Cerita Penghuni Huntara, Merangkai Hidup dari Rongsokan Besi

oleh
Erna saat menjajakan nasi kuningnya di Huntara desa Lolu, Kec. Biromaru, Kabupaten Sigi. (FOTO: IKRAM)

Nasi kuning, nasi kuning, nasi kuning, teriak Erna (30), sambil mendorong gerobak berisi jualan berkeliling dari lorong satu ke lorongan lainya di lokasi hunian sementara (huntara) Desa Lolu, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi.

Demikianlah hari-hari yang dilewati Erna sejak menempati huntara, pascabencana alam yang menimpa 28 September silam.

Erna bersama keluarga kecilnya, merupakan satu diantara penyintas dari Desa Loru, Kecamatan Biromaru. Mereka menempati huntara yang dibuat salah satu BUMN.

Semenjak tinggal di huntara, Erna bersama suaminya, Ilham (34), harus memutar otak guna memenuhi kebutuhan hidupnya hari- hari bersama anak semata wayangnya, Ical (8), tanpa harus menunggu datangnya bantuan.

Untuk memulai usaha jualan nasi kuningnya, Erna harus mengumpulkan besi-besi rongsokan rumah yang roboh akibat gempa yang ditinggalkan pemiliknya.

Uang hasil menjual besi rongsokan itulah yang digunakan untuk membeli bahan nasi kuning.

“Pertama-pertama, buat nasi kuning satu liter dijual pakai termos keliling kompleks huntara,” tutur Erna, Kamis (18/04).

Jualan yang laku membuat Erna semakin bersemangat. Dari hari ke hari, jenis jualan pun ditambah. Bermodal beras ketan bantuan, dia lalu membuat “Putu” (makanan tradisional).

“Ternyata Putu juga laku,” katanya.

Seiring dengan waktu, pelangganya pun meningkat dan jualanya mulai bertambah. Dari hanya nasi kuning, putu, kini bertambah dengan kue-kue basah. Dari hanya satu liter nasi kuning, menjadi sampai 3 sampai 4 liter dalam sehari.

Untuk membuat semua jualanya, Erna harus bangun lebih awal sekira pukul 03.00 dinihari. Hal ini dilakukan agar Erna bisa menjajakan jualanya sekitar pukul 06.00 Wita.

“Ada sekitar empat kompleks huntara saya keliling jualan. Huntara PMI, Huntara Kompas, Huntara Dompet Dhuafa. Biasanya sekitar pukul 08.30 semua jualan sudah laku,” katanya.

Dia mengaku bersyukur karena dalam sehari bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp300 ribu.

“Tapi itu belum dipotong dengan membeli bahan-bahan lagi untuk dijual besoknya,” katanya.

Dia, berharap dana stimulan bisa segera dicairkan dalam waktu dekat. Tidak hanya sekadar dijanji-janji. (IKRAM)