Bambarano, Sajian Eksotis di Pantai Barat Donggala

oleh

Oktis Triana Dewi, gadis belia berusia 19 tahun itu nampak sangat asyik menikmati hangatnya berendam di laut, Senin pagi. Setelah kurang lebih setengah jam berendam, dia pun berinisiatif membangunkan rekannya untuk sama-sama menikmati indahnya matahari yang belum lama keluar dari peraduannya. Kala itu, warnanya memang sedang kemerah-merahan.

Tak mendapat respon dari dalam tenda berwarna orange itu, Oktis pun kembali berendam di laut.

Menikmati air laut dalam sorotan hangat mentari adalah suguhan menarik, setiap paginya di Pantai Bambarano.

Letaknya memang terbilang agak jauh dari Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Berada di poros Palu-Tolitoli, dengan jarak sekitar 150 kilometer. Tepat di Desa Sabang, Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala, tak jauh dari tugu di persimpangan jalan.

Pantai Bambarano memang menawarkan berbagai kecantikan alam, mulai dari pasirnya yang begitu putih ditambah dengan sajian pemandangan deretan pulau kecil yang mengelilingi.

Belum lagi, di kawasan wisata yang luasnya tak kurang dari satu hektar itu, juga diisi dengan berbagai jenis pohon khas pesisir yang selain berfungsi memberikan udara sejuk bagi pengunjung di waktu pagi, juga meneduhkan dari teriknya mentari di siang hari.

Tak jarang, jika pantai sedang sepi, para pengunjung secara tak sengaja akan bertemu dengan kawanan kera liar yang mencari makanan di pesisir pantai.

Bahkan, tidak seperti pantai-pantai pada umumnya, di Bambarano tidak akan didapati lumpur, meskipun berenang hingga ke jarak 50 meter. Sebaliknya, hanya ada dedaunan menguning yang gugur dari pepohonan.

Meski sering dijajaki kaki pengunjung dari berabagai daerah, Pantai Bambarano tetap terlihat eksotis. Pasang surutnya air yang berubah-ubah setiap harinya, juga menjadi kesan tersendiri bagi pengunjung untuk tak bosan-bosannya ke tempat itu.

Pantai Bambarano juga bukan hanya dikenal akan gulungan ombaknya yang mungil, namun juga karena adanya gugusan batu karang hitam yang menjulang hingga sepuluh meter. Daya tarik itu pula yang membuat banyak pengunjung sengaja datang untuk menikmati heningnya malam Pantai Bambarano. Ada juga yang datang sekadar beristirahat di puncak batu, sekaligus menikmati pemandangan ke arah teluk.

MURAH MERIAH

Pesona dan daya tariknya yang kuat, membuat warga setempat berinisiatif melengkapi berbagai fasilitas di kawasan pantai.

Untuk masuk ke area pantai saja, pengelola mengenakan tarif yang terbilang sangat murah bagi pengunjung. Jika hanya datang untuk beberapa jam saja, cukup merogoh kocek sebesar Rp2 ribu per orang. Sementara yang datang untuk bermalam hanya diberi tarif Rp5 ribu per orang.

Tak hanya itu, jika di Pantai Tanjung Karang ada taksi laut yang siap mengantarkan pengunjung untuk bekeliling menikmati pesona pantai, maka di Bambarano juga demikian.

Di sana, akan ditemui sekelompok nelayan yang menambatkan perahunya, sekitar 20 meter dari bibir pantai. Perahu-perahu itu siap mengantar pengunjung menikmati deretan pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya.

Hanya dengan Rp10 ribu, pengunjung sudah bisa berputar-putar selama satu jam ke Pulau Salur dengan jarak tempuh 15 menit.

Di Pulau Salur sendiri terdapat air tawar yang sangat jernih. Bisa dimanfaatkan pengunjung untuk berbilas setelah berendam di air asin.

Bagi yang tidak sempat membawa bekal dari rumah, juga tidak perlu khawatir akan kelaparan. Sebab, di pantai ini juga ada pedagang-pedagang kecil yang menjajakan makanan, seperti burasa, nasi kuning, mie dan kopi.

Menurut warga setempat, Muhammad Fajar (20), beberapa fasilitas seperti cottage, gazebo, lahan parkir dan WC umum, baru diadakan setahun lalu.

“Semua diperuntukan bagi pengunjung. Makanya jangan ragu datang ke Bambarano,” ujar Fajar, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, WC umum yang ada hanya berfungsi jika ada mobil tangki air bersih yang mengisi beberapa drum.

“Jadi satu drum itu dibeli Rp25 ribu. Itu dipakai oleh pengunjung untuk bilas gratis, tapi kalau mobil tangkinya tidak beroperasi maka biasanya ambil air bersih di Pulau Salur dan dijual kembali Rp2.500 per jergennya,” urai Fajar.

Satu hal yang agak disesalkan Fajar. Pasalnya, setiap kali ditinggalkan pengunjung, sepanjang pantai pasti dihiasi tumpukan sampah plastik.

“Padahal kita sendiri selalu berharap agar banyak objek wisata seperti Pantai Bambarano bisa terus terpelihara hingga ke generasi berikutnya. Namun sepertinya hal tersebut tidak akan terwujud jika kita sendiri tak turut serta merawatnya,” katanya. (FALDI)