Jangan Sepelekan Jabat tangan

oleh
H Mochsen Alaydrus

OLEH : H Mochsen Alaydrus

Kelihatannya sepele: Sekadar mengulurkan dan menjabat tangan. Tetapi jangan pernah sepelekan perkara jabat tangan ini, karena makna dan sugestinya jauh dari apa yang kita bayangkan.  Jabat tangan mampu memberi motovasi bagi siapa saja untuk berubah.

Lagi pula tradisi berjabat tangan sangat dianjurkan oleh agama. Bahkan, ada satu hadis yang menjelaskan tentang terampuninya dosa seseorang yang senantiasa memelihara tradisi berjabat tangan. “Bila dua orang Muslim saling berjumpa, lalu keduanya berjabatan tangan,” kata Nabi SAW, “Maka, kedua orang itu akan diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah.”

 Berjabat tangan atau bersalaman merupakan amalan yang ringan dan mudah dilakukan. Namun, aktivitas ini terkadang dianggap biasa dan dilakukan sekedar rutinitas atau bukti kesantunan insan beradab

Bagi masyarakat yang telah mengenal tradisi berjabat tangan, biasanya mereka melakukannya dengan maksud atau beberapa motivasi Pertama, berjabat tangan untuk meminta maaf atas kesalahannya.

Kedua, berjabat tangan untuk tanda persahabatan. Ketiga, berjabat tangan karena kedua belah pihak telah lama tak berjumpa. Dan, keempat, berjabat tangan untuk mempererat silaturahim. Sejalan dengan motivasi di atas, dalam praktik keseharian, tradisi berjabat tangan begitu mengakar kuat dilakukan oleh anak kepada orang tua, murid kepada guru, bawahan kepada atasan, dan oleh masing-masing sahabat terdekat.

Bagi yang berjabat tangan, tidak hanya meraih rasa syahdu atau keasyikan yang diluapi kegembiraan, tetapi ia akan memperoleh pahala sekaligus terhapus dosanya. Pada Lebaran Idul Fitri, kita merasakan betapa semaraknya kegiatan berjabat tangan di tengah masyarakat. Di antara mereka, memang ada yang dengan tulus dan ikhlas melakukan tradisi berjabat tangan  ini.

Mereka tanpa pandang bulu berbaur berjabat tangan, baik dengan anak-anak, orang tua jompo, miskin, dan kaya, dengan harapan dapat saling memaafkan, memperkuat dan membangun kembali tali ukhuwah serta persahabatan.

Di sela-sela kegembiraan dan keikhlasan umat Islam menjalankan tradisi bersalaman, ternyata masih banyak di antara kita yang menyalahgunakan tradisi tersebut.  Berjabat tangan yang semula bernilai sakral diubah bentuk sehingga kehilangan maknanya. Ia tidak lagi menjadi media ibadah yang dapat mempererat tali silaturahim, tetapi menjadi alat kepentingan kelompok tertentu untuk mengembangkan relasi yang menarik margin keuntungan.

Tak elak lagi, tradisi berjabat tangan menjadi sarat muatan materi secara pandang bulu dan menjadi elite. Tradisi berjabat tangan dilakukan oleh kelompok ini dengan cara membawa parsel atau bingkisan yang berharga mahal, yang diberikan kepada orang yang sebenarnya tidak layak disantuni.

Tradisi berjabat tangan yang demikian jelas bertentangan dengan misi silaturahim dan merusak sendi-sendi kebersamaan. Karena, sikap ini cenderung berpihak kepada kelompok kuat, sementara kaum lemah dilecehkan.

Dalam negara kita, yang masih terdapat umat yang mendambakan bantuan sosial dan sentuhan kasih, hendaknya tradisi berjabat tangan tidak berjalan memihak yang menyebabkan kaum kuat semakin besar karismanya, sementara kaum kecil semakin terkucil.

Kehidupan di dunia ini terasa lebih indah lagi harmonis tatkala setiap insan menyadari dan mengamalkan amal shalih. Saat badai perselisihan atau konflik melanda rumah tangga, segera raih tangan pasangan, ucapkan ungkapan maaf penuh kecintaan, genggam erat tangannya seraya berdoa agar Allah Ta’ala menyatukan hatinya.

Demikian pula, ketika terjadi konflik dengan orang lain maka bersikaplah tawadhu. Jabat tangannya dan mulailah menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin. Tak ada salahnya Anda memulai dahulu amalan indah ini. Wallahul Mustaan

*Penulis Adalah Mantan Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Sulawesi Tengah