Ini Asal Mula Pengeroyokan dan Pembunuhan di Lorong Kapista

oleh
Ketiga terdakwa saat memberi kesaksian bagi terdakwa Jufri di PN Palu, Selasa, (9/1). (foto: MAL/IKRAM)

PALU – Sebab musabab terjadinya pembunuhan sekaligus pengeroyokan, yang menewaskan Abdul Rasyid, di Lorong Kapista terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri, Selasa (9/1).

Saat menjadi saksi, terdakwa Moh. Rifai mengatakan, perkelahian antara mereka dengan korban Abdul Rasyid Pasere, berawal dari konflik korban dengan adiknya Rifaldi. Rifaldi ditebas oleh korban, menyebabkan luka tebas pada tanganya.

Konflik dikarenakan, karena korban ditegur saat berkunjung ke rumah tantenya. Dimana, kata Moh. Rifai korban menaruh rasa suka kepada tantenya. Ketika berkunjung, pada pukul 22.00 Wita adiknya Rifaldi menegur korban Abdul Rasyid Pasere agar pulang, karena telah larut malam.

Teguran tersebut ternyata membuat korban tersinggung dan terjadilah perkelahian keduanya.

Rifai dalam kesaksianya, juga mengaku saat berada di kantor kepolisian untuk mengecek perkembangan laporan atas kejadian tersebut, bertemu dengan korban yang juga turut melapor.

“Dia mengancam saya, kau lagi selanjutnya, kapan kita ketemu,” kata Rifai.

Sementara saksi Irfan mencabut beberapa keterangan BAP-nya, diantaranya melihat Jufri melempar rumah korban sebanyak 10 kali, dan keterangan lainya. Dimana BAP tersebut, kata Irfan, mengikuti BAP (R) terdakwa anak di bawah umur yang telah divonis.

“Meskipun BAP tersebut dibaca dan ditandatangani, hal itu saya lakukan karena disiksa serta intimidasi petugas polisi,” aku Irfan.

Bahkan Irfan mengaku, melihat Jufri matanya ditutup dan diborgol serta disiksa petugas dan mendengar dia disuruh mengaku, karena saat di BAP jarak mereka tidak berjauhan.

Sesuai dakwaan, peristiwa pembunuhan ini diawali perkelahian, antara korban Abdul Rasyid dengan Rifaldi, adik dari Moh. Rifai, yang berujung perkelahian antara keduanya.

Akibat perkelahian itu, Rifaldi mengalami luka tebas di tangan akibat senjata tajam, dan dilarikan ke rumah sakit.
Sementara Abdul Rasyid dilaporkan ke pihak kepolisian, tetapi dalam proses hukum tersebut polisi tidak melakukan penahanan terhadap Abdul Rasyid.

Hal inilah memantik reaksi Moh. Rifai dan Moh. Jufri mengumpulkan massa berencana untuk mengusir Abdul Rasyid dari lokasi tempat tinggalnya.

Muh Jufri mengerahkan massa untuk melakukan penyerangan ke rumah korban Abdul Rasyid. Muh Jufri juga memberi komando kepada massa untuk melempar, mengusir dan membakar rumah korban.

Abdul Rasyid yang berada dalam rumah lalu panik, mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri.

Moh. Rifai dan Asmar melihat korban Abdul Rasyid keluar dari rumahnya dan menuju lorong Kapista, di mana keduanya telah menunggunya. Saat itulah Moh Rifai mengeluarkan badik yang telah dipersiapkanya dan menusuknya ke bagian pinggang belakang korban.

Asmar lalu menyusul meninju, hingga membuat korban Abdul Rasyid jatuh tersungkur. Korban berusaha berdiri tapi Moh. Rifai kembali menusukan badiknya kebagian perut, mengakibatkan korban roboh.

Irfan lalu menikamkan badiknya di bagian paha sebelah kiri korban, disusul Asmar memukul korban dengan menggunakan staenlais panjang, sampai akhirnya korban meregang nyawa. (IKRAM)

loading...