BPOM: Kadar Methanol Melebihi Standar

oleh
Jhon Tison Maelo saat menjalani sidang perdana di PN Palu, Rabu (07/08). (FOTO: MAL/IKRAM)

PALU – Jhon Tison Maelo (30), mengaku bersalah dan menyesal atas meninggalnya belasan warga di Kota Palu akibat mengonsumsi minuman berakohol yang diproduksi perusahaannya, PT. Sinar Abadi Spark Plus.

Atas kejadian tersebut, pihaknya tetap masih memproduksi minuman beralkohol, tapi sesuai dengan aturan perundang-undangan.

Hal ini disampaikan Jhon Tison, di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Palu yang diketuai Sukmawati, saat dirinya menjalani sidang perdana, Rabu (07/08).

Ia juga berjanji akan membeli alat pengukur kadar metanol, untuk dipergunakan di perusahaannya.

Jhon Tison Maelo sendiri merupakan terdakwa kasus kesehatan, di mana perusahaannya memproduksi dan memperdagangkan pangan yang tidak memenuhi standar keamanan pangan yang melebihi batas maksimum kandungan metanol dalam minuman beralkohol.

Sidang berlangsung marathon. Usai pembacaan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), Made Sukerta, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan  enam saksi, yakni Sri (admin perusahaan), Ajrin (peracik minuman di perusahaan), Boby Fahri (teman korban), Ifal dan Agung (karyawan toko penjual miras) dan Anita (istri korban meninggal).

Selain enam saksi tersebut, JPU juga menghadirkan ahli dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Palu, Ghazali.

Ahli berpendapat, dari hasil uji lab yang dilakukan terhadap sampel minuman beralkohol yang dikonsumsi warga yang meninggal, ditemukan bahwa kadar metanolnya melebihi standar keamanan, yakni di atas 0,01 mililiter.

“Metanol ini beracun dan bisa menyebabkan kematian,” katanya.

Usai pemeriksaan saksi, ahli dan terdakwa, ketua majelis hakim lalu menunda sidang pada hingga Rabu (14/08) mendatang dengan agenda pembacaan tuntutan dari JPU.

Sesuai dakwaan, terdakwa telah mengelola perusahaan pembuatan minuman beralkohol peninggalan orang tuanya sejak tahun 2011.

Miras yang dibuat dari bahan utama beras ketan dan ragi, yang diproduksi dengan cara farmentasi lalu menghasilkan air dan selanjutnya dilakukan penyulingan guna mendapatkan etanol, yang kadar alkoholnya 75 persen sampai 97 persen.

Pascabencana alam, September 2018 lalu, pabrik minuman beralkohol milik PT. Sinar Abadi Spark Plus tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Namun untuk memenuhi minuman beralkohol di Kota Palu, terdakwa berinisiatif sendiri membeli etanol di Makasar sebanyak 3 jerigen atau 90 liter dengan kadar alcohol berkisar 80-90 persen.

Setelah itu, terdakwa tetap menggunakan label dengan komposisi yang ada sebelumnya dan tidak melaporkan hasil produksinya untuk diuji oleh BPOM, sebelum diedarkan.

Hasil pengujian BPOM dari sampel barang bukti minuman beralkohol, masing-masing label 1 B Topi Raja, kadar methanol 0,24 persen, kadar Etanol 15,64 persen, label 2 B Topi Raja dengan kadar methanol 0,24 persen dan ethanol 15,93 persen, label 3 B Topi Raja dengan kadar methanol 13,01 persen dan ethanol 3,13 persen.

Kemudian label 4 A Benteng dengan kadar methanol 10,67 persen dan ethanol 3,85 persen, label 4 B Topi Raja dengan kadar methanol 6,06 persen dan ethanol 6,64 persen, serta label 4 C Topi Raja dengan kadar methanol 12,77 persen dan ethanol 3,32 persen.

Atas perbuatannya, terdakwa didakwa melanggar Pasal 140 jo Pasal 86  ayat (2) UU RI Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan  Jo Pasal 5 Peraturan BPOM  RI Nomor  14 tahun 2016 tentang Standar Keamanan dan Mutu Minuman Beralkohol.

Sebelumnya, 14 orang meregang nyawa usai menenggak minuman beralkohol, salah satunya Merek Banteng yang diproduksi terdakwa.

Peristiwa tragis ini terjadi di tiga kelurahan di Kota Palu dengan waktu yang hampir bersamaan, yakni Kelurahan Kayumalue Pajeko, Tondo dan Kelurahan Tatanga. (IKRAM/MELDA)