Deja Vu Terorisme di Akhir Tahun

oleh
Ilustrasi

Hari Raya Umat Kristiani Natal dan Tahun Baru harus aman dari kejahatan. Terutama kejahatan terorisme. Setidaknya itu yang ditekankan oleh Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Rudy Sufahriadi.

Kepolisian akan menggelar operasi lilin Tinombala 2017, melibatkan 3.878 personel yang terdiri dari 930 polis dan 379 TNI, dan selebihnya mitra Kamtibnas. Operasi ini dilakukan agar kegiatan keagamaan yang dilakukan setiap umat bisa berjalan dengan lancar. Setiap golongan agama tidak boleh melakukan penghentian kegiatan agama lainnya.

Ya, terorisme adalah kerawanan yang utama yang diwaspadai oleh Kepolisian rutin setiap tahunnya.  Bahkan Kepolisian Sulteng sudah memetakan kelompok terorisme ini. Yakni, Jamaah Islamiyah (JI) yang berafiliasai pada Thaliban dan kelompok yang berafiliasi pada ISIS.  Di luar itu, terdapat terorisme parsial yang hanya belajar lewat internet, yang menurut istilah kepolisian “Lone Wolf”.

Bagi masyarakat awam seperti kita, kejahatan terorisme akhir tahun tentu tidak terpikirkan. Apalagi intensitas kejadian teror tidak bisa dikatakan rutin, frekwensinya random. Akan tetapi dikarenakan dua momen dalam hal ini, Natal dan Tahun baru  perlu menjadi kewaspadaan Kepolisian.

Sudah menjadi rutinitas tiap tahunnya Kepolisian di negeri ini melakukan hal seperti itu. Serutin analisa para pakar bahwa akhir tahun hari yang mesti diwaspadai. Dan mungkin serutin bodohnya pelaku terror merencanakan hal itu di waktu yang sama. Sehingga soal isu terorisme dan tindakan kewaspadaannya jadi rutinitas setiap akhir tahun, seperti  “deja vu”.

Ah! Mestinya pemerintah mencari formasi baru untuk menangani ini, Perlu ada kajian khusus soal ini.   Jikalau mau membuka diri, Pemerintah dan pihak keamanan negeri ini, perlu melihat sejauh apa keresahan masyarakat soal ini. Tidak hanya melihat pada kelompok minoritas agama lain yang dianggap sebagai korban, tidak juga hanya lewat kelompok-kelompok yang menjalankan proyek deradikalisasi, akan tetapi pada kelompok muslim, pakar Islam, ulama, ustad dan  akar rumput muslim.

Ada satu hal yang sulit disikapi masyarakat kita, sebenarnya sudah lama diperbincangkan, dan tak mendapatkan penyelesaian yaitu adanya stigmatisasi terorisme hanya ada pada kelompok yang bercantolan dengan Islam. Tentu ini juga perlu dipikirkan dalam tahun-tahun mendatang. Diksi terorisme pada kelompok Islam mestinya harus “diusangkan”. Kecemburuan kepada sepenggal istilah ini toh terjadi di sebagaian besar masyarakat.  Kalau ada penilitian atau survey menunjukan mayoritas warga Muslim menganggap Kelompok Teroris itu bukan bagian Islam, mungkin ini hanya upaya defensive agar umat Islam tidak dikesankan sebagai Teroris, bukan berarti Narasi Radikalisme dan Terorisme yang bersinggungan dengan Islam akan surut.

Soal istilah dan terjemahan terrorisme, negara Indonesia memang serupa dengan negara-negara di dunia, terutama negara barat. Berbeda dengan Turki misalnya, selain menunjuk wajah kelompok ISIS sebagai teroris, juga menunjuk wajah Pemberontak Kurdi yang sebagai penjahat teroris. Bahkan terorisme Kurdi dianggap Turki jauh lebih berbahaya bagi Negara dan oleh mayoritas Masyarakat Turki. Sedangkan di sini, semua pemberontak separatis tak terstigma Teroris sekalipun model kejahatan hampir sama, mereka membunuh dan menculik warga, bahkan membunuh banyak aparat secara membabi buta.

Mestinya dicarilah padanan kata yang tepat untuk menggambarkan kelompok Islam yang antagonistic ini. Sebab sampai sekarang bila kelompok agama lain melakukan persekusi, ancaman pembunuhan dan sebagainya, tidak satupun dicap radikalis apalagi teroris. Keresahan umat Islam dimana hanyalah kelompok yang mengakuIslam dianggap sebagai teroris di tingkat akar rumput sudah lama, mengakar, dan bisa jadi tumbuh menjadi benih-benih yang disemai dan akhirnya dipanen oleh sekolompok orang dijadikan sebagai “teroris”baru. Dan akhirnya kasus ini selalu rutin dan tak berhujung.

Namun umat Muslim juga tidak semestinya tersinggung dengan aparat soal pengamanan di akhir tahun. Jangan mengganggap, karena itu, seolah tergambarkan di lingkungan mayoritas Islam menjadi tidak aman bagi pemeluk agama lain, padahal soal sikap toleransi Islam di Indonesia tidak perlu lagi dipertanyakan.  Perlu diingat, selama ini Polisi dalam pengamanan juga melakukan hal yang sama pada Idul Fitri, bahkan boleh dibilang lebih sibuk daripada menjelang Natal dan akhir tahun, yaitu operasi ketupat/Madura, mengatur arus mudik dan arus balik ketika Idul Fitri.***