“Boli Mahantuda, Kita Aia Moto Utus”

oleh
Ilustrasi

Indahnya agama ini. Wajar dikatakan Rahmatan lil Alamin. Selain memberi jalan kepada ummat manusia untuk mengenal Tuhan-NYA, ternyata Islam juga hadir untuk menjaga nyawa manusia. Nyawa seorang muslim memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT).

Namun di jaman sekarang, manusia telah banyak menyalahi syariat ini, nyawa manusia sekarang seakan sangat murah sekali. Berita tentang pembunuhan bukanlah hal asing lagi yang menghiasi berita di negara kita. Hutang ratusan ribu saja harus ditebus dengan hilangnya nyawa, wal ‘iyadzubillah.

Padahal, Allah SWT dengan tegas telah melarang perbuatan tersebut, bahkan mengancam pelakunya dengan  kekal dalam Jahanam, mendapatkan murka dan laknat.

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An Nisa: 93).

Ada yang menafsirkan ayat ini membunuh orang kafir atau orang munafik tidak termasuk dalam ayat ini. Akan tetapi membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian damai atau yang tunduk kepada pemerintah muslim atau yang meminta perlindungan keamanan kepada pemerintah muslim, adalah suatu perbuatan dosa. Kepada orang-orang munafik, maka syariat Islam menjaga darah mereka selama tidak menampakkan prilaku kemunafikannya.

Allah SWT kembali berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki atau perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. AlAhzab:58)

Apa pun dalihnya, sesungguhnya haram mencaci dan membunuh sesama Muslim. Kecuali betul-betul ada pengadilan di bawah Khalifah Islam yang membuktikan bahwa orang itu memang harus dihukum mati.

Tak hanya dalam Al-Qur’an, larangan menganiaya dan menghina sesama muslim juga ditegaskan dalam satu Hadits-nya Rasulullah SAW. Dalam Hadits yang sama, Rasulullah juga menyatakan bahwa sesama muslim adalah bersaudara.

“Seorang muslim itu bersaudara terhadap muslim lainnya, ia tidak boleh menganiaya dan menghinanya. Seseorang cukup dianggap berlaku jahat karena ia menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

Banyak Hadits lain terkait peringatan Rasulullah kepada ummatnya agar tidak melakukan hal ini.

“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (Bukhari Nomor 46 dan 48, Muslim Nomor 64 dan 97, Tirmidzi Nomor 1906 dan 2558, Nasa’I Nomor 4036 dan 4037, Ibnu Majah Nomor 68 dan Ahmad Nomor 3465,3708)

 

KOTA “BERAIR” ITU “DISULUT API”

Kota ini terbilang damai, lingkungannya asri dengan pepohonan di kiri kanan jalannya. Bahkan di malam hari, kota berpenghuni orang santun dan toleran ini sering dijuluki Hongkong-nya Indonesia, paling tidak Sulawesi Tengah.

Kenapa toleran. Kota ini dihuni suku asli, yaitu Balantak, Banggai dan Saluan. Namun Saluan-lah penghuni paling dominan. Suku ini dikenal paling gampang berinteraksi dan berbagi dengan suku pendatang seperti Gorontalo, Makassar-Bugis (Sulsel), Jawa, Buton-Muna-Raha (Sultra), Mori (Poso), Kaili(Palu dan sekitarnya), Manado dan Tionghoa.

“Luwuk kacau lagi? Setahu saya, Luwuk itu tidak pernah begitu,” demikian pertanyaan bernada heran yang diungkapkan seorang jurnalis di Palu.

Wajar jika jurnalis itu heran dengan peristiwa yang terjadi belakangan ini.

Ya, riak kecil agak menggelembung terjadi mendadak di tanah Luwuk. Penyebabnya soal perkelahian antara warga yang kemudian menyeret-nyeret warga kebanyakan. Sempat terjadi penutupan jalan dan pembakaran ban di beberapa titik.

