AJI Indonesia Bantu Alat Kerja Jurnalis

oleh
Penyerahan peralatan jurnalistik di Sekretariat AJI Kota Palu, Ahad (13/01). (FOTO: MAL/IKRAM)

PALU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyalurkan bantuan peralatan kerja bagi jurnalis yang terdampak bencana alam di Kota Palu.

Bantuan itu merupakan kerja sama AJI Indonesia dan Canal France Internasional (CFI) Media Development Francis, sebagai upaya recovery.

Bantuan itu diberikan kepada sejumlah wartawan media cetak dan online, berupa 13 unit laptop, lima unit kamera dan enam unit handphone.

Bantuan tersebut diserahkan langsung Pengurus AJI Indonesia, Mustakim didampingi Ketua AJI Palu, Muhammad Iqbal, di Sekretariat AJI Palu, Ahad (13/01).

Ketua AJI Palu, Iqbal, mengatakan, bantuan itu diharapkan dapat menunjang kerja-kerja jurnalis di lapangan. Penerima bantuan, menurutnya, terpilih setelah melalui proses asessmen yang cukup panjang.

“Assessment untuk menentukan penerima ini kita lakukan kurang lebih sebulan lamanya,” kata Iqbal.

Namun demikian, kata Iqbal, penerima bantuan nantinya diminta berkontribusi dalam bentuk karya tulis, menyangkut proses penanganan bencana di Sulteng yang tengah berjalan.

“Karena menulis adalah keahlian kita bersama. Ini kewajiban penerima bantuan yang akan diikat dalam kontrak,” jelasnya.

Sementara Mustakim, mengatakan, AJI Indonesia pada dasarnya tetap mensupport AJI Palu pascabencana, salah satunya dengan bantuan peralatan kerja jurnalis.

Jauh sebelumnya, AJI Indonesia kata dia, juga telah memberi dukungan dengan membuka redaksi Kabar Sulteng Bangkit. Tujuannya untuk mengakomodir para jurnalis yang belum dapat bekerja lantaran medianya belum beroperasional pascabencana.

“Perhatian AJI Indonesia bahkan kita berikan sehari pascabencana. Sebenarnya kita pingin bantu lebih banyak, tapi anggarannya terbatas,” katanya.

Dia berharap, bantuan peralatan kerja itu bisa membangkitkan semangat jurnalis Palu dalam bekerja, khususnya dalam mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah dalam hal penanganan bencana.

“Utamanya memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi nanti,” katanya.

Sebab, kata dia, sejauh ini porsi berita terkait kebencanaan dan penanganan, mulai berkurang ketimbang berita dengan isu yang sifatnya lebih umum, bahkan cenderung lebih memperkuat porsi pemerintah. Padahal, kata dia, masih banyak informasi yang perlu dikembangkan, utamanya dari perspektif penyintas.

Mustaqim menjelaskan, pengawasan proses rehabilitasi dan rekonstruksi paska bencana teramat penting dilakukan dan sepanjang yang ia ketahui, pengawasan itu masih minim dilakukan.

“Semoga bermanfaat bagi jurnalis dan masyarakat secara umum. Tapi ingat, jangan dijual,” pesannya. (IKRAM)