Islam di Papua

oleh
Ilustrasi

OLEH: Zakiyatul Fithri Auliya*

Indonesia merupakan Negara dengan muslim terbesar yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari sabang hingga marauke. Penyebaran terjadi begitu pesat dalam kurun waktu yang singkat. Para ilmuan banyak yang mengkaji tentang penyebaran islam di Indonesia. Meskipun demikian, sangat sedikit terdengar tentang muslim di bagian timur Indonesia, tidak banyak yang mengetahui bagaimana perkembangan wilayah timur Indonesia ini. Kebanyakan hanya mengetahui bahwa bagian timur Indonesia merupakan wilayah terbelakang, yang masih kental dengan adat-adat tradisional atau primitif.Bahkan, sampai saat ini tidak sedikit yang berfikir bahwa masyarakat wilayah bagian timur ini belum mengenal pakaian yang biasa dikenakan orang saat ini,mereka masih mengenakan koteka, apalagi dengan teknologi mereka sangat jauh. Pemikiran tersebut tidak seutuhnya salah, karena kenyataannya saat ini masih ada daerah di bagian pedalaman yang sangat tradisionalis. Meskipun demikian, tidak sedikit daerah yang semakin maju dan sudah mengenal teknologi seperti wilayah Indonesia yang lain. Namun, perkembangan disana cukup lambat dibandingkan dengan wilayah Indonesia yang lain, mengakibatkan Papua menjadi terbelakang.

Agama Islam sendiri sebenarnya sudah lama masuk di tanah Papua. Bahkan jauh sebelum misionaris tiba di tanah Papua. Namaun, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai teori atau konsep awal bagaimana kedatangan Islam di tanah Papua. Menurut Wanggai (2009) ada tujuh versi mengenai kedatangan Islam di tanah Papua.[1]

Pertama, Teori Papua. Teori ini berasal dari pandangan adat atau legenda yang berasal dari beberapa penduduk asli Papua. Berdasarkan teori ini Islam tidak datang dari luar Papua (wilayah lain) melainkan Islam sudah ada sejak adanya pulau Papua itu sendiri. Bahkan penduduk setempat meyakini bahwa tempat ini dahulu merupakan tempat turunnya Adam dan Hawa.

Kedua, Teori Aceh. Teori ini menyatakan bahwa Islam datang pada tanggal 8 Agustus 1360 M yang ditandai dengan adanya mubaligh asal Aceh, Abdul Ghafar di Fatagar Lama, kampung Rumbati Fakfak. Penetapan tanggal kedatangan Islam menurut teori ini berdasarkan tradisi lisan yang disampaikan oleh Muhammad Sidik Bauw (putra sulung Raja Rumbati XVI) dan H. Ismail Samali Bauw (Raja Rumbati XVII). Teori ini disimpulkan oleh Pemerintah Kabupaten Fakfak tahun 2006.

Ketiga, Teori Arab. Teori ini mengemukakan bahwa pada pertengahan abad ke 16 datangnya seorang sufi bernama Syarif Muaz al-Qathan dengan gelar Syekh Jubah Biru dari negeri Arab di Jazirah Onin (Ptimunin-Fakfak). Hal ini dibuktikan dengan adanya Masjid Tunasgain yang berumur kurang lebih 400 tahun atau yang dibangun sekitar tahun 1587.

Keempat, Teori Jawa. Teori ini berdasarkan catatan keluarga Abdullah Arfan pada tanggan15 Juni 1946, bahwa orang Papua yang pertama masuk Islam adalah Kalawen yang menikah dengan Siti Hawa Farouk yang merupakan mubaligh wanita yang berasal dari Cirebon.

Kelima, Teori Banda. Menurut Halwany Michrob, masuknya Islam di Papua khususnya Fakfak dipengaruhi oleh pedagang-pedagang Bugis melalui Banda yang diteruskan ke Fakfak melalui Seram Timur yang di bawa oleh pedagang Arab bernama Hawaten Attamimi.

Keenam, Teori Bacan. Teori ini menyatakan bahwa kedatangan Islam di wilayah Papua di pelopori oleh Kesultanan Bacan yang di perkirakan terjadi pada pertengahan abad ke 15. Menurut Arnold, Raja Bacanyang memerintah pada tahun 1521 Mbernama Zainal Abidin telah menguasai suku-suku di Papua serta pulau-pulai di sebelah barat. Sedangkan pada abad ke 16 mulai terbentuk kerajaan-kerajaan di kepulauan Raja Ampat.

Ketujuh, Teori Maluku Utara ( Ternate-Tidore). Dalam catatan sejarah Kesultanan Tidore pada tahun 1443 M Sultan Ibnu Mansur memimpin ekspedisi ke tanah Papua, kemudian menikahkan putrinya dengan purta Sultan Bacan.Masihbanyakteori-teori lain tentangsejarahmasuknya Islam di Papua. Hinggasaatinisejarahmasuknya Islam di tanah Papua masih simpang siur. Meskipun demikiantidak bisa dipungkiri bahwa Islam pernah singgah dan berkembang di tanah Papua, apalagi di wilayah Papua bagian barat. Perkembangan Islam dimulai dari wilayah ini. Ditemukan pula bukti-bukti yang menguatkan bahwa Islam berkembang di wilayah ini.

