BI Sulteng: Pertumbuhan Pangan Menurun Akibat Kerusakan Irigasi

oleh
Kepala Perwakilan BI Sulteng, Abdul Madjid Ikram didamping Manajer Fungsi Koordinasi dan Komunikasi Kebijakan, Kantor Perwakilan BI Sulteng, Rivo Mandey, saat menyampaikan kondisi perekonomian Sulteng triwulan II 2019, Rabu (14/08). (FOTO: MAL/RIFAY)

PALU – Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tengah mencatat terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulteng pada triwulan II Tahun 2019. Ekonomi Sulteng tumbuh sebesar 6,62% (yoy), melambat dibanding triwulan sebelumnya 6,98% (yoy). Realisasl ini berbeda dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya yang mengalami akselerasi pada triwulan II.

Menurut Kepala Perwakilan BI Sulteng, Abdul Madjid Ikram di Palu, Rabu (14/08), secara Lapangan Usaha (LU), perlambatan ekonomi Sulteng disebabkan kinerja pertanian, industri pengolahan dan perdagangan yang tumbuh lebih rendah dari triwulan sebelumnya. LU pertanian hanya tumbuh 3,23% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya 5,07% (yoy).

“Perlambatan ini disebabkan oleh pertumbuhan tanaman pangan terutama padi yang mengalami kontraksi pada triwulan laporan. Kerusakan irigasi akibat bencana di Kabupaten Sigi nampaknya cukup mempengaruhi penurunan kinerja sektor tersebut,” sebutnya.

Dia menambahkan, LU industri pengolahan juga mengalami perlambatan dari 12,64% (yoy) ke 6,86% (yoy). Hal ini disebabkan oleh kinerja ekspor hilirisasi nikel yakni hot-rolled-coiled (HRC) and cold-rolled-coiled (CRC) yang tidak sebesar triwulan sebelumnya.

“Selain itu kinerja LU perdagangan juga masih tumbuh relatif rendah yakni hanya 0,68% (yoy). Hal ini terutama disebabkan oleh kinerja penjualan barang tahan lama dan penjualan kendaraan bermotor yang belum maksimal seiring dengan tertahannya pertumbuhan konsumsi RT,” terang mantan Kepala Perwakilan BI Cirebon itu.

Di sisi lain, lanjut dia, terdapat beberapa LU yang justru tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. LU konstruksi tumbuh hingga 12,05% (yoy), jauh lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya 6,05% (yoy). Tingginya pertumbuhan konstruksi ini terkonfirmasi oleh konsumsi semen di Sulteng yang mencapai 221.578 ton, tumbuh 26,23 persen dibanding triwulan sebelumnya.

“LU administrasi pemerintahan juga tumbuh pesat dari 6,31 persen menjadi 19,11 persen. Tentunya ini ditopang oleh realisasi belanja APBD dan APBN yang sesuai polanya selalu lebih tinggi dibanding triwulan I,” sebutnya.

Dari sisi pengeluaran, lanjut dia, beberapa komponen yang menyebabkan perlambatan antara lain konsumsi RT, investasi/PMTB dan ekspor impor. Konsumsi RT hanya tumbuh 0,16% (yoy), melambat dibanding triwulan sebelumnya 1,38% (yoy). Meskipun terdapat fenomena THR dan gaji ke-13, sektor rumah tangga terindikasi menahan konsumsi yang terkonfirmasi dari meningkatny pertumbuhan DPK perseorangan hingga 17,31 % (yoy).

Sementara itu, investasi mengalami kontraksi 14,25% (yoy). Hal ini karena investor cenderung masih wait and see terhadap hasil pemilu pilpres 2019. Kinerja ekspor juga menurun dibanding triwulan sebelumnya. Nilai ekspor hilirisasi nikel & LNG masing-masing tercatat menurun 10,36% (qtq) dan 8,40% (qtq) pada triwulan laporan.

Di sisi lain, impor masih tumbuh tinggi hingga 53,57% (yoy), seiring kuatnya impor barang modal dan impor bahan baku industri hilirisasi nikel di Morowali.

Meskipun impor tumbuh tinggi dan ekspor tumbuh terbatas, net ekspor Sulteng masih menghasilkan surplus yakni sebesar USD 1,23 miliar pada semester l 2019.

“Inflasi Sulawesi Tengah pada Juli 2019 tercatat 4,40% (yoy), menurun dari Juni 2019 yakni 5,32% (yoy). Dari sisi volatile foods, penurunan inflasi disebabkan oleh mulai stabilnya permintaan pada komoditas cabai rawit dan daging ayam ras pasca lebaran,” katanya.

Namun di sisi lain, kata dia, tekanan inflasi inti sedikit meningkat yang didorong peningkatan biaya pendidikan dan harga emas.

“Kenaikan biaya pendidikan ini mengikuti pola musiman tahun seiring dengan masuknya periode ajaran baru, sedangkan naiknya harga emas didorong olah kenal an harga emas dunia pada bulan laporan,” tutupnya. (RIFAY)