Idul Adha, Wujud Keharmonisan dalam Kebhinekaan

oleh

PALU- Idul Adha (Hari Raya Kurban) sejatinya merupakan kesinambungan “jalan kesalehan sosial spiritual” dari Idul Fitri.

“Jika Idul Fitri merupakan manifestasi kemenangan atas nafsu, maka Idul Adha merupakan manifestasi dari ketulusan berkorban, kerendahhatian untuk melakukan refleksi historis dalam mengenang perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dan putranya, Ismail a.s. sekaligus memaknai nilai-nilai spiritual dari manasik haji.” Demikian khotbah disampaikan, Ketua MUI Kota Palu, Prof. Zainal Abidin, saat menjadi khatib, pada pelaksanaan Sholat Idul Adha diselenggarakan Pemerintah Kota Palu, di lapangan sepak bola stadion Gawalise, Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Ahad (11/8).

Dia mengatakan, kedua hari raya tersebut bermuara pada nilai-nilai kepedulian, ketakwaan, dan kesalehan sosial berupa ketulusan memaafkan, pentingnya silaturahim, dan etos berbagi.

” Keduanya berangkat dari panggilan iman dan berbuah kemanusiaan universal, terutama aktualisasi nilai-nilai hak asasi manusia,” kata Rais Syuriah Nahdhatul Ulama (NU) Sulawesi Tengah.

Ia mengatakan, haji tidak hanya sebagai kewajiban dan rukun kelima dalam rukun Islam, melainkan ia sebagai ibadah sosial. Antara makna sosial haji yang menghubungkan antara manusia dengan manusia lainnya sebagai makhluk sosial adalah, penyadaran akan adanya kebhinekaan umat Islam.

“Tentunya, di antara umat Islam tersebut terdapat perbedaan dalam keberagamaannya,” ujarnya.

Oleh karena berbagai perbedaan tersebut, kata dia, umat Islam harus sadar bahwa kebhinekaan umat Islam itu tidak bisa dihindari.

“Kebhinekaan umat Islam merupakan sebuah realitas yang niscaya ada, ” ungkap Ketua Dewan Pakar Alkhairaat ini.

Meski demikian, kebhinekaan dan multikulturalitas umat Islam tersebut disatukan dengan lafaz “labbaika Allahumma labbaik ” yang diserukan ketika melaksanakan ibadah haji.

Dia mengatakan, kesadaran akan kebhinekaan umat Islam yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji, semestinya dapat meningkatkan kesadaran kita
akan kebhinekaan umat manusia dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Jika dalam ibadah haji kita mampu melebur dalam ikatan ukhuwah Islamiyyah dan mengabaikan segala perbedaan mazhab, ras dan kelas sosial, maka seyogyanya dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara kita pun mampu melebur dalam ikatan ukhuwah insaniyah dan
mengabaikan segala perbedaan termasuk perbedaan agama dan keyakinan,” ujar Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Oleh sebab itu, menurutnya, kita perlu meningkatkan keislaman kita dari level beragama ke level beriman. Karena ada perbedaan antara orang beragama dengan orang beriman.

” Salah satu diantaranya, Orang “beragama” adalah orang yang mudah melihat perbedaan, dan
sensitif dengan perbedaan. Sedangkan, orang beriman adalah orang yang mudah melihat persamaan, mau menerima perbedaan, dan mau mendengarkan orang lain,” ujarya.

Oleh Nabi dia menambahkan, Madinah dijadikannya Negara plural yang menjunjung tinggi prinsip tasamuh (toleransi), serta berhasil menyampaikan misi utamanya, menegakkan kalimat Tauhid tanpa melukai prinsip toleransi.

Ia menambahkan, Indonesia terdiri dari kumpulan banyak etnis dan suku bangsa, tentu punya budaya berbeda, juga berkembang agama yang berbeda pula, kondisi tersebut sama dengan Madinah di saat Rasulullah saw pertama kali berhijrah.

Oleh Rasulullah SAW dalam menata keragaman dan perbedaan tersebut? Hal yang pertama dilakukan meminta setiap kelompok untuk mengorbankan egonya masing-masing, termasuk umat Islam itu sendiri.

“Inilah spirit utama yang tertuang dalam 47 pasal kesepakatan bersama dalam Piagam Madinah,” imbuhnya.

Selanjutnya, ada dua kata kunci disebutkan sembilan kali dalam Piagam Madinah, yaitu: al-ma’ruf dan al-Qisth.

“Al-ma’ruf dapat diartikan sebagai kearifan lokal (local wisdom), yakni sebuah tradisi yang baik yang sudah diterima oleh masyarakat. Sedangkan al-Qisth berarti prinsip-prinsip yang memenuhi
rasa keadilan,” jelasnya.

Dia menambahkan, dua kata kunci ini merupakan simpul yang menjadi titik temu, antara agama dan tradisi yang apabila dipelihara dengan baik niscaya akan melahirkan masyarakat yang harmonis, meski hidup dalam keragaman agama dan budaya.

“Kebajikan dan keadilan melewati dan mengatasi sekat-sekat suku dan agama,” Ujarnya.

Ia mengatakan, Pluralitas etnis dan agama disikapi Nabi bukan dengan memaksakan agama tertentu (Islam) menjadi dasar ‘konstitusi’ masyarakatnya, melainkan membuat kontrak politik yang mampu mengakomodir semua golongan.

” Yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah sistem khilafah, tapi sosok kekhalifahan, sosok yang mau merakyat, ” katanya.

Oleh karena itu, jelasnya lagi, sikap toleransi, saling memahami, menghormati, dan menghargai harus senantiasa dikedepankan. Sikap ini mesti menyemangati proses interaksi dan pergaulan antar sesama.

Dia mengatakan, setiap upaya mengeliminasi keragaman itu menimbulkan permasalahan besar.

“Mari kita tanamkan kearifan dalam menyikapi kebhinekaan sebagaimana yang disimbolkan dalam ritual haji, ” ajaknya.

Dan mari kita wujudkan, keharmonisan dalam kebhinekaan seperti yang diteladankan oleh Rasulullah saw dalam kehidupan masyarakat Madinah yang multikultural.

“Semoga ikhtiyar kita dalam mewujudkan keharmonisan dalam kebhinekaan, menjadikan Islam dan umatnya di negeri ini benar-benar dapat menunjukkan perannya sebagai pembawa rahmat bagi semesta, rahmatan lil ‘aalamin, ” tutupnya. (Ikram)