Heritage Kota Tua Donggala Diamuk Api

oleh
Ruko bersejarah di Kota Tua Donggala, peninggalan zaman revolusi, terbakar. (FOTO: JAMRIN AB)

“Rumah yang terbakar itu termasuk bangunan tua yang ada di kota Donggala. Sebab sebelum saya lahir, bangunan itu sudah ada seperti itu, begitu pula bangunan sekitarnya cukup tua.”

Sepenggal testimony ini diungkapkan Abdul Rayid Thalib (60), salah satu kerabat pemilik rumah yang terbakar di kawasan Kota Tua Donggala, Sabtu (03/4) kemarin.

Rumah toko (ruko) yang terbakar sekitar pukul 07.30 Wita itu merupakan milik keluarga Hj. Bulqis, seorang pedagang aneka meubel yang cukup terkenal di Donggala.

Rumah milik Bulqis tersebut merupakan ruko berlantai dua yang terbagi dalam empat petak, roboh sesaat setelah yang terbakar.

Bangunan yang berada di simpang Jalan Samratulangi-Jalan Moro, Kota Donggala itu merupakan kawasan kota tua, dapat dikategorikan heritage Donggala.

Memiliki karakter bangunan model klasik perpaduan arsitektur Eropa, Arab dan Bugis, sangat angung dan mewah pada zamannya.

Meski sudah berdiri sejak puluhan tahun, namun yang memandangnya pasti tidak akan bosan karena gaya arsitektur yang unik, tidak seperti bangunan modern saat ini.

“Bangunan milik Hj. Bulqis dan sekitarnya itu merupakan peninggalan sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Berdiri sekitar masa awal tahun 1940-an yang berarti sebelum kemerdekaan, sehingga merupakan peninggalan yang bernilai sejarah,” kata Rasyid Thalib yang juga dosen Fakultas Hukum Untad tersebut.

Pendapat senada diungkapkan Abdul Rauf Thalib yang akrab disapa Om Dora (70).

Menurutnya, hanpir semua bangunan yang ada di kawasan kota tua, utamanya Kelurahan Boya sekitar pelabuhan masih bangnan dari masa lampau sebelum kemerdekaan. Betul-betul masih memiliki gaya arsitektur lama yang sangat unik tidak semua kota-kota memiliki model semacam itu.

Menurut Om Dora dan Rasyid Thalib, rumah yang terbakar di kawasan kota tua ini sejak dulu memang menjadi kawasan perdagangan, tempat bermukim para saudagar kaya di Donggala di masa lampau.

Di antara yang terkenal di kawasan itu adalah orang tua dan paman Hj. Bulqis, seperti Baso Andi Mide, Nadjamuddin Andi Mide, Abu Andi Mide, Nohong Andi Mide dan Andi Dala.

Kelima bersaudara tersebut pada zamannya dikenal sebagai keluarga saudagar kaya yang cukup dikenal dengan usaha dagang di masa kejayaan Donggala sebelum hingga sesudah kemerdekaan.

Selain kediaman dan toko milik keluarga Hj. Bulqis, api juga melalap lima petak toko lainnya di belokan Jalan Moro.

Menurut seorang warga setempat yang menyaksikan kebakaran, titik awal api berada di bangunan Bulqis, diduga akibat arus pendek listrik.

Mobil pemadam kebakaran (damkar) milik Pemkab Donggala dibantu para relawan PMI Donggala, tiba di lokasi dan dapat mengatasi kobaran api sehingga tidak merembet ke permukiman sekitar kejadian.

Reporter : Jamrin AB
Editor : Rifay