FUI Tentang Sikap Pemerintah RI

oleh
Massa aksi mengenakan topeng wajah Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz Al-Saud dan membawa bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid saat melakukan aksi solidaritas untuk muslim Selandia Baru, di Jalan Samratulangi Palu, Jumat (22/03). (FOTO: MAL/FALDI)

PALU – Forum Ummat Islam (FUI) Sulteng bersama sejumlah organisasi masyarakat lainnya, tegas menantang sikap Pemerintah RI yang hingga saat ini belum juga mengategorikan si kafir Brenton Tarrant sebagai sosok teroris.

Padahal, yang bersangkutan terang-terangan telah membantai dengan sadis puluhan jemaah Shalat Jumat di dua masjid yang ada di Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/03) pukul 13.45 waktu setempat.

Sikap protes itu disampaikan massa dari FUI bersama elemen lainnya, saat menggelar aksi solidaritas untuk muslim Selandia Baru, di Jalan Samratulangi Palu, Jumat (22/03).

Mereka menilai, Pemerintah Indonesia juga masih minim peran dalam kasus yang melukai jutaan hati ummat muslim di dunia itu.

Salah satu orator, Abdul Hanif dari Pemuda Muhammadaiyyah, mengatakan, aksi tersebut semakin membuktikan bahwa persatuan yang dimiliki ummat Islam sangatlah kuat dan kokoh. Jika diibaratkan tubuh manusia, apabila ada satu bagian yang sakit, maka semua akan merasakannya.

“Menjadi ummat muslim itu tidak boleh namamba (penakut),” tegas Hanif.

Orator lainnya, Ustaz Arafah dari Yayasan Al Azhar Mandiri Palu, menjelaskan, aksi damai yang mereka lakukan itu akan menjadi saksi kebiadaban yang dialami para korban penembakan di masjid Selandia Baru.

Dia menekankan, negara dan wakil rakyat di Indonesia maupun negara muslim lainnya agar memberikan penekanan terhadap penanganan kasus penembakan tersebut.

“Hari ini tidak ada pemimpin yang berteriak dengan lantang bahwa itu adalah pelanggaran HAM berat,” katanya.

Di tempat yang sama, Presidium FUI Sulteng, Ustadz Hartono, mengatakan, aksi-aksi semacam itu menunjukkan bahwa ummat Islam merupakan agen penting pemersatu bangsa di dunia ini.

“Meski pemerintah Selandia Baru telah menghapuskan hukuman mati di sana, tapi kita tetap menuntut agar si biadab tersebut dihukum mati,” tegasnya.

Kata dia, pascaperistiwa di New Zealand itu, ummat Islam sudah harus lebih berani dan semangat memakmurkan masjdi.

“Tunjukan bahwa ummat Islam tidak pernah gentar dengan aksi-aksi teror dalam bentuk apapun,” tutupnya. (FALDI)