Warga kota ini marah. Warganya bernama Nurkholis (22) mati, pasca dianiaya sekelompok orang yang diketahui merupakan warga Muna.

Korban yang merupakan salah satu pegawai honorer Satuan Pol PP dan Pemadam Kebakaran.

Beruntung emosi tak sampai tersulut membesar, api amarah menjadi redup berkat kesigapan pemerintah setempat bersama aparat keamanan dari kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Informasi terakhir yang diperoleh media ini, Kamis (24/08) malam, warga suku Muna dikabarkan mengungsi ke hutan untuk menghindari gesekan fisik dengan keluarga korban pembunuhan, Almarhum Nurholis. Akibatnya, pasar tradisional Simpong tutup.

Sebelum itu, ratusan warga gabungan dari Kecamatan Kintom dan Batui masuk di Kota Luwuk untuk merazia warga suku Muna.

Mereka dianggap sudah membabi buta hingga menyebabkan satu orang luka berat akibat dianiaya. Belakangan diketahui bahwa korban tersebut merupakan warga Gorontalo yang berprofesi sebagai tukang parkir, bukan orang Muna.

Hal ini mendapat banyak keluhan dari warga. Keluhan mereka itu disampaikan melalui akun Facebook. Salah satu keluhan itu disampaikan oleh pemilik akun Facebook milik Pratiwi Manoarfa.

“Torang Yang tidak Ada Dosa & Salah Tapi Kena Imbasnya, Penutupan KKN Kota Digegerkan Dengan Sekelompok Orang Yang Datang Tiba-Tiba Dan Membabi Buta Dengan Membawa Barang Tajam dan Main Sarambang, Merusak Fasilitas Kampus Merusak Kendaraan Dosen Dan Teman2 Mahasiswa lainy. #Ya Allah Torang Juga Anak Daerah Asli, Darah Kami Pun Saluan Asli Tapi bukan begini Caranya Membabi Buta Main Parang bagini.

Tidak sedikit juga warga mengajak untuk bersama-sama menjaga kedamaian di Kota Luwuk.

Implikasi penting dari insiden (bukan huru hara) ini adalah bahwa, Kota Luwuk yang kini dikepung proses modernisasi akibat masuknya perusahaan multi nasional di daerah itu membawa risiko logis dinamika masyarakat akan berderak kencang.

Proses sekularisme juga berlari dan merambah kencang di derah itu, membawa arus materialism tak dapat dihindari.

Salah satu contoh, munculnya penyakit sosial seperti pelacuran terbuka, perjudian,  miras, boleh jadi ada narkoba yang memagari wilayah itu. Itu semua merupakan simponi-simponi menyedihkan dari sebuah daerah yang dimasuki perusahaan multinasional. Intinya telah terjadi pergeseran-pergeseran norma dan nilai di masyarakat Banggai.

Apa yang terjadi ini merupakan ekses dari tingginya dinamika masyarakat yang kalau tak dicegah akan mengarah pada jurang individualistic.

Indahnya Kota Luwuk, bak Hongkong di malam hari. Tegakah kita menodai keindahan kota ini dengan lumuran darah dan kebencian? (FOTO: GOOGLE IMAGES)

ADAKAH DESAIN PROVOKATOR?

Ada yang menarik dari pernyataan seorang Anggota TNI, saat menenangkan massa yang melakukan aksi.

“Kita ini sayang kamu, petugas sayang masyarakat. Pake otak KAMU DIKASIH DUIT, KAMU DIKASIH MAKAN, IKUT-IKUTAN TIDAK TAHU PERSOALAN. Sudah diurus, sudah dipangge ketua adat, pangge tokoh-tokoh diurus di Polres sana, kamu yang tidak tahu persoalan, mengamuk disini” demikian kata anggota TNI tersebut dalam video yang diunggah di youtobe dari  akun Lagu Daerah Bugis dan Bidjon CH, yang diunggah dua hari lalu.

