CSR DSLNG Menjawab Kekhawatiran

oleh
Perusahaan Gas Cair DSLNG (ilustrasi)

SERING menjadi aksioma, bilamana ada perusahaan besar, pasti hanya berkepentingan mengeruk hasil kekayaan bumi masyarakat setempat. Perusahaan hanya dianggap merugikan, atau mengancam keberlangsungan hidup di wilayah itu.

Perusahan kilang gas cair PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), nampaknya berupaya untuk menggilas stigma buruk itu.  Dengan Corporate Social Responsibility (CSR), justru mencoba mendorong kesejahteraan masyarakat, serta melindungi lingkungan.

CSR Manager PT DSLNG, Pandit Pranggana mengatakan, di awal-awal pendirian, tahun 2017 perusahaan ini tentu mendapat banyak penolakan. Maka, menjawab itu tahun 2008, perusahaan menggunakan sistem stimulan.

Setelah dievaluasi, langkah tersebut rupanya kurang efektif. Masyarakat justru tidak mandiri, dan bahkan bantuan hanya dijual kembali. Maka dari itu, DS-LNG membuat sistem bantuan ini lebih terarah. Oleh karena itulah, perusahaan ini  membuat depertamen dan divisi sendiri.

“Kadang-kadang ada kekhawatiran masyarakat DSLNG tidak bebuat.  Sebenanrnya tidak perlu khawatir, karena CSR merupakan salah satu misi perusahan tanggung jawab lingkungan ke masyarakat,” kata Pandit di sela-sela visit bersama awak media pada Senin 26 Agustus 2019.

CSR ini fokus di tiga ring wilayah. Ring I di tiga Kecamatan, Batui, Kinton  dan Nambo, Ring II se-Kabupaten Banggai kecuali tiga kecamatan (Batui, Kintom dan Nambo), dan Ring III Sulaweesi Tengah.

Adapun Pilar-CSR ini, terdapat tiga, yaitu community development, community relation, dan public infrastruktur.

Di bidang comunity development,  fokus pada  lima bidang, ekonomi, lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan manajemen.  “Untuk manajemen lebih ke program internal,” ujarnya.

Kini menurutnya, bantuan diberikan secara terukur.  Maka dari itu, misalnya dalam hal membina kelompok tani,  CSR membuat kurikulum, lalu memberikan pelatihan untuk kemandirian kelompok. Selain itu, ada standar brake house power (BHP—besarnya daya penhasilan, red) yang mereka penuhi. Sehingga dengan itu  bantuan itu bermanfaat sekali, bukan hanya dijual lalu dibeli, tapi tidak menguntungkan.

“Kita ada Rencana Stratergi lima tahun kedepan,” kata dia.

Mitra Binaan DSLNG, Kelompok Wanita Tani Bilalang Jaya.

DS-LNG juga memahami bahwa di lapangan tentu banyak persoalan. Misalnya, terkait persoalan yang dihadapi petani, dimana kadangkala harus berhadapan dengan “bujukan” tengkulak. Oleh karena itu,

“Makanya kita ada komitmen, dalam kondisi apapun. Dan kita punya mekanisme ada presentase, meskipun diserahkan di akhir tahun,” tambahnya.

Sementara itu, dalam pilar community relation, perusahaan membangun koordinasi dengan pemerintah, baik lewat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) maupu Musyawarwah Pimpinan Kecamatan (Muspika). Dalam hubungan koordinasi ini, membahas tentang kegiatan social budaya, keagamaan, maupun kesejahteraan.

“ Jadi kita tidak menghilangkan filantropi tapi kita mengarahkan,” imbuhnya.

Sementara public infrastruktur berupa pembangunan infrastruktur berupa jalan sepanjang 32 Kilometer.

Tidak sekadar menyampaikan misi itu, DS-LNG menunjukkan bukti kepada beberapa awak media, diantaranya mengunjungi kelompok usaha tani binaan, koperasi simpan pinjam, koperasi tani, koperasi nelayan, dan kelompok usaha kecil menengah.

“Alhamdulillah kami terbantukan, kami sudah pernah mengirim proposal ke dinas tapi tidak pernah dikasih bantuan. Banyak sekali persyaratannya. Tapi di perusahaan ini, Alhamdulillah kami langsung dibantu,” kata Ketua Kelompok Nelayan Belibis Jaya, Kelurahan Lumpio, Kecamatan Nambo, Banggai, Anto Nona’I, saat dikunjungi media di lokasi pembuatan perahu dari dana bantuan DSLNG.

Dia mengakui bukan hanya bantuan nelayan, pihak DSLNG juga memberikan pelatihan dan pendampingan.

“Ada bantuan diberikan Donggi dan pelatihan seperti membuat jaring dan cara menangkap ikan,” kata, Anto Nona’i.

Kelompok Nelayan Belibis Jaya ini beranggotakan 10 orang, sebelumnya hanya mengandalkan alat tangkap seadanya. Hasilnya pun tidak seberapa. Setelah bergabung dan diberikan bantuan alat pendorong perahu, maka jangkauan perahunya pun semakin jauh. Dengan begitu, pendapatan ikan semakin banyak.

Terhitung hingga saat ini, DSLNG memiliki mitra binaan sekira, dua Bumdes, tiga koperasi, 16 kelompok tani, 16 kelompok nelayan, empat kelompok keuangan mikro. Total anggota sekira 836 orang.

Sementara itu, dari data Humas DSLNG yang dikirimkan ke media ini, beberapa jenis bantuan lainnya selain cakupan sektor ekonomi. Di sektor pendidikan, DSLNG memberikan beasiswa utusan daerah lima mahasiswa, kemudian beasiswa penddikan berprestasi dan kurang mampu pada 50 siswa SD, SMP, dan SMA.

Di sektor kesehatan, program intervensi gizi spesifik pada 13 balita gizi kurang dan sembilan ibu hamil. Kemudian pelatihan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, kepada 20 tenaga kesehatan Puskesmas Kintom.

Selanjutnya pada sektor lingkungan, yaitu program koservasi ex-situ maleso. Total jumlah anakan yang dilepasliarkan sejak 2013 hingga saat ini sebanyak 100 anakan.

Terakhir, infrastruktur yang dibangun, yaitu kios UKM di ruang terbuka hijau, di Teluk Lalong, sebanyak 15 kios. (NURDIANSYAH)