Gini Ratio di Perkotaan Sulteng Turun Dibanding Tahun Lalu

oleh
Kepala Bidang Statistik Sosial, Wahyu Yulianto saat memberikan keterangan Pers di Palu, Senin (15/07) (FOTO: MAL/YAMIN)

PALU – Pada Maret 2019 tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Sulawesi Tengah (Sulteng) yang diukur oleh  alat mengukur derajat ketidakmerataan distribusi penduduk (Gini Ratio) sebesar 0,327.

Angka itu relatif stagnan jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2018 sebesar 0,317 . Sementara itu jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,346. Angka tersebut turun sebesar 0,019 point.

“Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2019 sebesar 0,335, turun dibanding Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,370, tetapi naik dibanding Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,331,” ujar Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulteng, Wahyu Yulianto saat memberikan keterangan Pers di Palu, Senin (15/07).

Menurut Wahyu, di daerah perdesaan Gini Ratio pada Maret 2019 sebesar 0,287, turun dibanding Gini Ratio Maret 2018 yang sebesar 0,307. Namun naik dibanding Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,280. Pada Maret 2019, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 20,28 persen.

“Artinya pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, tingkat ketimpangan baik di daerah perkotaan maupun di perdesaan berada pada kategori rendah. Di perkotaan angkanya tercatat sebesar 18,68 persen, sementara untuk daerah perdesaan angkanya tercatat sebesar 18,92 persen,”katanya.

Dia menambahkan, perkembangan Nilai Gini Ratio Sulteng selama periode September 2014 hingga Maret 2019 terus mengalami fluktuasi, dan mulai Maret 2015 hingga Maret 2019 nilainya cenderung menurun. Kondisi itu menunjukkan bahwa selama periode Maret 2016 hingga Maret 2019 terjadi perbaikan pemerataan pengeluaran di Sulteng.

Lanjut dia, berdasarkan daerah tempat tinggal, Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2018 adalah sebesar 0,370 mengalami penurunan sebesar 0,009 poin dibanding Maret 2017 yang sebesar 0,379, tetapi naik sebesar 0,003 poin dari September 2017 yang sebesar 0,367. Untuk daerah perdesaan, pada Maret 2018 Gini Ratio adalah sebesar 0,307 turun 0,002 poin dibanding Maret 2017 yang sebesar 0,309 serta turun 0,006 poin dibanding September 2017 yang sebesar 0,313.

“Selain Gini Ratio ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran Bank Dunia.

“Berdasarkan ukuran ini tingkat ketimpangan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi, jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya dibawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12 hingga 17 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada diatas 17 persen,”jelasnya.

Dia menyampaikan, beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap tingkat ketimpangan pengeluaran selama periode September 2018 hingga Maret 2019 diantaranya adalah, terjadinya penurunan pertumbuhan pengeluaran per kapita kelompok 40 persen terbawah, baik di level provinsi maupun pada level perkotaan dan perdesaan.

Meningkatnya pertumbuhan pengeluaran per kapita per bulan pada kelompok penduduk 40 persen menengah dan penduduk 20 persen atas. Serta, kenaikan pengeluaran kelompok bawah yang merefleksikan peningkatan pendapatan kelompok penduduk bawah, tidak lepas dari upaya pembangunan infrastruktur padat karya, dan beragam skema perlindungan dan bantuan sosial di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan lainnya yang dijalankan oleh pemerintah. (YAMIN)