Diplomasi Daerah Melalui Musik

oleh
Amri Palu

PENYANYI serba bisa asal Kota Palu, yang sukses dalam blantika musik Indonesia di Jakarta, dan telah menghasilkan sejumlah album tunggal maupun kompilasi. Memiliki kemampuan membawakan lagu-lagu Barat dan terlebih berirama pop, dangdut, rock, country, reage dan keroncong.

Amri Palu yang secara sinonim dimaksudkannya “Anak Muda Republik Indonesia” dari Palu, yang menjadi popular ketimbang nama aslinya Umar Endah Al Amri.

Dalam kanca dunia musik, ia memiliki ciri penampilan khas, selalu memakai  kacamata hitam dan baret atau topi hitam pula.

Selama di Jakarta ia bergabung dalam group Batavia Raege dengan menghasilkan tiga buah album. Sering melakukan show ke berbagai daerah, baik  show amal maupun untuk kampanye  Partai.

Era ketenaran Amri Palu dalam blantika musik di tanah air yaitu sejak 1990-an hingga 2000-an, terutama dalam genre dangdut raege. Penyanyi pertama asal Palu yang memulai mempopulerkan dan menggabungkan lagu bahasa Kaili, dalam beberapa lagu yang dinyanyikan saat bergabung di Batavia Raege dengan gaya rap.

Namanya masuk dalam jajaran artis, bukan hanya menghasilkan album lagu, tapi puluhan kali mendapat show di berbagai kota di Indonesia dan jadwal tampil di layar TV.

Namanya cukup melambung dengan membawa nama Palu (maksudnya Kota Palu) di belakang nama Amri, yang ikut mempopulerkan kota ini.  Ini juga  sebagai diplomasi budaya daerah Kaili melalui musik secara nasional.

Kini sang  penyanyi serba bisa itu telah tiada. Umar Alamri telah berpulang ke Rahmatullah dalam usia 60 tahun di Parigi, Ahad 2 Juni 2019.

Dalam beberapa tahun terakhir namanya memang tenggelam seiring banyaknya lahir penyanyi  pendatang baru. Tetapi bukan berarti Amri telah meninggalkan dunia tersebut, di Jakarta dia masih sering tampil dalam acara terbatas, mengingat usianya tidak muda lagi.

“Beberapa bulan lalu, beliau dari Jakarta sudah kembali ke Parigi. Rencananya memang sudah mau menetap di Parigi, tapi kemudian sempat masuk rumah sakit karena strok tapi tidak terlalu parah. Bahkan saya sempat ketemu sekitar sebulan lalu waktu Pekan Olah Raga Provinsi (Poporov) Sulawesi Tengah di Parigi. Saat itu masih sempat bersendagurau. Sehari sebelum meninggal sempat jatuh pingsan tak sadarkan dir,i hingga beliau telah tiada,” cerita Saiful Bahri Bahasyuan, salah satu keponakan almarhum ke media ini.

Sebelum meniti karier secara profesional di Jakarta, pada akhir dekade 1970-an ia telah dikenal sebagai penyanyi muda yang tenar di Kota Palu. Mempopulerkan lagu-lagu daerah Kaili ciptaan komponis legendaris Hasan Bahasyun yang merupakan paman dan guru pertama yang banyak memberi tempaan dalam menyanyi. Bersama Riry Lamadjido, Roby Lamadjido, dan Laela Bahasyun menghasilkan dua album lagu Kaili untuk pertama kalinya di Kota Palu pada tahun 1970-an.

Sejak  tahun 1984, ia hijrah ke Jakarta mengembangkan karier dalam bidang tarik suara. Mula-mula ia menjadi penyanyi pub dan dari situlah seorang produser menawarinya masuk studio rekaman lagu pop, dangdut, raege, dan lagu Kaili (ciptaan Amri Palu sendiri).

Putra Kaili kelahiran Parigi, 21 Juni 1959 menyelesaikan pendidikan dasar (SD) di Parigi, SMP di Poso dan SMA di Palu.  Amri Palu pernah mencoba masuk fakultas kedokteran di sebuah perguruan tinggi di Makassar, namun tidak lanjut.  Akhirnya memilih berkarier di panggung hiburan,  dengan menghasilkan banyak album.

Beberapa album yang ditelurkannya; Secret Love (Pop Barat/Country 1989 yang diproduksi Broadway Recoreds) dengan nama Amri Hammer, Only One Women (Pop Barat), Mencari Cinta (pop), Undangan Palsu (dangdut), Dua-Dua (dangdut), Angka Satu (dangdut), Nalentoramo (raege lagu Kaili), Posabara (Kaili), Remix Dangdut Hous (bersama neneng Anjarwati), Irama Dero Poso Nonstop dan Album Emas Amri Palu bersama Melda To’umbo tahun 2009 yang diproduksi Pamona Record, dan lain-lain.

Talenta seni musik Amri Palu terasah dari sang maestro Hasan Muhammad Bahasyuan, guru yang selalu memberi spirit untuk totalitas dalam kesenian sebagai pilihan hidup.

“Bagi saya secara pribadi Hasan Bahasyuan itu bukan saja sebagai keluarga dekat saya. Tapi dia adalah guru saya yang sangat berjasa dalam mendidik secara langsung mengenal kesenian, terutama tari dan music,” ungkap Amri Palu pada penulis dalam sebuah acara di Donggala tahun 2008.  (JAMRIN ABUBAKAR)