Faisal Mahmud Berpulang: Sebuah Inspirasi dari Sang Pengabdi

oleh
Prosesi pelaksanaan jenazah almarhum Faisal Mahmud menuju peristirahatan terakhir. (FOTO: MAL)

Ribuan warga datang ke rumah duka, tempat disemayamkannya salah satu kader terbaik Alkhairaat, Faisal Mahmud, di Jalan Cemara, Kamis (21/12). Faisal Mahmud dimakamkan di kompleks pemakaman Boya Pogego, Ba’da Zhuhur, Kamis (21/12), dilepas langsung oleh Ketua Utama Alkhairaat, Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri.

Habib mengatakan, Alkhairaat kehilangan Faisal Mahmud. Dia adalah salah satu kader terbaik yang dimiliki Alkhairaat hingga sekarang.

“Saya pribadi bukan hanya mengenal almarhum ini, akan tetapi saya juga sangat mengenal dengan baik siapa ayahnya, Ustat Mahmud dan juga nenek almarhum yang merupakan anak didik Guru Tua,” terang Habib.

Sehingga menurut Habib Saggaf, almarhum yang mengabdikan dirinya pada Alkhairaat, Insya Allah akan bertemu dan akan dijemput oleh orang-orang yang menyayanginya, termasuk akan bertemu dengan Guru Tua dan guru-gurunya yang sudah lebih dahulu mendahului.

“Karena sosok Faisal Mahmud adalah orang baik dan beramal shaleh,” katanya.

Pada hakekatnya, lanjut Habib, yang meninggal hanyalah jasad, namun rohnya masih hidup, akan tetapi tidak mapu lagi berkata-kata, namun masih bisa melihat dan mendengar.

Pihak keluarga, Dr. Lukman Thahir mengaku sangat dekat dengan almarhum. Walaupun almarhum berstatus pamannya, namun mereka berdua lahir di tahun yang sama.

“Sehingga kami bukan hanya keponakan dan paman, tetapi juga sahabat dekat,” katanya.

Faisal Mahmud adalah anak ke dua dari empat bersaudara, dari pasangan H. Mahmud dan Hj. Hamida Thahir. Dia lahir di Poso, 4 April 1965. Faisal wafat dengan meninggalkan empat anak dan seorang istri, Hj. Hilda R. Suaib.

KATA DIA: KERJA ITU IBADAH. JIKA IKHLAS, REZEKI PASTI MENGIKUT

Inilah salah satu petikan pesan paling diingat yang acapkali diucapkan Faisal.

16 tahun silam. Kala itu, di usianya yang ke-37, dia dipercayakan menjabat sebagai Rektor Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu.

Sebagai Abnaul, Faisal menempuh perjalanan karirnya dengan semangat pengabdian. Sebagaimana alumni Alkhairaat lainnya, ia tak pernah menolak tugas yang diembankan di pundaknya.

Faisal Mahmud mulai menjadi santri Pondok Pesantren Putra Alkhairaat, Madrasah Tsanawiyah (MTs). Setelah lulus dari Madrasah Aliyah (MA) Alkhairaat, Faisal meneruskan pendidikannya ke Universitas Alkhairaat dan Institut Agama Islam Negeri Palu (cabang dari IAIN Alauddin Makassar).

Belum lama menjadi mahasiswa di Unisa, Faisal akhirnya memutuskan untuk kuliah di IAIN, dimana saat itu, Dekan Fakultas Ushuluddin adalah Ketua Utama Alkhairaat HS Saggaf bin Muhammad bin Idrus Aljufri.

Menjadi seorang sarjana, Faisal kemudian ditugasi mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Alkhairaat. Selama lima tahun, ia menjadi guru MI sebelum akhirnya dipindahkan ke jenjang yang lebih tinggi, MTs Alkhairaat.

Kemudian, mantan Wakil Sekjen Pengurus Besar Alkhairaat itu, melompat menjadi guru Madrasah Aliyah (MA) sebelum akhirnya ditarik ke Unisa untuk menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Akademik (BAK). Karirnya terus meningkat. Ia dipercaya menjadi pembantu Rektor I, sebelum akhirnya dikukuhkan sebagai rektor dalam usia yang sangat muda, 37 tahun, pada 2 Mei 2001 silam.

