Institut Mosintuwu Ajak Warga Rayakan Kekayaan Budaya Desa

oleh
Suasana Karnaval Hasil Bumi di Festival Mosintuwu di Tentena, Kamis (31/10). (FOTO: MANSUR)

POSO – Institut Mosintuwu Kabupaten Poso untuk keempat kalinya menggelar Festival Mosintuwu. Festival yang akan berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 31 Oktober sampai 2 November 2019 di Tentena, Kelurahan Sangele, Kecamatan Pamona Puselemba itu mengangkat tema “Menguatkan, Merayakan  Kebudayaan, Alam dan Keanekaragaman Hayati Poso”.

Direktur Institut Mosintuwu Poso, Lian Gogali, mengatakan, tahun keempat Festival Mosintuwu untuk menguatkan komitemen, sekaligus sebagai ruang bagi masyarakat desa untuk berkolaborasi merawat kebersamaan antara sesama manusia serta menjaga kelestarian alam dan budaya.

Menurutnya, ruang merawat ingatan tersebut, dirancang dalam serangkaian kegiatan, seperti workshop, karnaval hasil bumi, berbagi bibit, warung desa, pasar desa, galeri usaha desa hingga menghadirkan kuliner empat suku serta makan bersama atau molimbu.

“Festival Mosintuwu adalah konsep yang melampaui sebuah even karena ini adalah ruang di mana ingatan atas kearifan lokal dari pengetahuan dan alam Poso dirawat bersama sehingga bisa jadi pondasi membangun Tana Poso,” tutur Lian.

Lian menjelaskan, sejalan dengan program Institut Mosintuwu yang selalu merefleksikan nilai-nilai perdamaian dari kearifan lokal di Poso, festival tersebut sekaligus sebagai bentuk ajakan, belajar dan merayakan kekayaan alam dan budaya dari 41 jumlah desa di Poso.

Penyelenggaraan Festival Mosintuwu keempat tersebut juga dihadiri para akademisi, peneliti dari berbagai bidang ilmu seperti biologi, geologi, arkeologi, sosiologi antropologi yang bergabung dalam tim Ekspedisi Poso.

Ia menambahkan, selain kelompok perempuan yang berasal dari berbagai desa, Festival Mosintuwu juga melibatkan puluhan anak muda dari desa-desa yang mengikuti program Jelajah Budaya Rumah KITA. Festival juga didukung berbagai relawan dari Palu, Parigi, dan Poso.

Hari terakhir penyelenggaraan festival, Sabtu (02/11), juga akan digelar seminar Ekspedisi Poso oleh para tim ahli untuk menyampaikan hasil kajian perjananan menelusuri sesar Poso Barat selama 17 hari di 41 desa.

“Puncaknya adalah pemberian Mosintuwu Award, sebuah penghargaan tertinggi untuk para penjaga kebudayaan Tanah Poso,” pungkasnya. (MANSUR)