Amanah Mulia

oleh
Ilustrasi

Bayangkanlah bagaimana repot dan sesaknya mengurus manusia lebih dari 200 ribu. Mengurus beberapa orang saja kita kadang-kadang mumet dan suntuk lantaran berseliwerannya keingingan dan kemauan. Namun bagi petugas dan pelayan haji yang biasa disebut PPIH dilakoni dengan sabar, tekun dan tentu saja sepenuh ikhlas dfan sepenuh asih.

Itulah yang diperagakan PPIH  ditanah suci seperti yang diwartakan dan menjadi Headline Media Alkhairaat kemarin. Pilihan menempatkan berita itu pada front line semata untuk memberikan apresiasi dan dukungan serius terhadap pelayan tamu Allah itu.  Kita memberikan support dan jempol dua ibu jari  ini karena alih-alih menggerutu menjalan tugas mulia ini, dia juga meninggalkan keluarga dan kerabatnya selama berbulan-bulan. Tak banyak orang yang bisa melakoni pekerjaan ini.

Berangkat haji bukan perkara gampang. Sungguh sulit, karena itu perjalanan haji sangat tepat jika dikatakan yang berhak memberangkatkan seseorang sampai ke Baitullah itu hanya Allah. Ada saja rintangannya, misalnya ada bus rombongan haji yang tabrakan, seperti di Brebes, ada pula yang harus menunggu lama, karena pesawat delay dan masih banyak hambatan lainnya, terutama saat di Tanah Suci.

Bahkan, untuk mengumpulkan uang untuk melaksanakan haji pun sulit. Walau kita punya uang yang cukup, bahkan harta berlimpah, belum tentu Allah memberikan jalan ke rumah-Nya. Namun, ada pula yang merasa tidak mampu berangkat (seperti pemulung, pedagang sayur kecil-kecilan, tukang parkir dan pekerjaan rendah lainnya), namun karena izin Allah, dia diberangkatkan menuju pintu rumah-Nya.

Itulah rahasia ibadah haji, kekuasaan Allah terlihat pada diri JCH. Makanya JCH tidak boleh sombong, atau takabur, bisa-bisa sesat di Masjidil Haram atau di wilayah lainnya di Tanah Suci.

Dalam konteks ini  petugas haji sejatinya juga  menjalankan tugasnya dengan ikhlas. Tidak sedikit pejabat di Kementerian Agama yang terseret kasus dana haji atau terkait pelaksaan haji. Mulai dari menteri sampai staf biasa pun pernah terseret kasus haji. Bahkan pengelola haji plus, walau mereka bukan pemerintah, tidak sedikit yang terseret ke jeruji penjara, gara-gara mengakali uang haji (milik JCH). Artinya uang haji ini memang tidak boleh diutak-atik, lantaran sudah diniatkan oleh JCH untuk ibadah haji.

Belakangan ini pemerintah tergiur akan menggunakan dana haji yang jumlahnya Rp95 triliun lebih, untuk diinvestasikan ke sektor infrastruktur pembangunan, secara logika memang menguntungkan, baik bagi JCH maupun pemerintah dan bermanfaat bagi umat, namun kita khawatir penggunaan dana haji ini akan menemukan masalah. Kita tidak bisa hanya belajar dari Malaysia yang sukses menggunakan dana haji, sebab SDM dan kultur kita berbeda. Untuk itu, perlu pertimbangan matang, soal dana haji itu digunakan untuk infrastruktur. Jangan tergesa-gesa.

Masalah serius adalah manajemen penyelenggaraan haji perlu dibenahi total. Kementerian Agama mesti membenahi sistem penyelenggaraan haji sehingga tidak membuat antrean begitu panjang. Di Sulawesi Selatan, yang merupakan daerah asal sebagian besar calon jemaah haji ilegal di Filipina, antrean mencapai hampir 30 tahun. Ironinya, masih ada orang yang naik haji berkali-kali.

Terakhir kita mendukung statetemen  Menteri Agama Lukman  Hakim Saifuddin mengungkapkan bahwa menjadi petugas haji adalah sebuah kehormatan dan kemuliaan. Meski banyak yang menginginkan, tidak  semua orang bisa mendapatkan kehormatan itu.
“Karenanya, sudah seharusnya para petugas haji mensyukuri kehormatan berkesempatan melayani tamu Allah, di rumah Allah. Maka berbahagialah. (DARLIS MUHAMMAD)