Ada yang kasih duit? Ada yang kasih makan? Mungkinkan ada oknum-oknum tertentu yang menginginkan konflik ini terjadi? Tak ada yang tahu, hanya dia saja, karena memang dia tak menyebut siapa dan berapa uang yang diberikan dan memberi makan kepada massa.

Saya  bukan orang saluan, tapi saya lama di luwuk sini, saya tahu orang saluan pe model itu, kita tentara ini, bukan tentara dalam tampurung” sambungnya.

Ada betulnya apa yang dikatakan anggota TNI ini. Menurutnya Luwuk bukan negara Saluan, bukan negara Sangir, bukan negara Kintom.

“Jangan kamu kira kamu disini Cuma dibiarkn, kalau kita tidak mau pusing, kita  biarkan, mati percuma kamu. Kamu pulang ba ojek sana, biar kamu dapat duit, atau pigi di kebun, kamu dari sini lapar menyesal sampe di rumah,” tegasnya.

Ada beberapa alasan massa melakukan aksi besar-besaran hingga melibatkan masyarakat dari luar kota itu. Mereka kesal karena aparat kepolisian dianggap lamban.

“Kami mengimbau aparat apabila ada pelapor, tolong langsung bergerak, ini dilapor jam 2, jam 3 baru datang. Jangan nanti ada uang baru bagarak. Permasalahannya bapak dikasihkan seragam untuk tugas mengamankan,” ketus warga yang mengaku sepupu korban, dengan dialek Saluan.

Ia, warga Luwuk adalah saudara kita, demikian pula dengan warga Muna yang sudah bertahun-tahun hidup di negeri ini.

Tokoh masyarakat Kabupaten Banggai, Moh Faisal Mang, meminta seluruh warga Kabupaten Banggai agar tidak mau diadu domba atau diprovokasi oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja memanfaatkan situasi.

Dia juga sangat berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pe mkab) Banggai dan unsur terkait agar segera mengambil langkah strategis, mencegah agar bentrok horizontal tidak meluas.

Asisten Bidang Administrasi, Pemerintahan, Hukum dan Politik, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng itu, menyatakan bahwa kejadian di Luwuk adalah tindakan kriminal murni.

“Kasus itu adalah tindakan kriminal murni sehingga perlu dilakukan penanganan secara hukum oleh pihak penegak hukum dan prosesnya dipantau oleh seluruh pihak,” tambah mantan Kadis Peternakan Sulteng itu

“Saya berharap masyarakat dapat selalu menjaga silaturrahmi yang baik dengan sesama masyarakat,” sambungnya.

Sementara aktivis dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) Palu, Adi Prianto meminta kepada sluruh elemen politik di Kabupaten Banggai untuk kembali ke basis konsituen menjadi juru damai.

“Sulteng punya pengalaman pahit di Poso, semua pihak repot mnyembuhkan lukanya. Di Banggai, dengan kekayaan SDA di sektor Migas, adalah hal mustahil muncul sentimen SARA di panggung politiknya, tidak hanya memutasi isu kesenjangan ekonomi tetapi akan lebih parah jika menjadi komoditi politik, apalagi dipergunakan oleh politisi daerah,” katanya.

Dia juga  berharap, alat negara dan pihak bertikai, wajib untuk memenangkan Pancasila.

“Pancasila tidak hanya dipanggil ketika isu rasial Suku Bangsa Saluan yang mengusir Suku Bangsa Muna di Bumi Banggai. Lebih dari itu, Pancasila dimenangkan melalui jalan mewujudkan kesejahteraan sosial,” tutupnya.

 

ALHAMDULILLAH, API ITU BERANGSUR PADAM

Media Alkhairaat sengaja memberi judul tulisan ini dengan bahasa sehari-hari yang digunakan suku Saluan di daerah ini. Secara utuh, kalimat ini berarti “Jangan Bermusuhan, Kita ini Bersaudara”.

