DSLNG Sejahterakan Warga Lingkar Perusahaan

oleh
Salah satu nelayan binaan DSLNG yang masuk dalam program Pemberdayaan Ekonomi dari CSR Donggi Senoro LNG yang dilaksanakan untuk mewujudkan kemandirian dan memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat lingkar perusahaan (FOTO : HUMAS DSLNG)

BANGGAI – PT Donggi Senoro Liquid Naturan Gas (DSLNG) memiliki lima program untuk mengsejahterakan warga lingkar perusahaan. Program tersebut sebagai bentuk tanggungjawab sosial perusahaan dalam memperkuat desa.

“Menjadikan desa di sekitar kilang Donggi Senoro LNG sebagai desa percontohan pembangunan desa mandiri yang tangguh secara ekonomi, terpeliharanya perdamaian dan tangguh bencana,” ujar CSR Manager PT DSLNG, Pandit Pranggana, baru-baru ini di Banggai.
Jurus yang dimaksud yakni, program kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, lingkungan dan infrastruktur publik. Kegiatan tersebut dijalankan dalam program Corporate Sosial Responbility (CSR).

Pandit menjelaskan, untuk program kesehatan, pihak membantu akses masyarakat terhadap pelayanan dasar kesehatan. Salah satu aktivitas dalam program kesehatan masyarakat adalah kampanye pemberantasan Malaria, di Kabupaten Banggai termasuk wilayah endemik Malaria. Program itu sejalan dengan tujuan pembangunan milenium yaitu pemberantasan penyakit menular.

Khusus, aktivitas yang terkait dengan program kesehatan ibu dan anak, antara lain peningkatan gizi dan kesehatan ibu hamil dan posyandu.
“Program Intervensi Gizi Spesifik, capaian penerima manfaatnya 2018-2019 13 Balita kurang gizi dan 9 Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) melalui pendampingan rutin, pemberian makanan tambahan melalui kader kesehatan. Untuk Program pelatihan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, ditahun yang sama 20 tenaga kesehatan Puskesmas Kintom dan 20 Tenaga Kesehatan Puskesmas Batui,” katanya.

Untuk Program pendidikan, Donggi Senoro LNG membantu akses dan kualitas pendidikan dasar masyarakat setempat dengan memperluas akses anak-anak usia sekolah melalui perpustakaan di pusat komunitas (CSR Center). Untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dibuka kelas ekskul bahasa inggris untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris khususnya di SMU 1 Batui.

Selain itu, DSLNG juga bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (ITB) untuk memberikan beasiswa bagi pelajar setempat.
“Sejauh ini ada lima siswa terbaik dari kecamatan yang saat ini menjalani pendidikan tinggi. Mereka diharapkan menjadi pemimpin masa depan yang akan membangun Kabupaten Banggai sesuai kemampuannya,” katanya.

Selain itu, di sektor pendidikan non formal DSLNG juga menjalin kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banggai dan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) untuk melaksanakan program pelatihan kejuruan.

Kemitraan itu dilakukan sejak April 2014, yang bekerja sama dengan Loka Latihan Kerja Usaha Kecil Menengah (LLK UKM) Luwuk dan Balai Latihan Kerja (BLK) Palu. Sasarannya adalah kelompok muda potensial di desa-desa dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan warga sebagai pekerja atau wirausaha.

“Kami telah melakukan pelatihan kejuruan simultan untuk pengelasan, otomotif, menjahit, dan teknik elektro. Pelatihan ini sukses dan membawa perspetktif baru bekerja untuk peserta,” tambahnya.

DSLNG juga berkomitmen mendukung Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). Salah satu buktinya telah mengirimkan pengajar muda untuk mendidik di lokasi-lokasi terpencil, termasuk di beberapa desa di Kabupaten Banggai.

Tidak hanya terfokus di Kecamatan Batui, DSLNG juga melaksanakan program CSR untuk pendidikan itu di Kecamatan Kintom dan Nambo, dengan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Banggai, memberikan beasiswa bagi siswa-siswi berprestasi dan kurang mampu, mulai dari tingkat dasar, menengah hingga atas. Dari tiga daerah itu masing-masing 50 di tingkat dasar, 50 tingkat menengah dan 50 tingkat atas. Pemantauan beasiswa yang dimulai sejak tahun 2018 tersebut dilakukan setiap enam bulan.

Untuk Program Pemberdayaan Ekonomi, DSLNG bergerak meningkatkan penghidupan dan kemajuan ekonomi masyarakat setempat menuju kemandirian lokal. Yang mana, hal tersebut dilakukan bersama dengan masyarakat mengimplementasikan program pengembangan ekonomi lokal berdasarkan mata pencaharian setempat. Dan juga program penghidupan berkelanjutan dan pengembangan ekonomi sektor pertanian, nelayan dan keuangan mikro.

Tiga koperasi saat ini tumbuh subur adalah, koperasi simpan pinjam Posaanguan Boune Banggai, dengan 180 anggota koperasi. Koperasi Pertanian Mompasaangu Tanga Nulipu dengan 44 anggota koperasi. Koperasi Perikanan Mitra Bahari Bakinbo dengan 32 anggota koperasi.
“Koperasi perikanan Mitra Bahari Bakindo merupakan salah satu koperasi di Kabupaten Banggai yang mendapatkan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bantuan dijadwalkan akan didistribusikan tahun ini,” katanya.

Berdasarkan fakta yang ada, hingga saat ini, lebih banyak perempuan dan anak-anak yang terlibat dalam program menabung dan pembiayaan keluarga mikro. Selain itu, lebih banyak kelompok pemuda yang berpartisipasi dan mendapatkan manfaat dari kegiatan pertanian termasuk pelatihan, budidaya, dan pengelolaan tanaman.

“Di sektor pertanian, masyarakat di Desa Honbola, Kecamatan Batui, dan Desa Dimpalon, Kecamatan Kintom, didorong untuk memanfaatkan lahan non produktif untuk tanaman sayur mayur. Usaha budidaya air tawar juga diperkenalkan kepada masyarakat di Kecamatan Batui dan Kintom,” terangnya.
Kemudian, Asosiasi Pelaku Usaha Mikro (ASPUM) dengan 33 anggota, untuk pemasaran produk memanfaatkan anggota. ASPUM juga telah menjalin kerjasama dengan salah satu swalayan ternama di Kota Luwuk dan saat ini sedang dalam proses untuk membuka Outlet ASPUM di Bandara Syukuran Amminuddin Amir.

Sementara komoditas fokus pertanian adalah cabai, hingga Juli penjualan cabai mencapai 19 ton dengan nilai IDR 500M, masih ada beberapa lagi seperti program penguatan desa mandiri.

Pada Program Lingkungan, DSLNG mendukung Perlindungan Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan yang Lestari serta Konservasi Berbasis Masyarakat. salah satunya adalah membangun fasilitas ex situ untuk konservasi Maleo yang dibangun di dekat lokasi proyek, diresmikan pada 5 Juni 2013, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup.

“Sejak tahun 2018 hingga 2019 sudah tiga pelepasliaran anakan maleo dengan total 52 Anakan. Sehingga total Jumlah Anakan yang dilepasliarkan dari Tahun 2013 hingga saat ini adalah 100 Anakan. Total jumlah Pengunjung Maleo center dari tahun 2013 hingga April 2019 sebesar 593 orang,” rincinya.

“Melalui konservasi ex situ ini diharapkan populasi burung khas Sulawesi yang terancam punah ini bisa ditingkatkan. Aktivitas rehabilitasi terumbu karang diarahkan untuk membantu pemulihan kondisi ekosistem terumbu karang yang rusak akibat penggunaan bom ikan,” tambahnya.
Jurus terakhir adalah Program Infrastruktur Publik, yang dilaksanakan untuk meningkatnya pengunaan dan akses fasilitas umum yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Hal yang dimaksud adalah perbaikan jalan di ruas Luwuk-Toili yang dilakukan sejak Desember 2013 untuk memperlancar aktivitas masyarakat. Perbaikan jalan sepanjang 30.77 kilometer tersebut sesuai kesepakatan yang ditandatangani dengan Pemerintah Provinsi Sulteng pada Maret 2013 lalu.

“DSLNG melaksanakan perbaikan jalan di tiga segmen, yaitu ruas Tangkian-Tolitan, ruas Uso-Noge, dan ruas Unit II-Uwemea. Perbaikan ketiga segmen dengan total 30.77 kilometer ini dilaksanakan secara bertahap, dan hingga saat ini telah dinikmati oleh masyarakat. Selain itu juga dibangun Kios UKM di Ruang terbuka hijau di Teluk Lalong Luwuk 15 Kios UKM,” tandasnya. (YAMIN)