Jangan Ragukan Ketulusan Abnaulkhairaat untuk NKRI

oleh
Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto mencium tangan Ketua Utama Alkhairaat, Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri saat peringatan Haul Guru Tua, Sabtu pecan lalu. (FOTO: MAL/FALDI)

PALU – Ketua Utama Alkhairaat, Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri meminta agar tidak ada pihak-pihak yang meragukan ketulusan hati abnaulkhairaat terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk kepolisian dan TNI.

Hal itu disampaikan Habib Saggaf di hadapan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto beserta tamu lainnya yang hadir pada peringatan Haul Habib Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua, Sabtu pecan lalu.

Kata Habib, para abnaulkhairaat tidak akan memiliki sikap seperti berkembang saat ini, seperti suka mengafirkan orang lain, seolah dirinya sendiri yang benar, sebab dalam proses belajarnya, Alkhairaat memiliki kurikulum sebagaimana yang diajarkan oleh Guru Tua.

“Jadi Pak Panglima dan Pak Kapolri jangan ragukan warga Alkhairaat, dengan kurikulum itu abnaulkhairaat aman,” tegas Habib Saggaf.

Dia juga menyampaikan penggalan syair Guru Tua mengenai sikap antar sesama. “Jangan sekali-kali anda mengatakan/menyatakan saya lebih baik dari pada kamu, apakah itu seorang muslim atau non-muslim. Nanti setelah anda dikuburkan kembali kepada Allah Subhana Wata’ala dan sudah mendapat husnul khotimah, disitu baru anda boleh mengatakan saya lebih baik daripada anda”.

Sementara Kapolri Jendral Tito Karnavian, menyatakan, Alkhairaat adalah salah satu pendiri Republik Indonesia.

“Polri dan TNI siap bekerja sama dengan jajaran Alkhairaat di seluruh Indonesia. Saya pribadi memiliki pengalaman penting dari tahun 2005 sampai 2007 saat menyeselaikan konflik di Poso. Salah satu mitra saya yang terpenting saat  itu adalah Alkhairaat,” ungkapnya.

Lebih lannjut dia mengatakan, spirit dan keberanian Guru Tua sebagai pejuang bangsa yang paham tentang keberagaman, hendakanya diimplementasikan.

Sementara Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahyanto menyampaikan, perjuangan Guru Tua hendaknya dilanjutkan, khususnya pada peningkatan di bidang pendidikan dan sumber daya manusia yang unggul.

“Bila umat tidak siap dengan kompetisi global, maka kita akan hanya menjadi penonton dan bulan-bulanan masyarakat maju,” katanya.

Sementara Gubernur Sulteng, Longki Djanggola, mengatakan, peringatan wafatnya Guru Tua bukan semata-mata tradisi belaka, tetapi memperingati perjuangan sang guru dan berusaha kembali mencontohkan keteladan yang telah diajarkan.

“Haul ini juga untuk menemukan kembali gagasan dan ide dari Alhabib Idrus, guna memantapkan keimanan dan kesadaran kita, khususnya memaknai silaturahim serta menjaga keutuhan dan mendukung kemajuan Indonesia, khususnya Sulteng,” tutupnya (FALDI/NANANG IP)