Habiskan Belasan Miliar, Mega Proyek Jembatan Kabose Menuai Sorotan

oleh
Kondisi terkini pembangunan mega proyek Jembatan Kabose. (FOTO: MANSUR)

POSO – Sejumlah warga Poso mulai mempertanyakan pembangunan proyek jembatan penghubung antara Kelurahan Kayamanya dan Kelurahan Bonesompe (Kabose). Jembatan dengan panjang sekitar dua kilometer lebih dibangun di atas permukaan laut, sudah menelan anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) reguler tahun 2018 dan 2019 senilai Rp13 miliar.

Bahkan, berdasarkan data yang berhasil dihimpun media ini dari sumber terpercaya, mega proyek tersebut ditarget selesai hingga tahun 2021 mendatang.

Menurutnya, anggarannya sendiri, masing-masing tahap pertama tahun 2018 sebesar Rp3 miliar diambil dari anggaran peningkatan dan pelebaran ruas jalan dalam kota dan tahap dua tahun 2019 diambil sebesar Rp10 miliar dari anggaran peningkatan jalan sebesar Rp17 miliar lebih.

Salah seorang tokoh masyarakat Kelurahan Bonesompe, Abdul Aziz (60), menilai, proyek tersebut mubazir atau hanya menghamburkan uang negara. Menurutnya, selain kualitas serta material pekerjaan yang digunakan pihak kontraktor yang tidak sesuai, asas manfaat jembatan juga dianggap tidak maksimal, khususnya dari segi peningkatan ekonomi.

“Untuk apa dibangun itu jembatan yang biayanya mungkin bisa mencapai ratusan miliar. Masih banyak bangunan sekolah, rumah sakit atau fasilitas lainnya yang masih perlu perhatian, bukan membangun jembatan yang asas manfaatnya tidak jelas,” keluh pria yang akrab disapa Om Utu itu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Badawi Nanga (65). Warga Kelurahan Lawanga itu juga ikut menyoroti dampak pembangunan Jembatan Kabose yang dinilai banyak merugikan warga yang beraktivitas sebagai nelayan.

Menurut Badawai, dengan adanya proyek yang mereklamasi pantai sepanjang dua kilometer itu, secara otomatis mengganggu mata pencarian para nelayan. Sebab, kata dia, lokasi proyek berada di area para nelayan untuk mengais rejeki mencari ikan kecil atau nike.

“Semua pinggir pantai dari Kayamanya hingga Bonesompe akan ditanggul untuk proyek Kabose. Di mana lagi nelayan mau mencari nike. Ini sebenarnya yang harus diperhitungkan Pemda sebelumnya, jangan orang kecil terus dikorbankan,” keluhnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Poso, Faidul Keteng, mengatakan, pembangunan jembatan itu sudah sesuai aturan serta sejalan dengan visi dan visi Pemda Poso untuk peningkatan ekonomi.

“Sebenarnya warga harus paham, proyek Kabose dilaksanakan secara bertahap. Misalnya tahap awal hanya Rp3 miliar dan tahun ini kita ambil lagi Rp10 miliar. Sekarang masih dalam tahap pekerjaan dan tidak ada warga yang kita rugikan,” jelas Faidul.

Ditanya soal asas manfaat pembangunan jembatan Kabose, Faidul mengatakan bahwa sebelum  proyek  dibangun, Pemda Poso telah malukukan study kelayakan dengan melibatkan para tenaga ahli serta dinas terkait, termasuk antisipasi soal dampak sosial yang akan ditimbulkan.

Diakuinya, kehadiran jembatan Kabose, selain menjadi icon Kabupaten Poso, juga salah satu solusi untuk mengurai kepadatan kendaraan yang melintas dalam kota. Nantinya, kata dia, lokasi tersebut akan menjadi tempat wisata bagi warga Poso karena pemandangan dari atas jembatan sangat menarik.

“Kita semua harus mendukung program Pemda,” tambahnya.

Diduga, meskipun proyek itu mencapai belasan miliar, namun proses pekerjaan yang telah berjalan selama dua tahun terakhir ini, tidak melalui proses tender. Seluruh dana yang dipergunakan juga diambil secara bertahap melalui mata anggaran yang berbeda.

Pembangunan mega proyek jembatan Kabose sendiri dikerjakan oleh PT. Jaya Bersama Makmur  sebagai pemenang proyek dana DAK tahun 2018-2019 tentang peningkatan dan pelebaran ruas jalan dalam Kota Poso. (MANSUR)