Hakim Aminkan Tuntutan Jaksa

oleh
Jhon Tison Maelo saat menjalani sidang perdana di PN Palu, Rabu (07/08). (FOTO: MAL/IKRAM)

PALU – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Palu yang diketuai Sukmawati, ternyata sepakat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam menjatuhkan hukuman kepada Jhon Tison Maelo (30).

Sama dengan tuntutan JPU, sang pemilik PT. Sinar Abadi Spark Plus, produsen minuman beralkohol yang menewaskan belasan warga itu, hanya dijatuhi denda Rp15 juta, subsider enam bulan kurungan.

Padahal dalam amar putusan yang dibacakan di PN Palu, Senin (26/08), Sukmawati bersama dua hakim anggota, Andre Natanail dan Rosyadi sepakat menyatakan bahwa Jhon Tison terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana yakni dengan sengaja tidak memenuhi standar keamanan pangan dalam memproduksi dan memperdagangkan pangan yang melebihi batas maksimum kandungan metanol dalam minuman beralkohol.

Menurut majelis hakim, hal itu sebagaimana diatur dan diancam pidana pasal 140 jo pasal 86 ayat (2) Undang-Undang Nomor: 18 Tahun 2012 tentang Pangan, jo pasal 5 Peraturan Kepala BPOM RI Nomor: 14 Tahun 2016 tentang Standar Keamanan dan Mutu Minuman Beralkohol.

Baik terdakwa maupun JPU Made Sukerta, menyatakan menerima putusan tersebut.

Sebelumnya, JPU juga memberikan tuntutan yang sama kepada Jhon Tison. JPU juga menyatakan bahwa Jhon terbukti melanggar pasal-pasal yang berkaitan dengan Pangan dan tentang Standar Keamanan dan Mutu Minuman Beralkohol.

Padahal dari fakta persidangan sebelumnya, ahli dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Palu, Ghazali mengungkapkan bahwa sesuai uji lab yang dilakukan terhadap sampel minuman beralkohol yang dikonsumsi warga yang meninggal, ditemukan bahwa kadar metanolnya melebihi standar keamanan, yakni di atas 0,01 mililiter. Metanol tersebut beracun dan bisa menyebabkan kematian.

Hasil pengujian BPOM, masing-masing label 1 B Topi Raja, kadar methanol 0,24 persen, kadar Etanol 15,64 persen, label 2 B Topi Raja dengan kadar methanol 0,24 persen dan ethanol 15,93 persen, label 3 B Topi Raja dengan kadar methanol 13,01 persen dan ethanol 3,13 persen.

Kemudian label 4 A Benteng dengan kadar methanol 10,67 persen dan ethanol 3,85 persen, label 4 B Topi Raja dengan kadar methanol 6,06 persen dan ethanol 6,64 persen, serta label 4 C Topi Raja dengan kadar methanol 12,77 persen dan ethanol 3,32 persen.

Pada persidangan sebelumnya, Jhon Tison memang sempat mengaku bersalah dan menyesal atas meninggalnya belasan warga akibat mengonsumsi miras yang diproduksi perusahaannya. Namun dia sendiri menyatakan tetap masih memproduksi minuman beralkohol, tapi sesuai dengan aturan perundang-undangan.

Diwartakan sebelumnya, 14 orang meregang nyawa usai menenggak minuman beralkohol, salah satunya Merek Banteng yang diproduksi terdakwa.

Peristiwa tragis ini terjadi di tiga kelurahan di Kota Palu dengan waktu yang hampir bersamaan, yakni Kelurahan Kayumalue Pajeko, Tondo dan Kelurahan Tatanga.  (IKRAM)