Kelesatan Iman

oleh
Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto mencium tangan Ketua Utama Alkhairaat, Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri saat peringatan Haul Guru Tua, Sabtu pecan lalu. (FOTO: MAL/FALDI)

OLEH : HS Saggaf Bin Muhammad Aldjufri*

“RasulullahSAW  bersabda: “Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah SWT sebagai Tuhannya, Islam sebagai Agamanya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR Muslim)

Manusia  akan merasakan manisnya iman bermula manakala di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak amalan yang dicintai Allah SWT  dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah.

Bukti manisnya iman apabila  selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24

“Katakanlah: “Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Laki-laki dan perempuan yang telah diberikan kelezatan iman itu akan memperoleh kesenangan untuk terus melakukan kebaikan dan benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Itu janji Allah dalam Alquran. Makanya tidak mengherankan, orang-orang yang sudah memperoleh kelezatan akan tak pernah goyah untuk mendedikasikan waktu dan ilmunya terus-menerus untuk hal-hal yang bermanfaat, walaupun pada saat-saat sangat sibuk.

Mengapa kita memerlukan nikmat dan manisnya iman? Dengan merasakan nikmat dan manisnya iman, kita tidak pernah lagi mengeluhkan letih, penat dan kesulitan dalam berdakwah. Dengan kemanisan Iman, kita akan senantiasa rida dan tawakal dengan semua ujian yang Allah berikan. Dengan nikmat dan manisnya iman, kita senantiasa bersiap siaga untuk Islam.

Kadang kala, kita merasakan penat dan lemah dalam berdakwah. Kadang kala kita merasakan dalam klaim kita, kita telah menyumbang cukup banyak untuk Islam, tetapi yang kita peroleh hanyalah keletihan, kesedihan dan sebagainya. Kadang pula para sahabat, ikhwan kita tampaknya tidak menghargai apa yang kita lakukan bersama. Kadang kala pula para sahabat itu seolah tak peduli akan pekerjaan dan bakti kita.

Saat itulah manis dan nikmatnya iman akan menjaga kita untuk senantiasa bersemangat berjuang di jalan Allah. Bersemangat menapaki hidup, yang memang tak lebih dari ujian dari-Nya.

“Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan” [Alquran: 32:17).

Kelezatan iman adalah rahmat Allah terbesar kepada hamba yang sangat dicintai-Nya, ini buah dari “mujahadah” kesungguhan, keseriusan, ketekunan, kekhusyukan ibadah dan amal sholeh hamba-Nya yang terus menerus mendekatkan diri pada Allah (QS29:69). Wallahul Mustaan

*Penulis adalah Ketua Utama Pengurus Besar (PB) Alkhairaat