Dalam perkembangannya, Islam di tanah Papua mengalami banyak hambatan dan konflik. Pada masa penjajahan banyak sekali tokoh-tokoh Islam yang diasingkan dan ditangkap, kemudian mereka menyebarkan agama yang mereka bawa, yakni agama Kristen. Oleh karena itu ada kemungkinan hal ini yang menyebabkan penyebaran Islam menjadi terhambat, bahkan terhenti untuk beberapa waktu. Pada saat itu, meskipun mendapat diskriminasi dari pihak Belanda, perjuangan muslimin tidak berhenti. Bahkan mulai di bangun sekolah-sekolah dengan latar belakang Islam, serta pengaruh terbesar dalam pengembangan Islam adalah dengan adanya organisasi-organisasi Islam, seperti Muhammadiyah, NU, YAPIS, Yayasan Hidayatullah dan organisasi lainnya.

Saat ini di tanah Papua mayoritas penduduknya beragama kristen, agama Islam menjadi minoritas di tanah ini. Mayoritas yang beragama Islam merupakan pendatang, sedang penduduk aslinya mayoritas beragama Kristen. Agama Kristen lebih diidentikkan dengan agama orang pegunungan sedangkan Islam identik dengan agama orang pesisir.[2]Dari segi karakteristiksendiri, penduduk asli Papua bersifat keras, senang hidup berfoya-foya dengan minum minuman keras. Selain itu, penduduk asli atau pribumi memiliki jati diri masing-masing, begitupun dengan pendatang. Jika ada pertemuan antar jati diri maka akan muncul dua kemungkinan yang akan mempengaruhi pembangunan di dalam masyarakat, yaitu terjadi pembaruan yang saling melengkapi atau menimbulkan konflik antar jati diri (Suae,2006), nah yang terjadi saat ini adalah konflik antar jati diri.

Seiring dengan berjalannya waktu gejolak antaraagama terus terjadi, bahkan semakin kompleks. Jika diperhatikan lebih dalam konflik antar agama tidak akan usai dikarenakan agama dijadikan sebagai alat politik dalam pemerintahan. Agama sangat berpengaruh terhadap berbagai aspek. Antara satu agama dengan agama lain terjadi perseteruan khususnya agamaIslam dengan agama Kristen. Penganut ajaran Kristen mengalami islamphobia. Mereka khawatir apabila muslim menguasai Papua dan didukung oleh pemerintah, serta gerakan-gerakan muslim yang semakin nyata mengancam kekristenan. Selain itu mereka beranggapan bahwa hal tersebut dapat mengacam kepapuaan sehingga muncul ide untuk membuat Perdasus-Perdasi sebagaimana daerah yang melakukan Perda Syariah.Demonstrasi sering terjadi dikarenakan penolakan terhadap pembangunan masjid misalnya atau para demonstran menuntut keadilan kepada pemerintah. Salah satunya kejadian pada tanggal 4 Agustus dan 4 November tahun 2008, Forum Komunikasi Kristen Indonesia (FKKI) melakukan demonstrasi di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) yang menyatakan bahwa kelompok ini menolak pemberlakuan syari’at Islam di Indonesia khususnya Papua. Kelompok ini beranggapan bahwa keberadaan Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalah, STAIN Al-Falah di Jayapura merupakan bentuk penerapan syari’at Islam yang menganca agama Kristen. Selain itu konflik semakin berkembang dikarenakan kegagalan aparat penegak hukum dalam menanggulangi konflik, justru ikut menjadi pelaku konflik (Azra, 2003).

Saat ini antara agama Islam dengan Kristen di tanah Papua khususnya Timika mulai terjalin hubungan baik, meskipun masih terlihat diskriminasi terhadap pihak Islam. Ketika datang hari besar Islam, penganut agama kristen akan menghormati, dengan tidak mengganggu jalannya ibadah yang sedang dilakukan sedangkan jika dilihat pada masa lalu ketika hari besar Islam maka akan terjadi penyerangan terhadap pihak Islam. Besar harapan terhadap kedamaian di tanah Papua. ***

[1]Idrus Alhamid, Jalan Panjang Perdamaian Papua Memahami Sejarah dan Peradaban, (Yogyakarta: The Phinisi Press,2015), cet 1, hal 58

[2]Ade Yamin, Menjadi Muslim Tetap Dani: Potret Kehidupan Orang Dani Islam di Kampung Walesi Papua, tesis Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta, (Yogyakarta: Program Pascasarjana Antropologi FIB, Universitas Gajah Mada, 2011)

*Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta