DS-LNG Bina Koperasi, Masyarakat Untung

oleh
Koperasi Simpan Pinjam Posaanguan Boune Banggai, di Desa Osu, Kecamatan Batui. (FOTO: IST)

“KOPERASI”, mendengarnya saja terkesan dengan kegiatan perekonomian yang sangat lampau. Model ekonomi ini, terkadang dianggap usang sebagai cara mensejahterakan rakyat. Tapi nyatanya, koperasi masih cukup efektif untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat bawah.

Perusahan Donggi Senoro-LNG, sepertinya paham betul soal potensi itu. Perusahaan penghasil gas alam cair itu, melalui Coorporate Sosial Responsibility (CSR), turut hadir mengembangkan ekonomi kerakyatan itu di Kabupaten Banggai.

Terdapat tiga binaan DS-LNG, diantaranya, Koperasi Simpan Pinjam (KSP) “Peosaanguan Boune Banggai”, Koperasi  Petanian “Mompasaangu Tanga Nulipu”  dan  Koperasi Perikanan “Mitra Bahari Baimbo”.

Ketua KSP Posaanguan Boune Banggai, Marma mengatakan, koperasi dirintisnya memang belum besar, akan tetapi dia berkeyakinan koperasi semakin tumbuh.

Anggotanya sekarang terdapat 10 kelompok. Kelompok-kelompok itu berada di beberapa kelurahan di tiga kecamatan, Kintom, Nambo, dan Batui. Dari setiap kelompok terdiri anggotanya sekira 18 sampai 24  orang.

“Alhamdulillah kita difasilitasi pihak Donggi Senoro, untuk membuat satu wadah dimana wadah itu memiliki legalitas, sehingga terciptalah koperasi itu, Koperasi Simpan Pinjam Posaangan Boune Banggai, yang artinya, Persatuan Perempuan Banggai. Karena mayoritas kita dari ibu-ibu rumah tangga,” akunya, saat ditemui wartawan di Desa Osu Kecamatan Batui Kabupaten Banggai, akhir Agustus lalu.

Dengan adanya koperasi ini, kata Marma, ibu-ibu dapat membantu perekoniam rumah tangga. Kemudian juga membantu usaha kecil para ibu, sehingga yang tadinya masih sederhana bisa berdaya saing.

Namun kedepannya, KSP ini akan membuka keanggotaan bagi laki-laki. Anggota laki-laki saat ini masih terdapat empat orang. 105, awalnya 24 orang dari masing-masing kelompok orang.

Dari perusahaan DS-LNG, KSP ini mendapatkan modal awal 50 juta, di tahun 2017.  Hingga kini, di Juli 2019, angka pemasukan di kisaran Rp230 juta, sedangkan pengeluaran pinjaman lebih kurang Rp140 juta, hampir sama dengan saldo pinjaman yang ada pada anggota. Untuk simpanan wajib, lebih kurang Rp21 juta dan simpanan pokok lebih kurang Rp10 juta.

“Seiring dengan perkembangan, makin naik,” kata Marma meyakinkan.

Untuk saat ini, menurut Marma, pengembalian pinjaman masih bersifat stabil. Adapun, yang belum mengembalikan, belum dapat dikategorikan kredit macet, akan tetapi kredit bermasalah. Dikatakan bermasalah, karena hanya terlambat dalam pengembalian yang belum sampai berbulan-bulan.

Marma menambahkan, pada tahap selanjutnya, KSP akan memberikan pelayan pinjaman dengan berbagai produk, sesuai dengan tujuan penggunaan oleh anggota. Sedangkan dari produk penghimpuan dana, akan dikembangkan produk-produk simpanan, seperti simpanan pendidikan, simpanan kesehatan, simpanan arisan, dan produk-produk yang tidak bertentangan dengan peraturan.

“Jangkauan pelayanan akan dikembangkan  lagi meliputi tiga kecamatan, Kintom, Batui dan Nambo, melalu kerja sama dengan kelompok simpanan, pertanian da perikanan sebagai mitra CSR Donggi Senoro,” harapnya.

Koperasi”Momposaangu Tanga’ Nulipu” di Desa Kalolos, Kecamatan Kintom, Kabupaten Banggai. (FOTO: IST)

 

Sementara itu, untuk Koperasi Pertanian berada di Kintom. Koperasi bernamakan “Momposaangu Tanga’ Nulipu”,  kini menaungi 16 kelompok tani mitra binaan PT DS LNG, yang tersebar juga di tiga kecamatan itu.

Koperasi ini menjadi pemain penting dari sentra perdagangan hasil palawija dan perkebunan petani di tiga kecamatan, dan telah menjangkau pasar Palu dan Gorontalo.

“Jumlah anggota awalnya 24 orang di 16 kelompok. Sekarang jumlahnya 44 orang,” kata Salim ketua Kopeasi Pertanian Mompaangi Tanga’ Nulipu.

Saat ini koperasi dipimpin Salim, masih fokus pada pendistribusian cabai gorontalo. Adapun cabai tersebut dikirim langsung ke Gorontalo, per dua harinya.

“Kurang lebih kita mengirim ke Gorotalo itu, kadang 200, kadang 400 sampai 600 kilo gram. Sesuai pasokan yang ada, tapi di bawah 50 kilo tidak dikirim,” timpal bendahara koperasi ini, Nurdin.

Awal mendapatkan pasar dari Gorontalo, berkat bantuan perusahaan. Anggota koperasi dan management CSR perusahaan melakukan survey di Gorontalo, dan akhirnya mendapatkan dua pembeli.

Selain Gorontalo, permintaan lainnya datang dari Kota Palu. Semua pengiriman dilakukan melalui  armada kendaraan darat.

Sebelumnya koperasi ini mendapat permodalan dari Perusahaan DS-LNG sebesar Rp 30 juta.

CSR Manager PT Donggi-Senoro LNG, Pandit Pranggana, mengatakan, adanya pembinaan koperasi, kelompok tani dan nelayan serta CSR lainnya, merupakan salah satu misi perusahan.

“Ini tanggung jawab lingkungan perusahaan kepada masyarakat. Maka ditunjuklah depertamen sendiri, divisi sendiri, karena keseriusan kami kepada masyarakat sekitar,” ujar Pandit saat visit media bulan lalu.

Menurutnya, semua program CSR, berdasarkan hasil analisa data  lingkungan. Perusahaan membaginya menjadi tiga ring wilayah. Ring satu, di tiga kecamatan, Batui, Kintom dan Nambo, ring dua se Kabupaten Banggai, kecuali tiga kecamatan utama. Dan di ring tiga, se Sulaweesi Tegah.

“Pilar-CSR ada tiga pilar sudah disetujui oleh manajemen perusahaan, ada community development, community relation, dan public infrastruktur,” sebutnya. (NURDIANSYAH)