Betapa penting persaudaraan ini dipupuk dalam keragaman, mengingat banyaknya kepentingan dan adat istiadat masing-masing yang bercampur dalam satu wilayah. Jika disikapi tanpa memandang bahwa semua orang, apalagi seagama dan senegara adalah bersaudara, maka ego sektoral dan ambisi kearifan lokal masing-masing akan menjadi bola api yang sulit diredupkan.

Bahasa Saluan ini adalah sebuah kata kunci, bahwa itulah yang terjadi di Luwuk saat ini. Kota yang terbilang masih kecil ini sudah banyak dihuni berbagai latar budaya dan suku, sejak dahulu. Keragaman ini justru sudah terpupuk lama, dengan semangat Kita Aia Moto Utus.

Entah apa penyebabnya, semangat persaudaraan itu sempat tercoreng sedikit, meskipun akhirnya berangsur membaik dan normal.

Meski tak boleh dibilang sepele, namun buntut kasus penganiayaan ini, tidak sampai menyasar isu yang saat ini tengah dijaga keharmonisannya oleh negara, yakni Suku Agama dan Ras (SARA).

Ya, sebelum semuanya menjadi bubur, pihak pemerintah, perusahaan dan tokoh agama dan masyarakat duduk bersentuh lutut mencarikan formula penyelamatan anak bangsa di tanah Luwuk.

Situasi Kota Luwuk pada Jumat pagi ini dilaporkan telah pulih kembali. Nyala api yang sempat tersulut, akhirnya berangsur surut, setelah dilakukan rapat tertutup di ruang kerja Ketua DPRD Kabupaten Banggai, antara perwakilan massa dengan Bupati Banggai, Herwin Yatim.

Perwakilan massa Juhri Noho, meminta, organisasi tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Luwuk yang didominasi warga Muna agar diberikan kepada orang asli Babasal. Selebihnya diserahkan sepenuhnya kepada Bupati.

Bupati pun menyampaikan terima kasih kepada massa yang masih mau diajak duduk bersama menyelesaikan masalah. Dia berjanji, pada Senin mendatang akan mengeluarkan keputusan terkait tuntutan itu. Dia juga berpesan untuk tidak ada lagi aksi anarkis karena akan merugikan semua pihak.

Sejauh ini, Polres Banggai juga sudah mengamankan 10 terduga pelaku pengeroyokan yang menyebabkan tewasnya Nurkholis.

Wakapolres Banggai, Kompol Doni Prakoso Widamanto, menuturkan, tidak menutup kemungkinan pelaku akan terus bertambah.

Pemerintah tidak boleh terlena akan hadirnya sebuah kenyataan di Luwuk. Tidak boleh hanya sekadar memikirkan bagaimana pendapatan daerah dari hasil minyak dan gas di daerah itu membuat semua terhipnotis.

Pihak perusahaan juga tidak hanya mengejar keuntungan, mengangkangi tanah Luwuk, lalu mengabaikan perbaikan-perbaikan generasi dan anak bangsa di Kota Berair itu. Harus ada upaya preventif dari pihak perusahaan itu sendiri, mengawal Luwuk agar tidak terjadi dekandensi moral.

 

BERKACA DARI SAMPIT DAN POSO

Alhamdulillah, tragedi yang terjadi di Luwuk sudah usai. Masyarakat yang bertikai berbesar jiwa untuk sama-sama memilih jalan damai, sembari mengawal bersama kasus ini hingga tuntas.

Patut disyukuri, tak sebesar Sampit, salah satu kota di Kalimantan Tengah yang menjadi arena pertumpahan darah dua etnis di Indonesia, antara suku Dayak asli dan warga migran dari pulau Madura.

Ngeri sekaligus menyedihkan. Konflik yang pecah di pertengahan bulan Februari 2001 silam dan berlanjut sepanjang tahun 2001 itu, telah merenggut tak kurang dari 500 nyawa, 100 ribu warga lainnya juga harus kehilangan tempat tinggal.

