BAWADIMAN DAN HAJI DAHLAN: Kisah Sekolah Favorit yang Hilang

oleh
Sosok Haji Dahlan dan keluarganya

DONGGALA pernah memiliki sekolah tingkat SLTA favorit di Sulawesi Tengah. Tapi sayang tidak sampai 10 tahun riwayatnya pun berakhir. Bukan karena ditutup, melainkan terbakar dan tak pernah terungkap penyebabnya. Padahal sekolah ini sempat menghasilkan puluhan guru sekolah dasar dan SLTP yang menyebar ke berbagai wilayah Sulawesi Tengah.
Itulah SGA (Sekolah Guru Atas) negeri pertama yang didirikan di Sulawesi Tengah awal tahun 1957.

Dalam riwayatnya, pembangunan sekolah itu dilakukan secara swadaya di kawasan yang kini menjadi lokasi SMK Negeri 1 Banawa. Guru yang mengajar berasal dari Yogyakarta, di antara perintisnya adalah R. Bawadiman, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) saat tugas PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa). Sebuah program pemerintah dengan menyebar mahasiswa ke seluruh wilayah Indonesia di luar Pulau Jawa untuk pengajar dan  mengatasi kekurangan guru masa-masa awal kemerdekaan RI.

Ketika Bawadiman pertama kali datang ke Donggala, langsung melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat. Selain dengan Kepala Swaparaja Banawa ketika itu Laparenrengi Lamarauna, tersebut pula orang yang didekati di antaranya Thaha Bachmid pedagang yang dikenal pesepak bola andal di Donggala dan Haji Dahlan tokoh masyarakat cukup terpandang dan mapan secara ekonomi. Hal ini pernah diceritakan Bawadiman di Majalah HISTORIA (2014) tentang sosok Haji Dahlan seorang pengusaha.

Siapa sebenarnya Haji Dahlan? Dia adalah keturunan diaspora suku Bugis di Pagatan, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan yang kemudian merantau ke Sulawesi Tengah. Kali pertama masuk dan tinggal di Desa Labean (Kecamatan Balaesang), Pantai Barat Kabupaten Donggala sekitar awal dekade 1930-an.

Menurut Hj. Nuraini (75 tahun), salah satu anak dari H. Dahlan, saat ayahnya bermukim di Labean memiliki usaha dagang tembakau hitam lempeng dengan cara transaksi barter buah kelapa milik penduduk di Labean. Setiap buah kelapa sudah terkumpul banyak kemudian diolah jadi kopra untuk dijual di kota Donggala.

Usaha itu dilakoni bertahun-tahun hingga menikah dengan seorang wanita di Labean yang kemudian dikaruniai tiga orang anak (Husen, Nuraini dan Hayati). Agar usahanya lebih berkembang, setelah kemerdekaan Indonesia, Haji Dahlan bersama keluarganya pindah ke kota Donggala dengan tetap berdagang kopra dan berbagai bahan makanan pokok.

“Saking banyaknya barang dagangan disimpan dalam rumah, sehingga ruangan jadi sempit penuh tumpukan beras, gula, terigu dan lainnya. Orang tua saya sebagai penyedia barang makanan pokok yang langganannya itu pemilik toko yang ada di dalam kota Donggala maupun dari luar, jadi semacam agen barang,” kenangnya.

Tempat tinggal keluarga Haji Dahlan di Donggala semula hanya menyewa rumah dan beberapa kali pindah tempat. Setelah cukup mapan secara ekonomi akhirnya membeli rumah yang cukup megah pada zamannya dan hingga kini tetap ditinggali anak dan cucu-cucunya. Rumah ini punya nilai sejarah cukup penting karena dibeli dari pemilik pertama, Laparenrengi Lamarauna raja terakhir yang memerintah Kerajaan Banawa (1948-1959).

