Bias Pemimpin Shaleh

oleh

OLEH: Alwi Muhsin Aljufri

Setiap kita perlu rasa aman. Bahkan rasa aman merupakan salah satu kebutuhan penting manusia dalam hidup. Tanpa rasa aman, apalah artinya dunia dan segala gemerlapnya. Karenanya, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian mendapati paginya dalam keadaan aman, di keluarganya dan di perjalanannya, sehat badannya, memiliki apa yang ia makan hari itu, maka sungguh ia seperti dilingkupi dunia.” (HR. Tkrmidzi dan Ibnu Majah).

Kunci dari semua kenyamanan terletak pada kenyamanan jiwa. Sedang kenyamanan jiwa bersumber dari rasa aman yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Dengan jelas, Allah SWT mengatakan, “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang taubat kepada-Nya. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka kebahagian dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d: 27 -29).

Pengaruh iman dan amal shalih terhadap rasa nyaman sangat besar. Ada kontribusi siginifikan yang diberikan kenyamanan hati terhadap kenyamanan fisik. Apa yang ada di hati akan “bersuara” pada fisik kita. Bahkan, kadangkala, kadar keimanan dan keshalihan itu tidak saja memberi rasa aman pada pemiliknya.

Seringkali keshalihan seseorang berimbas kepada munculnya rasa aman pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Seperti sosok Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang terkenal keshalihannya itu. Malik bin Dinar mengisahkan, ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, para penggembala kambing di puncak gunung berkata, “Siapakah khalifah yang shalih yang sedang memerintah manusia saat ini?” Padahal para penggembala itu tidak tahu menahu tentang peristiwa di kota, termasuk diangkatnya khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika hal itu ditanyakan kepada mereka, para pengembala itu menjelaskan, “Bila pemerintahan dipegang oleh seorang khalifah yang shalih, serigala dan singa tidak mengganggu kambing-kambing kami.”

Riwayat lain yang menguatkan kisah tersebut, adalah apa yang dituturkan oleh Hasan Al-Qasshar, “aku bekerja sebagai pemerah susu kaming pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada suatu ketika, aku melewati para penggembala, sedangkan ditengah-tengahgerombolan kambingnyaterdapat sekitar tiga puluh serigala. Karena sebelumnya aku belum pernah melihat serigala, aku mengira serigala itu adalah anjing. Akupun bertanya kepada para penggembala itu, ‘Wahai penggembala, untuk apakah anjing sebanyak itu?’ Mereka menjawab, ‘Wahai anak muda, ini bukan kawanan anjing, tetapi kawanan serigala.’ Aku berkata heran, ‘Subhanallah, apakah mereka tidak membahayakan kambingkambing engkau?’ Penggembala itu menjawab, ‘Wahai anak muda, apabila kepala sudah sehat, maka badan tidak akan rusak.’” Maksud dari kepala adalah kepala pemerintahan, yang waktu itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Begitulah keshalihan Umar bin Abdul Aziz. Maka, ketika Umar bin Abdul Aziz telah tiada, keadaannya pun berubah. Musa bin Ayyan mengisahkan, “Pada masa pemerintahan Khalifah Umarbin Abdul Aziz, demi Allah, kami menggembala kambing bersama serigala di suatu tempat. Hingga pada suatu malam serigala menyerang seekor kambing kami. Dengan ada peristiwa ini kami memperkirakan bahwa lelaki shalih yang diangkat menjadi khalifah telah mati. Ternyata, keesokan harinya memang benar, kami mendengar kabar bahwa Khalifah Umar bin Abdu Aziz telah meninggal dunia.”

Atas dasar semua itu, mengertilah kita mengapa orang sekelas Umar bin Khatab bias dengan ringan tidur di Masjid seorang diri. Karena masalah utamanya bukan terletak pada soal tidurnya itu sendiri, tetapi sesuatu yang ada di balik tidur tersebut. Sesuatu itu adalah jiwa yang penuh suluh keimanan. Bersinar terang memenuhi relung hati yang lapang. Yang cahayanya melahirkan rasa tentram, rasa damai dan aman, bahkan untuk orang-orang yang ada di sekitarnya . Wallahul Mustaan