Konflik Sampit tahun 2001 bukanlah insiden yang terisolasi, karena telah terjadi beberapa insiden sebelumnya antara warga Dayak dan Madura. Konflik besar terakhir terjadi antara Desember 1996 dan Januari 1997 yang mengakibatkan 600 korban tewas.

Profesor Usop dari Asosiasi Masyarakat Dayak mengklaim bahwa pembantaian oleh suku Dayak dilakukan demi mempertahankan diri setelah beberapa anggota mereka diserang.

Versi lain mengklaim bahwa konflik ini berawal dari percekcokan antara murid dari berbagai ras di sekolah yang sama.

Apapun alasannya, konflik itu sudah mencabik-cabik kebhinekaan. Banyak orang-orang tak berdosa yang terhempas tubuhnya dan bersimba darahnya di atas tanah.

Sulteng sendiri juga mengalami pengalaman pahit yang sudah berlangsung sejak Desember 1998 lalu, yakni di Poso. Meski tinggal ampas-ampasnya, namun konflik ini sesungguhnya belum berakhir, walaupun bukan lagi dengan isu yang sama. Dulunya horizontal antar warga, sekarang, vertikal antara sekelompok orang dengan aparat keamanan.

Di Bumi Sintivu Maroso itu pun sudah banyak putra putri bangsa yang meregang nyawa.

 

SALUAN DAN MUNA

Suku Saluan, merupakan suatu komunitas suku yang berada kabupaten Luwuk Banggai Provinsi Sulawesi Tengah. Orang Saluan berbicara dalam bahasa asalnya, yaitu Suku Bangsa Loinang yang hidup dalam pedalaman Gunung Tompotika, sekitar Tahun 1500 M. Bahasa Saluan termasuk unik karena dalam bahasa Saluan memiliki kasta bahasa, yang digunakan menurut umur dan status sosial.

Bagi suku Saluan, rotan diartikan sebagai harapan hidup serta kekayaan batin. Segala resiko untuk mendapatkan rotan tersebut di dalam rimba hutan harus mereka tempuh dan ambil sebagai sebuah keputusan. Dalam hal ini, tidak jarang menimbulkan konflik dan pertentangan antar kelompok terkait batas areal lahan rotan yang mereka olah.

Suku Saluan yakin bahwa segala sumber kekayaan alam adalah berkah dari Tuhan. Bahkan, mereka memiliki filosofi hidup “seorang laki-laki yang belum mampu mencari rotan di hutan, maka dianggap belum menjadi laki-laki dewasa”.

Bagaimana dengan Muna?. Menutip wikipedia, Kabupaten Muna adalah salah satu kabupaten dengan Ibu Kota Raha. Pada umumnya, orang dari Suku Muna adalah pemeluk Islam.

Pulau Muna adalah sebuah pulau yang terletak di jazirah ujung pulau Sulawesi bagian Tenggara.

Dari bentuk tubuh, tengkorak, warna kulit (coklat tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal), Suku Muna atau Wuna asli lebih dekat ke suku-suku Polynesia dan Melanesia di Pasifik dan Australia ketimbang ke Melayu.

Hal ini diperkuat dengan kedekatannya dengan tipikal manusianya dan kebudayaan suku-suku di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor dan Flores umumnya. Motif sarung tenunan di NTT dan motif sarung Muna sangat mirip, yaitu garis-garis horisontal dengan warna-warna dasar seperti kuning, hijau, merah, dan hitam. Bentuk ikat kepala juga memiliki kemiripan satu sama lain.

Orang Muna juga memiliki kemiripan fisik dengan suku Aborigin di Australia. Sejak dahulu hingga sekarang nelayan-nelayan Muna sering mencari ikan atau teripang hingga ke perairan Darwin. Telah beberapa kali Nelayan Muna ditangkap di perairan ini oleh pemerintah Australia. Kebiasaan ini boleh jadi menunjukkan adanya hubungan tradisional antara orang Muna dengan suku asli Australia. (RIFAY/YAMIN/WIKIPEDIA)