Kini, rumah tersebut pada bagian teras dan halaman telah disulap jadi sebuah café yang dikelola salah satu cucu Haji Dahlan. Haji Dahlan meninggal dunia di Donggala tahun 1992 dalam usia 80 tahun. Sedangkan Bawadiman meninggal dunia di Jawa pada Maret 2017 dalam usia 86 tahun.
Terkait kehadiran guru-guru dari Yogyakarta dan Makassar di Donggala dalam kenangan Hj.

Hayati (77 tahun) dan Nuraini (75 tahun) sangatlah berarti bagi kemajuan pendidikan berikutnya. Sebab walau tidak lama berjalan, SGA Donggala banyak melahirkan guru dari kalangan putra-putri daerah Donggala dan sekitarnya. Sebelumnya kebanyakan yang jadi guru di Donggala berasal dari Sulawesi Utara.

Semangat dan kegotongroyongan masa lalu sangat semarak dengan datangnya guru-guru dari Pulau Jawa untuk mendidik anak-anak Donggala.

Setelah Bawadiman mengajar lebih awal di SGA kemudian disusul beberapa rekan PTM yang juga dari UGM yaitu Hadijono, Utoyo, Abubakar Makarau dan ditambah guru bantu yang ada di Donggala. Sedangkan dari Makassar adalah Syahrul yang kemudian menjadi Kepala SGA Donggala, memiliki jasa besar bagi pendidikan di Donggala.

Kelak Syarul menikah dengan Andi Asma Nurdin, adik kandung dari Andi Cella Nurdin salah satu tokoh politik Sulawesi Tengah.

Hingga kini sebuah album tua warna hitam putih masih tersimpan di rumah almarhum Haji Dahlan berisi foto-foto Bawadiman bersama istri dan seorang anaknya serta foto  murid-murid SGA.

“Keakraban keluarga kami dengan Bawadiman itu cukup lama terjalin, bahkan setelah tidak lagi jadi guru. Beberapa puluh tahun kemudian pernah tiba-tiba datang ke Donggala sekedar jalan-jalan selama beberapa hari sehingga sempat reuni kecil-kecilan dengan mantan murid-muridnya. Saat dia datang sudah berstatus dokter,” cerita Nuraini pada penulis.

Hayati dan Nuraini, keduanya termasuk murid Bawadiman di SGA masing-masing tamatan angkatan kedua dan ketiga. Kelak berprofesi guru sekolah dasar di Donggala dan pernah menjadi guru bantu di Cung Hwa School Donggala awal dekade 1960-an sebelum tutup tahun 1966.
Tamatan SGA Donggala angkatan pertama tahun 1960 yang masih diingat oleh Nuraini di antaranya Siti Amas Daeng Sute, Belahan Moh. Taing, Andi Asma Nurdin, Alimin Lasasi dan Felman (yang semuanya telah meninggal dunia). Beberapa nama yang sebagai angkatan kedua dan ketiga yaitu Sabiha Maranua, Gamar Lapasere, Ahmisa, Abdul Azis Randroe, Surudji Labilla, Latulli Laski, Umiran dan Marni. Sebetunya masih banyak lagi, Cuma saja Hayati dan Nuraini tidak lagi mengingat semua teman sekolahnya dulu.

Itulah sepenggal riwayat sebuah sekolah yang telah hilang dalam sejarah. Hayati dan Nuraini, adalah di antara sedikit saksi yang masih hidup dan tetap ia kenang. Menurutnya, meskipun sekolah itu tidak lama berjalan, tapi pernah menghasilkan puluhan guru SD dan SLTP yang menyebar di Sulawesi Tengah. Tamatnya riwayat SGA Donggala ketika terjadi kebakaran tanpa pernah terungkap penyebabnya saat kejadian sekitar tahun 1963. Praktis sejak itulah seluruh aktivitas belajar dipindahkan ke Palu dengan sebutan SGA Palu hingga berubah nama SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang akhirnya sekolah ini ditutup sejak awal tahun 1990 saat dibukanya jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) di Universitas Tadulako. (JAMRIN ABUBAKAR)

loading...