Duka Alkhairaat mungkin hanya sementara, jasad bisa hilang dan tidak bersama lagi, namun pesan moral dari Almarhum sangatlah banyak, jika itu dimaknai lebih dalam bagi Abnaulkhairaat, untuk bisa menjadi motivasi hidup.

Faisal Mahmud

“Kalau dari sisi ekonomi, kita tak akan tertarik menjadi ustadz. Keterpanggilan selaku abnaulkhairaat, akan membuat kita mengabdikan diri dengan ikhlas,” kata Faizal Mahmud, 16 tahun silam.

Sosok ramah ini telah tiada. Nafas terakhir dihembuskannya pada Rabu (20/12) lalu. Kecintaannya kepada Allah SWT, membuatnya begitu cepat “dipanggil”, sekaligus menutup amal ibadahnya sebagai khalifah di bumi ini.

BANYAK YANG KEHILANGAN

Putra terbaik Alkhairaat itu, menghembuskan nafas terakhirnya di salah satu Rumah Sakit di Jakarta.

Keluarga Besar Alkhairaat kehilangan. Bagi sejumlah pejabat, staf dan seluruh pegawai Unisa, sosok Faisal Mahmud dikenal sebagai pria berkarakter ramah, murah senyum dan tidak pernah marah.

“Selama beliau jadi Rektor, saya yang jadi sopir beliau, Almarhum sangat baik, karena tidak pernah marah,” tutur Syam Ojosawa, salah seorang staf Unisa Palu, sembari meneteskan air matanya.

Hal senada disampaikan Rektor Unisa Palu, Dr. H. Hamdan Rampadio, yang merasa sangat kehilangan sosok beliau. Kata dia, walaupun sudah tidak menjabat di Unisa lagi, Faisal Mahmud sering bersilaturahmi dan banyak membangun komunikasi dengan sejumlah pejabat dan pegawai Unisa.

“Faisal Mahmud, pernah bersama-sama saya, di kepengurusan Himpunan Pemuda Alkhairaat, Periode 1987 hingga 1991,” kata Hamdan.

Tidak hanya Unisa Palu, sahabat karib yang juga mantan Ketua Umum HPA, Farid Nasar sangat menghargai sosok Faisal Mahmud. Bagi Farid, sosok bersahaja itu, memiliki prinsip untuk menyelesaikan pekerjaan secepatnya, dan tidak membiarkannya berlarut-larut,

“Almarhum tidak pendendam, cepat akrab dengan siapa saja, dan berhasil membawa Unisa hingga tingkatan nasional dan Internasional,” kenang Farid.

Dikutip dari Kompasiana.com, seorang citizen reporter, Iwan Piliang menulis kenangan terindahnya dengan almarhum. Dalam tulisan berjudul “Pendoa Joko Widodo Presiden di Ka’bah itu Berpulang” Iwan menulis panjang tentang banyak kisah yang dialami bersama almarhum. Banyak petikan pesan inspiratif yang ditulisnya.

“Innalillahi Wainnailahi Rojiun, ajal memang di tangan  Tuhan  Maha Kuasa.  Baru saja saya mendapat kabar bahwa Prof Dr.H.  Faisal Mahmud meninggal dunia. Ia salah seorang Ketua MUI, juga pimpinan Al Khairat, Palu. Jika Anda masih ingat,  ketika Pilpres 2014, adalah Ustad Faisal memimpin Umroh rombongan kecil Presiden Jokowi. 

Petang jelang jam bubaran kantor, jalanan Jakarta mumet. Macet.  Motor di jalanan arah Jl. Raya Condet itu menyemut. Mendung sejak  siang hari ditingkahi gerimis membuat jalanan basah. Dari bilangan kediaman saya mencapai rumah duka di Gang M.Zen itu, menghabiskan tenggang waktu dua jam.  Pertengahan magrib tadi ternyata  rumah duka sepi. Seorang bapak tua menggendong bayi mengatakan seluruh keluarga almarhum berangkat ke bandara. Jenazah Ustad Faisal dibawa ke Palu.

Beruntung tak lama putri almarhum membalas WA saya. “Jasad  Abah kami bawa ke Palu, malam ini juga. Kami sudah di bandara menunggu keberangkatan,” ujar Nabila, dalam nada serak.

“Kemarin  Abah baik-baik aja.”

