Kemenag Sulteng Kembangkan Kompetensi Guru PAI dan Pengawas se Sulteng

oleh
Kepala Kanwil Kemenag Sulteng, H. Rusman Langke saat membuka kegiatan workshop kompetensi guru PAI tingkat TK/PAUD dan pengawas Tahun anggaran 2019, di salah satu hotel di Kota Palu, Selasa (06/08) (FOTO : MAL/YAMIN)

PALU – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulteng melalui Bidang  Pendidikan Keagamaan Islam  (Pakis) melaksanakan  workshop kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Taman Kanak-kanan (TK)/ Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan pengawas Tahun anggaran 2019, di salah satu hotel di Kota Palu, Selasa (06/08).

Peserta workshop itu berjumlah 30 orang. Terdiri dari Kota Palu lima orang, Donggala tiga orang, Sigi tiga orang, Parigi Moutong tiga orang, Poso tiga orang, Tojo Unauna dua orang, Morowali dua orang, Morowali Utara dua orang, Banggai dua orang, Tolitoli dua orang, Buol dua orang, Banggai Kepulauan satu orang,  dan Banggai Laut satu orang.

Ketua Panitia, Nurhayati  melaporkan kegiatan itu akan dilaksanakan mulai Selasa 6 sampai 8 Agustus 2019, yang menghadirkan narasumber  pejabat di lingkungan Kanwil kemenag Sulteng, pakar pendidikan Diknas  dan guru inti Nasional yang memiliki sertifikat keahlian.

Dia menyampaikan, output kegiatan itu untuk tersosialisasinya program pengembangan keprofesian berkelanjutan guru PAI se Sulteng. Kemudian guru PAI dapat mengetahui kekurangan atas kompetensi yang seharusnya dimilikinya.

Peserta workshop kompetensi guru PAI tingkat TK/PAUD dan pengawas Tahun anggaran 2019, di salah satu hotel di Kota Palu, Selasa (06/08) (FOTO : MAL/YAMIN)

Kepala Kanwil Kemenag Sulteng. H. Rusman Langke dalam arahannya menyampaikan tenaga pendidik dan kepenmdidikan sangat strategis dalam upaya dalam membentuk karakter dan kualitas bagi generasi bangsa.

“Pertama saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya pada Bidang Pakis karena program ini adalah salah satu program yang sangat strategis dan positif dalam rangka peningkatan kualitas bagi para tenaga pendidik dan kependidikan,” katanya.

Kakanwil mengatakan, berbicara soal pendidikan tidak ada habis-habisnya. Ketika manusia baru lahir, orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anaknya,  bahkan sejak dalam kandungan.

“Dalam ajaran agama kita sudah dianjurkan  bagaimana cara kita untuk memberikan bimbingan dan kependidikan  pada anak-anak yang masih dalam kandungan.  Saya yakin dan percaya bahwa itu semua yang biasanya kita berikan kepada siswa dan siswi kita,” katanya.

Di penghujung, Kakanwil berharap kepada seluruh tenaga pendidik dan kependidikan di Sulteng,  ketika melakukan bimbingan pendidikan spiritual. Tiga aspek dalam ilmu pendidikan  kognitif, afektif dan psikomotorik harus masuk dalam setiap proses belajar dan mengajar.  (YAMIN)