BNN Sulteng Sudah Sita 997,68 Kg Sabu

oleh
Kepala BNN Sulteng, Brigjen Pol Suyono (tengah) memberikan keterangan pers di kantornya, Senin (15/07). (FOTO: MAL/MELDA)

PALU – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulteng merilis capaian kinerja medio Januari hingga Juni 2019, Senin (15/07).

Sejak bulan Januari hingga Juni 2019, BNN mengklaim telah berhasil menyita sabu seberat 997,68 kilogram (Kg) dan obat terlarang jenis THD sebanyak 2000 butir. Barang bukti itu terdiri dari 26 kasus yang melibatkan 40 tersangka.

“BNN Sulteng terus mengupayakan pemberantasan dengan maksimal dengan cara memutus jaringan agar mampu menurunkan suplai narkoba di Sulteng. Langkah pemberantasan tidak akan menghasilkan dampak yang signifikan jika tidak diimbangi dengan dimensi atau pengurangan permintaan narkoba melalui langkah pencegahan dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Kepala BNN Sulteng, Brigjen Pol Suyono, di kantornya.

Suyono mengatakan, bangsa ini, khususnya Sulteng, dihadapkan pada situasi darurat narkoba sehingga diperlukan upaya serius untuk mengatasinya.

Olehnya, BNN juga melakukan upaya pencegahan peredaran narkotika dengan melakukan desiminasi informasi berupa sosialisasi bahaya narkoba ke berbagai lapisan masyarakat, mulai dari instansi pemerintah, instansi swasta, kelompok organisasi masyarakat,  instansi pendidikan dan perguruan tinggi, serta kelompok-kelompok masyarakat.

Di tahun anggaran 2019, lanjut dia, instansi pemerintah yang mendapatkan pengembangan kapasitas adalah instansi yang berada di wilayah ibu kota provinsi, yaitu 30 orang yang terdiri dari 3 instansi penyuluh agama di Kementerian Agama Provinsi Sulteng, penyuluh KB dan generasi berencana BKKBN dan pendamping pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Serta instansi pendidikan yang mendapatkan pengembangan kapasitas adalah 5 perguruan tinggi,” katanya.

Lebih lanjut Suyono mengatakan, selama semester 1 tahun 2019, BNN Sulteng bersama instansi pemerintah dan lembaga masyarakat juga telah merehabilitasi 237 pasien narkoba, mendapatkan layanan pasca rehabilitasi untuk menjaga kesembuhan pasien.
Sejauh ini, jumlah pasien yang telah mendapatkan layanan pasca rehabilitasi secara reguler adalah 25 persen produktif.

Di penghujung, dia mengajak kepada media untuk bersama membantu mengawal  secara optimal dalam menyosialisasikan bahaya narkoba ke masyarakat. (MELDA)