“Hanya ia merasa kakinya sakit, sempat di-kop. Baikan.” 

“Kemarin ia dibawa ke JMC, pagi tadi nafasnya sesak dibawa ke rumah sakit Harapan Kita siang Abah sudah pergi.”

Nabila terisak pilu

Saya masih ingat doa dipanjatkan Ustad Faisal  ketika kami usai shalat sunat sesaat setelah menjalankan Umrah di Masjidil Haram. Hanya berjarak sepelemparan batu menghadap  garis lurus ke   Ka’bah, di depan Multazam.

Doanya, ” … ya Allah ya Tuhan kami jadikan Bapak Insinyur Joko Widodo menjadi pemimpin kami, presiden RI ke-7, yang akan membawa kebaikan … membangun… peradaban…”

Kami dalam kelompok terbatas itu, termasuk Alm. KH Hasyim Muzadi mengamini. 

Aamiin.

Tak terasa air mata dari semua kami mengalir di Masjidil Haram,  juga tak terkecuali  Ustad Faisal.

Entah mengapa khususnya sebulan ini saya merasa kangen sekali ingin bertemu  Ustad Faisal. Tiga tahun lalu, ketika usia saya genap 50 tahun, Ustad Faisal dengan kerendahan hati datang ke rumah. Ia membacakan doa. Umur kami sama, kelahiran 1964.

Pada Juni 2016,  tahun lalu, ia saya ajak ke Palembang. Kala itu saya mengusulkan kepada Gubernur Alex Noerdin, untuk meresmikan Gerakan Timbangan Akurat di pasar-pasar. Maka Prof Faisal senang sekali hadir dan memberikan sambutan di Pasar Cinde, palembang itu.

“Dalam surat  Al-Muthaffifin, … kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang … … “

“Mengakuratkan timbangan sama kewajibannya dengan shalat fardu…, ” katanya. 

Dari  diskusi kami bersamanya, di era Presiden Soeharto, perkara timbangan akurat itu mendapat perhatian besar. Rutin dilakukan tera timbangan di pasar-pasar. Orde Baru dominan dipojokkan, dalam hal mengakuratkan timbangan, lebih peduli.

Almarhum sangat respek atas kegiatan kami bertajuk Bangrojak di DKI Jakarta, membersihkan toilet masjid. “Kebersihan sebagian dari iman. Orang beriman tak mengambil hak orang lain,” petuahnya.

Kalimat-kalimat Prof Faisal, acap saya kutip. 

Di setiap kesempatan berbicara mengenai korupsi, saya ingat kata-katanya. 

Lalu saya pun berimprovisasi, sambil bertanya ke hadirin di forum seminar atau diskusi yang mengundang saya; siapa  berani mencium kaus kakinya sendiri? Latar lakon ini berangkat dari kebiasaan dominan warga, senang menyimpan sesuatu  bau, membiarkan kaus kaki busuk.  Maka atas perhatian ke hal kecil tetapi pondamen ini, saya dan Ustad Faisal  merasa satu hati. Walaupun saya bukan ustad, kini jika bertemu dengan calon pejabat, atau pejabat di daerah, selalu saya menyarankan bikin kegiatan bersih-bersih masjid. Isteri saya Sandra malahan mempunya inovasi #MukenakuBersih, mencucikan mukena di musalla di pombensin-pombensin dan tempat umum lain, alpa diperhatikan untuk dicuci, termasuk sajadah menahun berbau pengap.

Di Multazam  saat berjalan ke luar Masjidil Haram,  saat bersama Bapak Jokowi, masih terngiang ingatan saya kepada Prof Faisal, “Nanti jika Bapak menjadi presiden, jangan lupa dirikan badan Hajji dan Wakaf …”  

Saya menimpali: Benar Pak Presiden, walaupun belum pemilihan presiden kala itu, saya memang sudah menyapa Bapak Presiden kepada Jokowi; sebab bila dibiarkan penyelenggaraan hajji  bergabung dengan kementrian agama, kuatir kementrian agama menjadi biro perjalanan terbesar di dunia. Kami tertawa. 

