BNN: 59 Persen Penyalahguna Narkotika di Sulteng dari Kalangan ASN

oleh
Kepala BNN P Sulteng, Brigjen. Pol Suyono didampingi jajarannya saat memberikan keterangan pers di Kantor BNN Sulteng, Jumat (13/09). Di belakang mereka, nampak sejumlah tersangka yang belum lama ini berhasil dibekuk. (FOTO: MAL/IKRAM)

PALU – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulteng merilis persentase penyalahgunaan narkotika di wilayah kerjanya.

Sulteng sendiri berada di peringkat ketujuh tertinggi penggunaan narkotika di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian tahun 2017 yang dilakukan BNN bersama Universitas Indonesia (UI), dari jumlah penduduk Sulteng sebanyak 2,1 juta jiwa, yang menggunakan narkoba mencapai 36,4 ribu dan jumlah pengguna yang direhab sebanyak 4.290 jiwa.

Berdasarkan kategorinya, 59 persen penggunanya adalah dari kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Artinya pengguna narkoba di Sulteng tinggi. Dan paling memprihatinkan, sebanyak 181 pelajar sudah menjadi pengguna narkoba,” demikian disampaikan Kepala BNN Provinsi Sulteng, Brigjen. Pol Suyono, saat konferensi pers di Kantor BNN Sulteng, Jumat (13/09).

Untuk itu, kata dia, perlu sinergitas dan kerja sama semua pihak, sebab narkotika sendiri sudah masuk kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang perlu diseriusi semua pihak,  sebab telah masuk pada semua sendi kehidupan.

Suyono juga menyampaikan hasil kinerja dalam kurun waktu tahun 2018-2019, baik yang dilakukan Polda Sulteng atau BNN, beserta jajaran di bawahnya.

Di Tahun 2018, kata dia, BNN Sulteng telah menangani 37 kasus dengan jumlah tersangka sebanyak 67 orang, barang bukti sabu seberat 1.162  gram dan ganja seberat 2.639 gram.

Sementara di tahun yang sama, Polda Sulteng telah menangani sebanyak 440 kasus dengan 617 tersangka, barang bukti sabu seberat 5,3 kg dan 13.800 butir pil THD.

“Total yang telah digiring ke ranah hukum, dari pihak Polri maupun BNN sebanyak 481 kasus dengan jumlah 684 tersangka, babuk sabu seberat 6, 5 kilogram dan 2.639 gram ganja serta total nilai uang sebesar Rp9,7 miliar,” urainya.

Kemudian, di tahun 2019, BNN Sulteng beserta jajaran di bawahnya telah menangani 30 kasus dengan jumlah 51 tersangka, barang bukti sabu seberat 1,2 kg dan 1,30 gram ganja serta uang tunai Rp122 juta.

Sedangkan yang ditangani Polda Sulteng sebanyak 250 kasus dengan 342 tersangka, babuk 6,6 kg sabu dan 2,2 kg ganja serta 5.298 butir pil THD.

“Total untuk tahun 2019 sebanyak 280 kasus dengan 392 tersangka, babuk sabu 7,7 kg, babuk ganja 2,2 kg dan uang tunai Rp11 miliar,” katanya.

Ia menambahkan, BNN lebih terkonsentrasi pada penyidikan jaringan. Pihaknya akan menindak tegas pengguna maupun Bandar tanpa pandang bulu.

Lebih lanjut dia mengatakan, baru-baru ini pihaknya berhasil menangkap tujuh tersangka narkoba dengan barang bukti, di antaranya uang tunai jutaan rupiah, alat hisap bong, klip plastik, sabu dan lainya.

Tujuh tersangka yang baru ditangkap itu adalah Israjudin, Muhamad Ilham, Muh. Rizal alias Marco (bandar), Maolisyam, Azhari, Rifaldi (pengedar), Arif (pengguna), Go Ke Goan alias Bibi (pengedar) dan Hendra Tamin alias Hoga (penyalahguna).

Lima di antaranya ditangkap di Kota Palu dan dua orang di luar Kota Palu.

“Namun semua barang haram tersebut diperoleh di Kelurahan Tatanga yang merupakan pusat peredaran narkoba di Sulteng,” ungkapnya.

Sejauh ini, kata dia, ada tiga wilayah di Kota Palu yang menjadi target operasi penindakan, yakni Kelurahan Tatanga, Kelurahan Kayumalue dan Jalan Anoa, Kelurahan Tatura. (IKRAM)