Aktivis Ini Serukan Pesan Perdamaian di Tahun Politik

oleh
Moh. Rizal

TOUNA – Di tahun politik menjelang Pemilu serentak (pileg dan pilpres) tahun 2019 ini, berbagai macam tindakan dilakukan segelintir orang untuk memperkeruh suasana sehingga menjadi tidak kondusif.

Tindakan yang dimaksud bisa bermacam-macam, seperti menyebarkan berita hoax melalui media sosial maupun propaganda lainnya, atau menunggangi momen politik dengan isu-isu yang berbau Suku, Agama dan Ras (SARA).

Meredam tindakan-tindakan ini, tentu saja tidak bisa hanya dilakukan oleh institusi tertentu saja, misalnya Polri atau penyelenggara Pemilu (KPU dan Bawaslu). Di samping terbatasnya jumlah dan sumber daya yang ada, penyebaran berita hoax atau bohong juga tidak setiap saat bisa dipantau oleh institusi tersebut.

Untuk itu, butuh keterlibatan elemen masyarakat atau individu. Paling tidak dengan menyerukan pesan-pesan perdamaian di kalangan masyarakat.

Hal inilah yang dilakukan salah satu tokoh pemuda di Kabupaten Tojo Una-Una (Touna), Moh. Rizal.

Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang akrab disapa Ical ini, mengaku prihatin dengan perkembangan situasi yang ada sekarang ini, termasuk banyaknya pihak yang saling menyerang di media sosial.

“Ada beberapa oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja menjadikan momen Pemilu serentak (Pileg dan Polpres) ini sebagai sarana untuk memecah belah,” kata Ical, belum lama ini.

Tujuannya, kata dia, adalah untuk mengganggu stabilitas keamanan yang selama ini sudah terpelihara dengan baik.

Dia pun mengajak kepada masyarakat, khususnya pemuda untuk bijak bermedsos, bisa menyaring isu-isu yang dihembuskan oleh segelintir orang.

“Harus dicari dulu kebenaran berita yang disebarkan, sebelum menyebarkan lagi ke orang lain,” katanya.

Selain itu, dia juga berharap agar tidak mudah terpancing dengan isu berbau SARA yang tujuannya hanya untuk memecah belah.

“Kalau kita terpancing dengan isu itu, maka pasti kita akan terbelah dan suasana yang selama ini sudah terjaga dengan baik, akan menjadi tidak aman dan nyaman,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, perpecahan kadang ditimbulkan oleh perbedaan pilihan politik. Padahal, kata dia, seharusnya perbedaan pilihan itu disikapi dengan santun sebab kita sama-sama hidup dalam negara yang sama.

“Perbedaan pilihan politik tidak boleh menjadikan kita saling terpecah belah atau saling memusuhi. Sebab perbedaan pilihan adalah hal yang biasa dalam demokrasi. Mari kita sama-sama menciptakan suasana yang aman, tentram dan damai agar perhelatan demokrasi kita ini berjalan lancar dan sukses sebagaimana yang diharapkan bersama,” tutupnya. (RIFAY)