orang yang telah diberikan kesempatan bertemu dengan Ramadhan, lalu menyia-nyiakan kesempatan itu.

Ramadhan juga bulan Alqur’an, kata dia. Sebagaimana Firman Allah SWT. Ketahuilah bahwa Aku telah berikan pada Engkau dan Ummatmu 7 ayat yang diulang-ulang dalam Alqur’an. Demi keagungan dan kemuliaanKu ketahuilah apabila ada diantara ummatmu membaca salah satu ayat-ayatku, aku ampuni semua dosa-dosanya, walaupun dosa-dosanya itu sebanyak buih di lautan”. (IWANLAKI)