IAGI: Mitigasi Bencana Baiknya Melalui Kurikulum Pendidikan

oleh
Wakil Ketua IAGI, Burhan saat memberikan penjelasan kepada peserta FGD di Ngatabaru, Rabu (05/12). (FOTO: MAL/IKRAM)

SIGI-  Wakil ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Burhan, mengatakan, mitigasi bencana akan lebih baik dilakukan melalui kurikulum pendidikan.

“Anggaran selalu ada untuk dana tanggap bencana, akan tetapi anggaran mitigasi pendidikan bencana belum masuk. Padahal akan lebih baik dilakukan sadar bencana melalui kurikulum dari SD hingga SMA, bahkan PKK, sampai karang taruna,” katanya,pada kegiatan Fokus Group Discussion (FGD), di Balai Pertemuan Camp Terpadu PMI, Ngatabaru, yang diprakarsai Forum Warga Korban Likuifaksi Petobo.

Selain IAGI, FGD yang mengangkat tema “Menuju Petobo yang Sadar Bencana, Kuat dan Tangguh” itu menghadirkan narasumber Direktur Skala yang juga eks Ketua Tim Ekspedisi Palu-Koro 2017, Trinirmalaningrum.

Tri Nirmalaningrum mengatakan, kegiatan penelitian sesar Palu Koro telah diinisiasi tahun 2011 yang bertujuan merancang rencana kontijensi untuk Kota Palu.

Dari pertemuan tersebut, sempat didiskusikan tentang bahaya Sesar Palu Koro karena  memotong Kota Palu.

“Bersama teman lain, kita lalu mencari literisasi tentang sesar Palu Koro yang ternyata minim, jauh lebih banyak dituliskan Belanda,” tuturnya.

Dia juga mengatakan, hasil dari ekspedisi bertujuan mendokumentasikan semua hasil perjalanan untuk menjadi bahan kampanye secara besar-besaran agar muncul kesadaran masyarakat.

“Perlu diketahui, setiap wilayah butuh Rencana Penanggulangan Bencana (RPB). Dokumen tersebut berisi skenario saat terjadi gempa dan apa saja yang harus dipersiapkan pemerintah dalam penangananya. Dokumen ini menjadi panduan BNPB dan BPBD,” imbuhnya.

Ketua Forum Warga Korban Likuifaksi Petobo, Yahdi Basma, mengatakan, forum itu dibentuk dari diskusi informal bersama lurah dan aktivis sosial lainnya yang berdomisili di Petobo dan dideklarasikan pada 9 November 2018. Saat ini telah memiliki sekretariat.

Saat ini kata dia, warga mendiami lokasi huntara sekitar 1400 KK dengan jumlah 4000 jiwa.

“Usaha untuk berkumpul ini guna menata masa depan sebagai bagian dari perjuangan mengurangi risiko di kemudian hari jika ada musibah serupa,” imbuhnya. (IKRAM)

 

loading...