Kekerasan Perempuan dan Anak di Sigi Meningkat Pascabencana

oleh
Wakil Bupati Sigi, Paulina. (FOTO : Istimewa)

SIGI – Pascabencana alam yang menimpa, 28 September 2018 lalu, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Sigi, mengalami peningkatan. Di tahun 2018 tersebut, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan, mencapai delapan kasus.

“Sementara yang tidak terlapor ada banyak,” ungkap Wakil Bupati Sigi, Paulina, Rabu (13/02), saat kegiatan pemenuhan hak perempuan dan anak melalui koordinasi dan implementasi program kerja, di salah satu tempat di Kabupaten Sigi.

Acara itu didukung sejumlah lembaga pemerhati perempuan dan anak, di antaranya Libu Perempuan, KPKPST, UNFPA dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Sulteng.

Menurut Paulina, persoalan tersebut membutuhkan konsentrasi dari semua lembaga pemerhati perempuan dan anak.

“Tentunya dengan rapat koordinasi ini, diharpkan akan lebih melihat persoalan yang terjadi. Penanganan yang penting dilakukan adalah memberikan pemahaman, khususnya terhadap bapak-bapak,” terangnya.

Wabub menambahkan, banyaknya persoalan kekerasan perempuan dan anak yang terjadi tanp dilaporkan. Hal itu dipengaruhi adanya kekhawatiran dari korban untuk melapor.

“Adanya aturan perlindungan terhadap perempuan dan anak tentu menjadi payung hukum agar kasus ini tidak lagi terjadi,” katanya.

Wakapolres Sigi, Kompol Paulus Morik, membenarkan tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang terjadi beberapa bulan pascabencana. Data tersebut dimiliki Komans Perempuan dan Anak.

“Laporan itu disampaikan oleh Komnas Perempuan dan Anak dalam sebuah acara di tingkat provinsi. Saya juga kaget mendapat laporan itu,” ujarnya.

Kata dia, dari delapan kasus yang terjadi di Kabupaten Sigi, enam di antaranya telah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Selama ini banyak perempuan yang tertekan hidupnya dengan berbagai persoalan yang dialami. Namun dengan persoalan itu, ada keengganan atau malu untuk melaporkan. Padahal dalam hal ini perempuan telah mendapat perlindungan dengan adanya sebuah aturan yang telah dibuat,” ujarnya.

Kegiatan kemarin juga dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Sigi, Siti Sudarmi, perwakilan perempuan tingkat desa dan kecamatan serta lembaga perempuan yang ada di Kabupaten Sigi. (HADY)