Asgar Sedih, Hasil Penjualan Gabah di Parimo Sangat Rendah

oleh
Asgar Ali Djuhaepa saat menemui warga Parigimpu yang sedang bergotong royong membangun dapur. (FOTO: IST)

PALU – Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Tengah, melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah yang ada di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Rabu (13/03).

Salah satu unsur Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu berkesempatan bertemu dengan masyarakat yang ada di Dusun III Desa Parigimpu, Parigi Barat.

Di sana, Asgar menyampaikan beberapa program khususnya di bidang pertanian.

“Karena saya melihat dari beberapa Presiden sudah digelontorkan anggaran untuk pertanian yang besar dan sekarang di jaman Jokowi jauh lebih besar lagi. Tapi yang terlihat kenapa petani tidak juga sejahtera,” tutur Asgar kepada MALOnline, Kamis (14/03).

Mantan Ketua DPW PPP Sulteng itu pun menyempatkan diri berdialog dengan warga yang rata-rata berprofesi sebagai petani sawah.

Dari hasil dialog tersebut, Asgar mengaku sedih mendapati fakta rendahnya hasil pertanian masyarakat.

“Saya sangat sedih, ketika saya tanya mereka, hasil yang diperoleh dalam satu kali masa panen, sudah paling banyak 3 ton gabah, bahkan rata-rata hanya dapat 1 ton per hektar. Rendah sekali. Terus terang sedih mendengarkan keluhan petani yang susah payah tapi hasil yang didapatkan hanya seperti itu. Bagaimana petani kita bisa sejahtera dengan hasil seperti itu,” ungkap Asgar.

Padahal, kata dia, di lahan seluas kurang lebih 10 hektar miliknya di Karawang yang menjadi tempat pelatihan untuk Persatuan Tani Nusantara (Pertanu), hasil yang diperoleh dalam satu kali masa panen, paling kecil bisa mencapai 5 sampai 6 ton produksi gabah per hektar. Bahkan ada yang sampai 9,5 ton.

Asgar saat bertatap muka bersama masyarakat Desa Lemusa. (FOTO: IST)

“Jadi kenapa saya pengen sekali petani sejahtera, itulah tujuan saya kalau bisa duduk di DPR. Itu yang akan saya perjuangkan, yaitu kesejahteraan petani, di antaranya bagaimana memprogramkan untuk memberi pelatihan kepada petani agar produksinya bisa meningkat. Tidak usah sampai 9,5 ton per hektar, minimal 6 ton, petani sudah bahagia. Kalau kurang dari situ, misalnya 5 ton saja, kecil sekali keuntungan yang didapat,” tambahnya.

Asgar melihat, salah satu permasalahan dari rendahnya hasil pertanian tersebut adalah mengabaikan gizi tanah sendiri.

“Mungkin terus menerus dihajar dengan pupuk kimia, lama-lama tanah itu tidak punya gizi lagi,” ujarnya.

Olehnya, kata dia, pemerintah tidak boleh lagi hanya menjalankan program mekanisasi tani, tapi bagaimana memberikan pendidikan bertani yang baik dan profesional sesuai standar yang dibutuhkan. Mulai dari pengolahan tanahnya, penanganan pascapanen, bagaimana pengairan dan racikan pupuknya.

“Tentunya pelan-pelan kita harus meninggalkan pupuk kimia ke pupuk alami. Walaupun memang hasilnya tidak terlalu besar tapi pelan-pelan gizi tanah akan meningkat,” ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, yang perlu diperhatikan dalam menyejahterakan petani adalah pemasaran. “Kalau kita bisa berjuang untuk petani, maka paling tidak pelan-pelan kebutuhan impor beras itu bisa ditekan. Jangan sampai, pada masa musim panen, harganya justru turun, kalau bisa harus tetap normal dengan cara mempertahankan harga. Mungkin bisa melalui koperasi sehingga harga tetap stabil, baik saat masa panen ataupun pascapanen. Jadi saya melihat ini harus diubah, agar petani bisa sejahtera,” imbuhnya.

Kehadiran Asgar disambut antusias masyarakat. Mereka bahkan mengaku senang  karena baru kali itu dikunjungi caleg dari DPR RI.

“Sejak dulu belum ada yang mau mendengar langsung keluhan-keluhan kami terkait bantuan dari pemerintah seperti program keluarga harapan maupun bantuan bedah rumah untuk rutilahu (rumah tidak layak huni) dan bantuan untuk pertanian,” kata salah satu warga. (RIFAY)