Dalam perjalanan pulang dari Condet kembali ke Cempaka Putih saya sengaja mampir ke kedai Mie, kini sudah memiliki lahan luas. Beberapa bangunan bertingkat di kiri kanan jalan menjulang. Barulah saya ngeh sudah pula tiga tahun lebih saya tak pernah melalui jalanan di ibukota itu. Orang-orang berjalan pulang dan pergi, siklus  kehidupan berdenyut bak jantung, dug, dug, dug. Roda kehidupan berputar. Begitu darah berhenti beredar denyut jantung down, malaikat maut datang seketika.  

Di saat saya mengedit tulisan ini, saya perkirakan jasad Ustad Faisal sudah disemayamkan di rumah duka di Palu, pastilah ramai pentakziah. Saya percaya warga Palu kehilangan salah satu putra terbaik Sulawesi Tengah, putera terbaik bangsa.  Sosok selalu tenang menyampaikan dakwah, figur acap mendampingi para tokoh di republik ini melakukan Umroh. 

Salah satu sosok memberi tahu saya bahwa Ustad Faisal berpulang adalah, SyeikhMuhammad. Ia pemilik salah satu biro perjalanan umrah dan hajji, turut pula mendampingi Bapak Jokowi Umrah bersama kami kala Pilpres 2014 lalu. 

“Hidup sebuah perjalanan.”

Ustad Faisal memberi petuah.

“Perjalanan paling berat di dalam hidup, menjernihkan hati.”

“Rasulullah kita diberi amanah oleh Allah menjadi pemimpin karena hatinya bersih.”

“Hati Rasulullah disucikan, beliau kemudian bisa Mi’raj.”

Saya pernah bertanya kepada Ustad Faisal, apa kiat  membersihkan hati?

“Perbanyak zikir, perbanyak membaca Al Quran, perbanyak senyum.”

Walaupun saya tak sempat menyimak lagi jasadnya secara langsung, senyum Ustad Faisal abadi diingatan saya. Maka ketika menumpang shalat magrib di kedai mie di bilangan  Dewi Sartika tadi, di tahayat akhir wajah Ustad Faisal tersenyum kepada saya. Senyum  respeknya sangat dalam akan banyak hal saya perbuat. 

Tidak berlebihan, ialah  apresiator terhadap diri saya terbesar.  

Di akhir shalat, saya menyimak ke kanan, Assalamualikum Warahmatullah, wajah Ustad Faisal dengan senyum di kanan saya. Assalamulaikum Warahmatulah ke kiri, wajah Ustad Faisal di kiri saya. Tak terasa air mata ini jatuh lagi. Semoga Ustad Husnul Hotimah.”

 Selamat jalan sang pendidik, jasa dan baktimu pada Alkhairaat, akan menjadi amal jariah yang tidak akan putus, hingga akhir dunia ini. Kebaikanmu akan menjadi kenangan bagi Abnaulkhairaat dan siapa saja yang penah menempa ilmu dari dirimu.

Kami pun yakin engkau pasti akan dijemput Pendiri Alkhairaat, Almuqaram Syeh Habib Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri.

BERIKUT RIWAYAT SINGKAT PERJALANAN HIDUP ALMARHUM

Di Alkhairaat, Faisal pernah menjadi Sekretaris Dewan Pembina PB Alkhairaat tahun 2004-2014 dan 2014-2019, Wakil Ketua DPP HPA tahun 2000/2007, Wakil Sekjen PB Alkhairaat Wilayah Kerja Indonesia Timur Surabaya dan DKI Jakarta tahun 1995-2000. Kemudian menjadi guru/pembina Ponpes Alkhairaat Pusat dari tahun 1986-1992, Rektor Universitas Alkhairaat tahun 2000-2004.

Almarhum juga dikenal aktif dalam kegiatan social maupun politik. Almarhum sendiri pernah menjadi Ketua Dewan Syariah Keluarga Besar Pencinta Ka’bah for Presiden Jokowi-JK, Anggota DPD tahun 2005-2009, Calon Wakil Gubernur Sulteng.

Faisal merintis jenjang pendidikannya dari SD Muhammadiyah Poso tahun 1976, kemudian lanjut ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Palu di tahun 1980, Madrasah Aliyah (MA) Negeri Palu tahun 1983 dan IAIN Alauddin Ujung Pandang tahun 1983. Gelar Magister diraihnya saat menempuh pendidikan di Universitas Muslim Indonesia (UMI) tahun 2011.  (TIM MAL)