Bank Sulteng Belum Sahuti Pembuatan Patung Soekarno di Palu

oleh
Pertemuan antara pihak Bank Sulteng dan DPRD, di ruang kerja Ketua DPRD Sulteng, Selasa (14/01). (FOTO: RIFAY)

PALU – Pihak Bank Sulteng menyambut positif usulan Anggota DPRD Sulteng, Yahdi Basma, agar dana Coorporate Social Responsibility (CSR) dibangunkan monumen yang bertuliskan nama-nama korban likuifaksi di dua lokasi di Kota Palu. Dua lokasi yang dimaksud adalah Kelurahan Petobo dan Balaroa.

Monumen yang dimaksud serupa dengan yang ada di Bali, bertuliskan nama-nama korban yang meninggal akibat ledakan bom.

“Data nama-nama korban bisa diambil di Dinsos,” usul Yahdi saat menerima kunjungan  pihak Bank Sulteng di ruang kerja Ketua DPRD, Selasa (14/01).

Menurut Yahdi, ide tersebut dalam rangka mendukung pembangunan titik destinasi ekowisata sederhana di minimal dua titik venue terdampak bencana.

Di kesempatan itu, Yahdi juga sempat menyinggung rencana pengadaan Patung Soekarno yang terbuat dari bahan tembaga di Taman GOR. Menurut Yahdi, sesuai informasi yang diperolehnya, dana pembuatan patung tersebut berasal dari CSR Bank Sulteng pada program pemberdayaan ekonomi korban bencana Padagimo.

“Seharusnya kita lebih melihat pada program lain yang lebih menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi korban bencana ketimbang sekadar bikin patung di tengah korban bencana yang masih terkatung,” ujarnya.

Direktur Utama (Dirut) Bank Sulteng, Rahmat Abdul Haris merespon positif ide tersebut. Menurutnya, ide itu memang baru terlintas dan sangat baik untuk mengenang terjadinya bencana besar di Kota Palu dan sekitarnya.

“Kita akan bicarakan ide ini,” katanya.

Rahmat juga membantah perihal rencana pembuatan patung yang dibiayai dari CSR Bank Sulteng.

“Memang ada niat dari Pemkot untuk membuat patung di taman gor. Ada diskusi dengan kami meminta difasilitasi, tapi kita belum jawab,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Komisaris Bank Sulteng, Karim Hanggi. Menurutnya, harga pembuatan patung mencapai angka Rp3 miliar, sementara CSR Bank Sulteng sendiri hanya Rp2 miliar, sehingga tidak memungkinkan.

Di kesempatan yang sama, Ketua DPRD Sulteng, Nilam Sari Lawira mengingatkan soal relaksasi bagi debitur dari kalangan korban bencana dan beberapa soal utilitas, koneksitas serta profesionalitas Bank Sulteng sebagai bank milik rakyat Sulteng.

Sekaitan dengan rencana pembuatan patung, Gubernur Sulawesi Tengah selaku Komisaris Pengendali PT Bank Sulteng, Longki Djanggola, mengatakan menyangkut penggunaan dana CSR dan operasional perbankan akan dilaporkan pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Sulteng.

Tambah Longki Djanggola, penggunaan dana CSR Bank Sulteng tentu berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh perbankan dan sesuai dengan keinginan pemkab/kota dimana dana CSR tersebut akan digunakan.

“Mungkin pemkot minta Bank Sukteng menjdi sponsor atas pembangunan patung tersebut. Pemkot juga berhak untuk menerima CSR atau bantuan-bantuan lain dari Bank Sulteng karena Kota Palu juga punya saham di Bank Sulteng,” kata Longki Djanggola seperti yang dilansir dari kabarselebes.id.

Diwartakan sebelumnya, patung berbahan tembaga Presiden RI pertama, Ir Sukarno tidak lama lagi akan berdiri kokoh di tengah lokasi Taman GOR Kota Palu, Jalan Juanda. Patung setinggi 8 meter, ditambah dudukan setinggi 2 meter lebih itu akan berdiri di lokasi yang akan diberi nama “Monumen Mutiara Bangsa”.

Saat ini, proses pembuatan patung tengah dikerjakan oleh pengrajin tembaga di pusat pembuatan Nuansa Gallery Tumang Tegalrejo, tepatnya di RT01/1X Lepogo, Kabupaten Boyolali.

Dua hari lalu,  pihak Bank Sulteng bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Palu telah mengunjungi tempat tersebut. Kunjungan juga dilakukan pada hari berikutnya, Rabu (08/01), ke Studio Satiaji Mandiri, Jalan Mangunharjo, Yogyakarta.

Pihak Bank Sulteng diwakili Masha dan stafnya, sedangkan dari Pemkot Palu diwakili Sekretaris Kota (Sekkot) Palu, Asri L Sawayah, Kadis PU Iskandar Arsyad, Kepala Bappeda Arfan serta staf Humas.

Menurut Sekkot, kunjungan langsung tersebut guna memastikan kualitas dan bahan tembaga yang akan dibuat untuk patung Ir Soekarno agar benar-benar berkualitas dan sesuai dengan karakter dari sosok Presiden pertama RI tersebut.

Kata dia, keberadaan patung tersebut akan menjadi simbol sejarah yang bisa diketahui para siswa dan mahasiswa serta masyarakat Kota Palu dan sekitarnya.

“Tak hanya itu saja, keberadaan patung Ir Soekarno juga bisa menjadi salah satu daya tarik sejarah dan juga sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi. Sebab tak hanya itu, di bawah patung juga sekaligus dibuatkan diorama sejarah perjuangan Ir Soekarno dan para tokoh pejuang lainnya,” ujarnya.

Sejarah telah mencatat bahwa Presiden RI pertama, Ir. Soekarno pernah ke Palu dan memberi nama Bandara Mutiara Palu.

Soekarno datang ke Palu pada 10 Oktober 1957. Dia mendarat di Bandara Masovu, Palu. Soekarno lantas mengubah namanya menjadi Bandara Mutiara (RIFAY)

Iklan-Paramitha